(Business Lounge – Global News) Merck memasuki tahun baru dengan cerita yang agak kontras. Pendapatan kuartal keempat tumbuh solid, didorong penjualan obat andalan yang masih kuat di pasar global. Akan tetapi, manajemen memberi sinyal bahwa pertumbuhan laba bakal melambat karena perusahaan sedang agresif menggelontorkan dana untuk akuisisi dan pengembangan portofolio baru. Laporan Reuters menggambarkan langkah ini sebagai fase investasi besar yang sengaja diambil untuk menjaga mesin pertumbuhan jangka panjang tetap hidup.
Dalam laporan keuangannya, Merck mencatat kenaikan penjualan berkat performa sejumlah terapi utama, terutama di bidang onkologi. Obat kanker yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan masih menunjukkan permintaan tinggi di Amerika Serikat dan Eropa. Data yang dikutip Bloomberg menyebut lonjakan volume penjualan memberi bantalan kuat bagi kinerja akhir tahun, menciptakan ruang bagi perusahaan untuk bergerak lebih agresif di sisi ekspansi.
Namun pasar saham tidak selalu menyukai strategi yang mengorbankan laba jangka pendek. Ketika manajemen mengumumkan rencana belanja akuisisi yang lebih besar, sejumlah investor langsung menyoroti potensi tekanan margin. Merck sedang berusaha mengisi celah masa depan, terutama karena paten beberapa produk utama bakal menghadapi persaingan generik dalam beberapa tahun mendatang. Analisis dari The Wall Street Journal menyebut situasi ini sebagai upaya merombak portofolio sebelum sumber pendapatan lama mulai kehilangan eksklusivitas.
Langkah berburu perusahaan bioteknologi bukan hal baru bagi raksasa farmasi. Dalam beberapa tahun terakhir, industri kesehatan global dipenuhi transaksi bernilai miliaran dolar. Merck ikut terjun dalam gelombang tersebut, mencari kandidat obat yang punya potensi blockbuster berikutnya. Menurut pengamat yang dikutip CNBC, strategi akuisisi sering dipilih karena riset internal membutuhkan waktu panjang dan biaya besar, sementara membeli pipeline siap uji klinis bisa mempercepat pertumbuhan.
Walau begitu, belanja besar selalu membawa risiko. Integrasi perusahaan baru membutuhkan waktu, dan tidak semua kandidat obat berhasil lolos tahap uji akhir. Pasar farmasi dikenal keras; satu kegagalan uji klinis dapat menghapus valuasi yang sebelumnya terlihat menjanjikan. Beberapa analis yang diwawancarai Financial Times menilai Merck sedang memainkan permainan berani, mencoba menyeimbangkan kebutuhan inovasi dengan tekanan dari pemegang saham yang menginginkan stabilitas laba.
Di tengah dinamika tersebut, manajemen Merck menekankan bahwa perlambatan pertumbuhan laba bukan tanda pelemahan bisnis inti. Mereka menyebut biaya akuisisi sebagai investasi strategis yang dirancang untuk memperluas portofolio terapi di bidang imunologi, vaksin, dan penyakit langka. Perspektif ini didukung oleh catatan Barron’s, yang menilai perusahaan sedang membangun fondasi baru agar tidak terlalu bergantung pada satu produk saja.
Bagi investor lama, perubahan arah ini terasa seperti transisi dari fase panen menuju fase penanaman ulang. Selama bertahun-tahun, Merck menikmati lonjakan profit berkat keberhasilan satu atau dua obat unggulan. Kini, ketika persaingan makin ketat dan regulasi harga obat semakin menjadi sorotan di berbagai negara, diversifikasi pipeline terlihat sebagai pilihan rasional. Namun langkah tersebut juga berarti laba bersih mungkin bergerak lebih lambat dalam waktu dekat.
Reaksi pasar cenderung campuran. Sebagian analis melihat rencana akuisisi sebagai sinyal keberanian, sementara lainnya menganggapnya sebagai tanda bahwa perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan baru secepat mungkin. Catatan riset yang dikutip MarketWatch menyebut valuasi saham Merck kini dipengaruhi oleh ekspektasi keberhasilan integrasi akuisisi, bukan sekadar kinerja penjualan obat yang sudah mapan.
Di luar angka finansial, strategi Merck mencerminkan perubahan lebih luas di industri farmasi global. Banyak perusahaan besar kini beralih dari model pengembangan tunggal menuju ekosistem kolaborasi dan pembelian startup bioteknologi. Pendekatan ini dianggap lebih adaptif terhadap inovasi ilmiah yang berkembang cepat, terutama di bidang terapi genetik dan imunoterapi.
Cerita Merck memperlihatkan bagaimana perusahaan farmasi harus terus beradaptasi agar tidak terjebak dalam ketergantungan produk lama. Pendapatan yang tumbuh memberi ruang bernapas, tetapi keputusan membelanjakan miliaran dolar untuk akuisisi mengubah arah ekspektasi laba. Investor yang terbiasa melihat grafik naik stabil kini harus menerima ritme yang lebih bergelombang.
Apakah strategi ini bakal membuahkan hasil? Banyak bergantung pada keberhasilan pipeline baru yang sedang dibangun. Jika akuisisi menghasilkan terapi revolusioner, perlambatan laba saat ini bisa terlihat sebagai harga yang layak dibayar. Jika tidak, tekanan pasar mungkin semakin terasa. Untuk saat ini, Merck tampak memilih jalan berani: mengorbankan sedikit kecepatan laba demi peluang pertumbuhan yang lebih panjang di masa depan.

