(Business Lounge – Human Resources) Gelombang kekesalan para pemimpin puncak perusahaan besar terhadap karyawan yang sibuk dengan ponsel atau laptop di tengah rapat kini semakin terbuka. Fenomena ini mencerminkan benturan dua budaya kerja: generasi yang tumbuh dalam konektivitas digital tanpa henti dan kepemimpinan tradisional yang menilai fokus tatap muka sebagai bentuk penghormatan profesional. Di antara suara paling lantang datang dari Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, yang dalam surat tahunan kepada pemegang saham menulis kalimat tajam, “This has to stop. It’s disrespectful. It wastes time.” Menurut laporan The Wall Street Journal, Dimon menegaskan bahwa jika seseorang dalam rapat terlihat sedang membuka iPad untuk membaca email atau menerima notifikasi, ia akan meminta perangkat itu ditutup. Bagi Dimon, penggunaan perangkat pribadi di tengah rapat adalah simbol penurunan kualitas interaksi dan ketidakhadiran mental di ruang yang seharusnya menjadi pusat pengambilan keputusan.
Kekhawatiran serupa juga diungkap oleh para eksekutif lain. Brian Chesky, CEO Airbnb, bahkan mengakui dirinya tak sepenuhnya kebal terhadap kebiasaan itu. Dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal, ia mengatakan, “Sometimes I’m like, ‘OK, I heard it. I know what you’re about to say. I know the subject matter,’ I text …” Ia menyebut bahwa fenomena ini bukan semata masalah perilaku individu, tetapi mencerminkan “masalah sosial” yang lebih besar, di mana perangkat digital telah menembus setiap aspek kehidupan profesional dan personal. Bagi Chesky, perangkat bukanlah musuh, tetapi keterikatan manusia terhadap notifikasi membuat rapat kehilangan makna kolaboratifnya. Sementara itu, laporan The Times menyoroti bahwa Dimon sampai mengeluarkan imbauan internal kepada staf JPMorgan agar berhenti membaca pesan atau email di tengah rapat. Ia menilai kebiasaan tersebut sebagai bentuk kurangnya rasa hormat terhadap rekan kerja, karena rapat adalah momen bersama untuk berpikir, berdebat, dan mengambil keputusan penting.
Masalah ini bukan hal baru, tetapi kini mencapai titik yang membuat para CEO merasa harus turun tangan langsung. Dalam banyak perusahaan, pemandangan peserta rapat yang matanya tertuju ke layar ponsel atau laptop sudah menjadi kebiasaan umum. Di era kerja hybrid, di mana sebagian orang bekerja dari rumah dan sebagian lain di kantor, keterhubungan digital dianggap bagian dari profesionalisme. Namun bagi banyak pimpinan, multitasking justru menjadi tanda lemahnya keterlibatan dan perhatian. Mereka melihatnya bukan hanya sebagai gangguan kecil, tetapi sebagai gejala menurunnya etika profesional dan disiplin kerja. Seorang CEO bahkan menyebut, “Kadang kursi di ruang rapat seperti diisi oleh potongan kardus berbentuk manusia—ada tubuhnya, tapi tidak benar-benar hadir.”
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan besar dalam cara organisasi bekerja. Dalam dua dekade terakhir, ponsel pintar, laptop, dan platform komunikasi internal telah mengubah cara orang berbagi informasi dan berkolaborasi. Di sisi lain, kecepatan informasi membuat orang merasa harus selalu online. Banyak karyawan menganggap bahwa menjawab email atau pesan segera adalah bentuk tanggung jawab profesional, bahkan ketika rapat sedang berlangsung. Akibatnya, batas antara hadir dan terganggu menjadi kabur. Bagi para pemimpin seperti Dimon, kondisi ini mengikis esensi dari rapat itu sendiri—tempat di mana fokus kolektif dan kualitas percakapan menjadi kunci.
Dalam laporan The Wall Street Journal, sejumlah perusahaan mulai bereksperimen dengan cara-cara baru untuk mengembalikan fokus peserta rapat. Beberapa memilih langkah ekstrem seperti menonaktifkan jaringan Wi-Fi selama pertemuan berlangsung. Seorang vice president marketing di sistem kesehatan UCHealth di Amerika Serikat, misalnya, sengaja tidak memberikan password Wi-Fi di ruang rapat off-site. Hasilnya, menurutnya, percakapan menjadi lebih hidup, dan setiap peserta tampak lebih terlibat. Di perusahaan lain, solusi yang lebih ringan justru digunakan untuk menanamkan kesadaran. Ada yang menerapkan “phone jar”—semacam toples tempat peserta harus memasukkan uang kecil setiap kali terlihat menggunakan ponsel di tengah rapat. Uang tersebut kemudian disumbangkan ke kegiatan sosial atau digunakan untuk makan siang tim. Pendekatan gamifikasi semacam ini dianggap lebih efektif karena menciptakan suasana ringan namun tetap mengingatkan tentang pentingnya etiket.
Beberapa organisasi memilih menerapkan aturan sederhana tanpa ancaman atau sanksi. Di perusahaan perangkat lunak UKG, Chief Customer Experience Officer mengusulkan kebiasaan baru: setiap peserta meletakkan ponsel menghadap ke bawah di atas meja, dan bila seseorang tampak terdistraksi, rekan lain berhak menegurnya dengan cara sopan, “Hey, you seem to be somewhere else.” Pendekatan berbasis kebersamaan ini dianggap lebih manusiawi daripada larangan keras, karena membangun tanggung jawab sosial di antara anggota tim. Di sisi lain, beberapa CEO seperti Brian Chesky menekankan bahwa perubahan semacam ini harus dimulai dari pimpinan sendiri. Ia mengaku tidak akan memperkenalkan aturan baru secara formal, tetapi akan menunjukkan teladan dengan tidak membuka ponsel selama rapat, kecuali dalam keadaan darurat. Baginya, budaya perusahaan tidak dibangun lewat aturan tertulis, melainkan lewat perilaku sehari-hari yang ditiru dari atas ke bawah.
Namun, pandangan terhadap perangkat digital di ruang rapat tidak sepenuhnya hitam putih. Ada juga eksekutif yang berpendapat bahwa penggunaan ponsel atau laptop tidak selalu buruk. Dalam beberapa konteks, perangkat justru bisa meningkatkan produktivitas. Andy Decker, seorang CEO perusahaan perekrutan, mengatakan bahwa teks internal yang dikirim saat rapat bisa berfungsi sebagai sinyal halus untuk mengingatkan kolega agar diskusi tidak terlalu berlarut atau menyimpang. Ia menyebut, “A text can be helpful. It makes the meetings better because we allow that.” Pendapat ini menegaskan bahwa masalahnya bukan pada perangkat, melainkan pada cara penggunaannya. Jika digunakan dengan kesadaran dan tujuan jelas, teknologi dapat mempercepat proses, bukan menghambatnya.
Penyebab utama meningkatnya kebiasaan mengecek ponsel selama rapat sering kali berasal dari cara rapat itu sendiri diorganisasi. Banyak pertemuan berlangsung terlalu lama, tanpa agenda yang jelas, atau melibatkan terlalu banyak peserta yang tidak relevan. Dalam kondisi seperti itu, perhatian mudah teralihkan, dan ponsel menjadi pelarian alami. Para pakar organisasi berpendapat bahwa melarang perangkat tanpa memperbaiki kualitas rapat hanya akan menghasilkan kepatuhan sementara tanpa perubahan berarti. Oleh karena itu, langkah pertama yang lebih efektif justru adalah meninjau ulang tujuan setiap rapat, memperpendek durasi, dan memastikan bahwa setiap orang diundang karena kontribusinya dibutuhkan.
Bagi organisasi besar seperti JPMorgan Chase, kebijakan semacam ini juga berkaitan dengan citra profesional. Dimon dikenal sebagai sosok yang menekankan efisiensi dan tanggung jawab pribadi. Dalam budaya kerja semacam itu, perhatian penuh dalam rapat bukan hanya soal sopan santun, melainkan bentuk integritas profesional. Ia percaya bahwa keputusan penting lahir dari diskusi yang fokus, bukan dari rapat di mana peserta setengah mendengarkan sambil membalas pesan. Bagi para eksekutif lain, isu ini bahkan menyentuh aspek moral dari kepemimpinan: jika seseorang tidak dapat memberi perhatian penuh kepada rekan di ruangan yang sama, bagaimana ia bisa diharapkan memberi perhatian pada pelanggan atau klien?
Namun, pendekatan semacam ini juga menghadapi tantangan besar, terutama di kalangan generasi muda. Bagi pekerja generasi milenial dan Gen Z, multitasking dan konektivitas konstan sudah menjadi kebiasaan alami. Mereka terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik, mengelola beberapa percakapan chat sekaligus, atau mengecek notifikasi tanpa merasa kehilangan fokus. Ketika diberi aturan untuk menyingkirkan ponsel selama rapat, sebagian mungkin menganggapnya sebagai langkah ketinggalan zaman atau bahkan bentuk ketidakpercayaan. Karena itu, komunikasi mengenai alasan di balik kebijakan menjadi penting. Jika perusahaan hanya menekankan “larangan”, karyawan bisa merasa dikontrol. Tapi jika dijelaskan bahwa fokus penuh akan meningkatkan kualitas keputusan dan efisiensi waktu, resistensi bisa berkurang.
Kultur organisasi yang sukses menerapkan aturan ini biasanya menggabungkan dua elemen: keteladanan pimpinan dan keterlibatan peserta. Pimpinan harus menjadi contoh, menunjukkan bahwa mereka pun menonaktifkan notifikasi atau meninggalkan ponsel saat rapat. Dalam waktu yang sama, peserta perlu merasa bahwa kehadiran mereka dihargai dan suara mereka didengar. Ketika orang tahu bahwa rapat memang penting dan kontribusi mereka dibutuhkan, mereka akan lebih mudah untuk melepaskan perangkat dan fokus. Artinya, solusi terhadap kebiasaan mengecek ponsel bukan hanya soal kontrol, tetapi soal makna.
Perubahan budaya semacam ini juga berdampak pada efektivitas organisasi secara keseluruhan. Rapat yang lebih fokus biasanya menghasilkan keputusan yang lebih cepat, mengurangi kebutuhan akan pertemuan lanjutan, dan meningkatkan rasa tanggung jawab. Beberapa studi manajemen bahkan menunjukkan bahwa gangguan kecil, seperti notifikasi atau multitasking digital, dapat menurunkan kemampuan memproses informasi kompleks hingga 40 persen. Dalam konteks bisnis yang kompetitif, kehilangan efisiensi semacam itu dapat berakibat besar. Karena itu, banyak pimpinan mulai memandang etiket rapat bukan hanya sebagai urusan sopan santun, tetapi juga strategi produktivitas.
Meskipun demikian, dunia kerja modern memang sulit dipisahkan dari teknologi. Bahkan Jamie Dimon sendiri mengakui bahwa perangkat digital memiliki peran besar dalam mempercepat komunikasi di JPMorgan. Ia hanya menekankan pentingnya batas waktu dan tempat. Bagi Dimon, rapat adalah ruang untuk berpikir bersama, bukan untuk multitasking. Dalam suratnya, ia menulis bahwa menghormati waktu orang lain adalah bentuk profesionalisme tertinggi. Pernyataan itu menjadi semacam seruan moral bagi dunia korporasi yang kini semakin terbiasa hidup dalam notifikasi tanpa henti.
Dalam skala global, tren ini mencerminkan pencarian keseimbangan antara disiplin kerja konvensional dan fleksibilitas era digital. Beberapa perusahaan teknologi bahkan memulai inisiatif “no-device meetings” satu hari dalam seminggu sebagai eksperimen budaya. Hasil awalnya menunjukkan peningkatan partisipasi dan kepuasan peserta. Namun, di perusahaan lain, terutama yang beroperasi secara remote, pendekatan tersebut dianggap tidak realistis. Seorang manajer di perusahaan konsultan global mengatakan bahwa dalam rapat virtual, mustahil memantau apakah peserta sedang membuka tab lain. “Yang penting adalah hasil,” ujarnya, “selama mereka bisa menyampaikan kontribusi yang relevan, saya tidak peduli apakah mereka mengecek pesan.”
Pandangan ini menggambarkan dilema yang dihadapi banyak organisasi: apakah lebih penting menegakkan disiplin kehadiran penuh atau menilai kinerja berdasarkan hasil akhir. Jawabannya mungkin berbeda-beda tergantung budaya perusahaan dan karakter industrinya. Di lembaga keuangan besar seperti JPMorgan, kehadiran fisik dan etika profesional masih dianggap pondasi kerja sama tim. Sementara di perusahaan teknologi yang lebih cair seperti Airbnb, batas antara ruang kerja dan ruang pribadi memang lebih fleksibel.
Apa pun pendekatan yang diambil, satu hal menjadi jelas: dunia bisnis sedang berusaha mendefinisikan ulang arti “hadir” di era digital. Dulu, hadir berarti duduk di ruang rapat. Kini, hadir berarti memberikan perhatian penuh, walau pertemuan berlangsung secara virtual. Jamie Dimon mungkin mewakili generasi pemimpin yang menginginkan kembalinya disiplin klasik dalam rapat, tetapi bahkan ia tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia kerja. Tantangan ke depan adalah menemukan cara agar perangkat digital tidak mengendalikan interaksi manusia, tetapi justru memperkaya kolaborasi.
Jika melihat dinamika ini, tampak bahwa perdebatan tentang ponsel di rapat hanyalah gejala dari perubahan yang lebih dalam: bagaimana manusia beradaptasi dengan informasi yang datang tanpa henti. Rapat hanyalah satu ruang di mana ketegangan itu paling terlihat. Para pemimpin kini dituntut bukan sekadar mengatur aturan baru, melainkan membangun budaya yang menyeimbangkan fokus dan fleksibilitas. Karena pada akhirnya, bukan ponsel yang membuat rapat tidak produktif, melainkan kehilangan perhatian yang membuat ide-ide besar gagal dilahirkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia kerja modern sedang bertransisi menuju bentuk baru keseimbangan antara teknologi dan kesadaran manusia. Seperti diingatkan The Wall Street Journal, para CEO boleh saja marah, tetapi kemarahan mereka sebetulnya berakar pada keinginan sederhana: agar orang kembali benar-benar mendengarkan satu sama lain.

