(Business Lounge Journal – News and Insight)
Selama bertahun-tahun, nama Larry Ellison kerap dianggap sebagai bagian dari masa lalu Silicon Valley. Pendiri Oracle ini terkenal eksentrik—dengan gaya hidup mewah, pulau pribadi, dan citra sebagai sosok yang terlalu keras kepala untuk berubah. Terlebih lagi, ia pernah dengan lantang menyebut “cloud” sebagai sekadar jargon pemasaran, sementara Jeff Bezos, Satya Nadella, dan Sundar Pichai justru membangun kerajaan teknologi di atasnya.
Namun, babak baru teknologi dunia memaksa semua orang menoleh kembali. Ledakan kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan (AI) mengubah peta permainan. Dan di sinilah Ellison melakukan sesuatu yang tidak trendi, bahkan bisa dibilang membosankan: ia memastikan ketersediaan kapasitas komputasi. Bukan fitur canggih atau inovasi yang memesona, melainkan hal paling mendasar yang langka dalam era AI—daya listrik, pusat data, dan ribuan GPU yang siap beroperasi.
Hasilnya dramatis. Pada September 2025, Oracle mengumumkan backlog kontrak senilai 455 miliar dolar AS, melonjak 359% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini lebih menyerupai anggaran infrastruktur negara daripada pipeline perusahaan teknologi. Investor pun bereaksi: saham Oracle mencatat lonjakan harian terbesar sejak 1992, dan kekayaan Ellison sempat menyalip Elon Musk, menjadikannya orang terkaya di dunia—meski hanya sebentar.
Oracle: Dari Laggard ke Power Broker
Selama dekade 2010-an, Oracle sering dicap sebagai perusahaan “ketinggalan kereta”. AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud merebut hati para pengembang. Sementara Ellison dijuluki “Lock-in Larry,” simbol dari model bisnis lama berbasis lisensi yang mengekang.
Tetapi di 2020-an, cerita berubah. Oracle tidak lagi mengejar SaaS populer, melainkan justru membidik bottleneck paling krusial: GPU, lahan, dan listrik. Di Shackelford County, Texas, Oracle bahkan siap menggunakan generator gas untuk memastikan pasokan daya ke kampus data 1,4 gigawatt bernama Frontier.
Strateginya pragmatis. Alih-alih memaksa pelanggan masuk “taman tertutup”, Oracle kini mempromosikan multicloud—memungkinkan basis data mereka berjalan di AWS, Azure, maupun Google Cloud. Sikap fleksibel ini mengubah citra Oracle dari penjara teknologi menjadi mitra strategis.
Namun, kesuksesan itu juga menyimpan risiko besar. Laporan Wall Street Journal menyebut mayoritas backlog berasal dari satu pelanggan utama: OpenAI, yang setuju membelanjakan sekitar 300 miliar dolar untuk komputasi mulai 2027. Jika OpenAI goyah, atau memutuskan pindah penyedia, maka tumpukan kontrak Oracle bisa berubah jadi beban.
Dari Silicon Valley ke Jakarta: Apa Relevansinya?
Kisah Ellison ini menarik bukan hanya untuk Wall Street, tetapi juga bagi Indonesia. Mengapa?
-
Keterbatasan Infrastruktur AI
Seperti halnya dunia, Indonesia pun menghadapi kelangkaan kapasitas komputasi. Banyak startup AI lokal kesulitan mengakses GPU berskala besar. Contoh: sejumlah pengembang generative AI di Jakarta dan Bandung harus menyewa kapasitas dari Singapura atau bahkan AS. Jika Indonesia ingin bersaing di era AI, kisah Oracle bisa jadi cermin: kekuatan bukan hanya pada ide, tetapi juga pada kemampuan menyediakan infrastruktur. -
Transformasi Model Bisnis
Strategi Oracle mengingatkan kita pada fenomena Telkom dan anak perusahaannya, TelkomSigma maupun NeutraDC, yang kini agresif membangun pusat data di Cikarang, Batam, dan Manado. Sama seperti Ellison, mereka menyadari bahwa pasokan daya dan infrastruktur digital bisa menjadi “tambang emas baru” di era AI. -
Pelanggan Besar, Risiko Besar
Ketergantungan Oracle pada OpenAI mirip dengan risiko yang dihadapi penyedia lokal yang hanya bergantung pada satu-dua klien besar (misalnya pemerintah atau korporasi BUMN). Diversifikasi tetap menjadi kunci agar infrastruktur tidak terjebak dalam risiko tunggal.
Dari “Cool Factor” ke “Need Factor”
Larry Ellison tidak berusaha menjadi “keren” atau menarik minat generasi baru insinyur teknologi. Ia hanya melakukan hal paling mendasar: membuat dirinya tak tergantikan. Oracle kini diperlakukan pasar lebih mirip seperti perusahaan utilitas—bukan sekadar vendor perangkat lunak.
Inilah pelajaran penting bagi ekosistem teknologi, termasuk di Indonesia. Dalam dunia yang makin bergantung pada AI, yang paling berharga bukanlah hype atau citra, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan nyata secara konsisten.
Bagi Ellison, itu berarti listrik, GPU, dan pusat data. Bagi pemain lokal, mungkin berarti jaringan internet yang stabil, kapasitas pusat data yang aman, atau bahkan integrasi energi terbarukan.
Ellison membuktikan bahwa kadang, cara paling “membosankan” justru adalah jalan menuju relevansi baru.

