(Business Lounge – Global News) Delta Air Lines mencatat lonjakan harga saham signifikan pada pekan ini setelah manajemen perusahaan menyampaikan proyeksi optimis untuk kuartal ketiga 2025, meskipun sektor penerbangan secara umum tengah mengalami perlambatan permintaan. Menurut laporan dari The Wall Street Journal dan Reuters, perusahaan penerbangan berbasis di Atlanta ini menyatakan bahwa pendapatan dan laba diperkirakan akan melebihi ekspektasi analis, berkat strategi harga yang disiplin dan efisiensi operasional yang ditingkatkan.
Saham Delta naik lebih dari 4% di New York Stock Exchange pada hari pengumuman, mencerminkan kepercayaan investor terhadap arah bisnis perusahaan setelah paruh pertama tahun yang penuh tekanan. Seperti banyak maskapai lain, Delta menghadapi tantangan berupa biaya bahan bakar yang fluktuatif, gangguan operasional akibat cuaca ekstrem, serta penurunan permintaan perjalanan domestik pasca-ledakan perjalanan di era pemulihan pandemi. Namun tidak seperti beberapa pesaingnya, Delta mampu mempertahankan margin keuntungan dan menstabilkan jadwal penerbangan di rute-rute utama.
Dalam paparan terbarunya kepada investor, Delta menyampaikan bahwa laba per saham (EPS) kuartal ketiga diperkirakan berada di kisaran $2,20 hingga $2,50, jauh di atas estimasi konsensus analis sebesar $2,00. Perusahaan juga memproyeksikan pendapatan naik antara 4% hingga 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja kuat diperkirakan berasal dari pertumbuhan permintaan di segmen internasional premium dan korporat, terutama untuk rute transatlantik dan Asia Timur.
CEO Delta Ed Bastian menekankan bahwa perusahaan tidak sekadar bergantung pada volume, tetapi fokus pada kualitas pendapatan dan efisiensi jangka panjang. “Kami tahu kondisi pasar tidak mudah. Tapi kami juga tahu bahwa pelanggan masih menghargai layanan yang andal dan pengalaman premium. Kami berinvestasi di area yang benar,” ujar Bastian.
Salah satu kekuatan Delta dibandingkan maskapai lain adalah posisinya di segmen premium, termasuk kursi Delta One dan Delta Premium Select yang menyasar pelancong bisnis dan wisatawan bernilai tinggi. Meskipun permintaan perjalanan domestik menunjukkan tanda-tanda kejenuhan, Delta berhasil mempertahankan tarif lebih tinggi di kelas atas, serta memperluas layanan internasional dengan mitra strategis seperti Air France-KLM dan Korean Air.
Menurut analis dari Bank of America Securities, Delta tampak lebih siap menghadapi perlambatan siklus dibandingkan maskapai lain karena model pendapatan campurannya yang lebih sehat dan struktur biaya yang relatif stabil. Laporan riset terbaru menyebutkan bahwa fokus Delta pada loyalitas pelanggan, melalui program SkyMiles dan akses eksklusif lounge bandara, menciptakan diferensiasi penting di tengah pasar yang makin kompetitif.
Namun tantangan tetap ada. Perlambatan ekonomi di AS dan Eropa membuat beberapa pelaku industri mulai meninjau ulang proyeksi pertumbuhan jangka pendek. Laporan dari International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa pertumbuhan volume penumpang global melambat menjadi hanya 3,1% pada semester pertama tahun ini, turun dari 6,8% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, harga bahan bakar jet kembali naik sejak Mei, memberikan tekanan tambahan terhadap profitabilitas.
Untuk menghadapi risiko-risiko tersebut, Delta melanjutkan strategi diversifikasi pendapatan, termasuk ekspansi pada sektor kargo dan peningkatan penawaran digital untuk pelanggan. Mereka juga berinvestasi besar pada pembaruan armada, dengan pesanan terbaru mencakup Boeing 737-10 dan Airbus A350 yang lebih hemat bahan bakar dan ramah lingkungan.
Dari sisi tenaga kerja, Delta berhasil menghindari gejolak besar yang dialami oleh maskapai lain. Setelah serangkaian negosiasi yang alot, perusahaan menandatangani kesepakatan baru dengan serikat pilot awal tahun ini, memberikan kepastian operasional yang penting menjelang musim gugur dan libur akhir tahun.
Meski demikian, investor akan terus mencermati apakah optimisme Delta mampu bertahan dalam kondisi makro yang tidak menentu. Inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan pola belanja konsumen bisa memengaruhi permintaan perjalanan udara dalam waktu dekat. Sebagai maskapai publik terbesar kedua di AS berdasarkan kapitalisasi pasar, pergerakan Delta juga menjadi barometer sentimen terhadap sektor penerbangan secara keseluruhan.
Untuk saat ini, pasar tampak memberi kepercayaan penuh pada arah baru Delta. Dengan manajemen yang disiplin, pendekatan strategis terhadap rute dan penumpang, serta fokus pada pengalaman pelanggan, maskapai ini mungkin berhasil menjadikan tahun yang berat sebagai momentum penguatan jangka panjang. Di tengah pelambatan industri, Delta tampaknya terbang lebih tinggi dari ekspektasi.

