(Business Lounge – Technology) Oracle, raksasa perangkat lunak dan penyedia layanan cloud asal Amerika Serikat, meluncurkan sebuah inisiatif strategis yang dapat mengubah cara perusahaan kecil menjual teknologi ke pemerintah AS. Dalam program yang dinamai Oracle Defense Ecosystem, perusahaan berambisi untuk menjembatani kesenjangan antara vendor teknologi berskala kecil dan Departemen Pertahanan, sekaligus memperluas jangkauan layanan cloud Oracle ke ranah pertahanan nasional yang selama ini didominasi oleh segelintir pemain besar.
Program ini diperkenalkan sebagai respon atas hambatan kompleks yang selama ini menghalangi banyak perusahaan kecil dalam menembus pasar pertahanan federal. Mulai dari birokrasi pengadaan, sertifikasi keamanan tingkat tinggi, hingga tantangan dalam menyesuaikan produk dengan kebutuhan militer—semuanya menjadi dinding besar bagi startup teknologi. Rand Waldron, Vice President Oracle Sovereign Cloud, menyatakan secara gamblang bahwa “terlalu sulit untuk melayani kebutuhan pertahanan nasional, bahkan bagi perusahaan yang punya teknologi canggih.” Dalam konteks inilah Oracle menawarkan jalur cepat: jaringan, fasilitas cloud yang telah disertifikasi hingga level “Top Secret”, dan integrasi langsung dengan solusi pemerintah seperti Palantir Foundry dan NetSuite.
Pada tahap awal, hanya segelintir perusahaan yang tergabung dalam program ini. Di antaranya adalah Blackshark.ai, perusahaan pemetaan geospasial; SensusQ, yang mengembangkan solusi intelijen; Arqit, yang bergerak di bidang enkripsi kuantum; serta Metron, spesialis sistem otonom laut. Keempatnya mencerminkan spektrum luas teknologi yang kini dicari oleh Pentagon—AI, cloud, geospasial, pertahanan siber, dan solusi untuk pertempuran era informasi.
Oracle tidak memungut biaya dari para partisipan. Sebagai gantinya, mereka berharap partisipasi ini memperkuat ekosistem teknologinya, sekaligus mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk membangun dan menjalankan solusi mereka di atas platform Oracle Cloud Infrastructure (OCI). Pendekatan ini serupa dengan strategi platform seperti AWS dan Azure yang mengutamakan ekosistem mitra, namun Oracle mengambil posisi unik dengan memfokuskan program ini secara eksklusif pada sektor pertahanan.
Penting untuk dicatat bahwa Oracle bukanlah pemain baru dalam proyek pemerintah. Bersama Microsoft, AWS, dan Google, Oracle termasuk dalam empat besar kontraktor teknologi yang memenangkan kontrak besar JWCC (Joint Warfighting Cloud Capability) senilai US$9 miliar dari Departemen Pertahanan AS. Kontrak ini merupakan tonggak sejarah karena memberikan akses langsung kepada empat penyedia cloud utama untuk melayani kebutuhan misi militer yang paling sensitif—bahkan yang diklasifikasikan sebagai rahasia negara. Inisiatif Oracle Defense Ecosystem bertujuan memanfaatkan landasan strategis ini untuk memperluas jangkauan komersialnya.
Dengan menghubungkan perusahaan kecil ke dalam ekosistem ini, Oracle berusaha menjawab dua kebutuhan sekaligus. Pertama, dorongan dari pemerintah AS untuk membuka akses terhadap penyedia teknologi non-tradisional, yang sering kali memiliki solusi mutakhir tapi kesulitan menembus labirin administrasi federal. Kedua, memperkuat dan menumbuhkan penggunaan Oracle Cloud sebagai fondasi dari arsitektur pertahanan digital AS, sesuatu yang selama ini lebih didominasi oleh AWS.
Dalam prakteknya, Oracle menyediakan bukan hanya teknologi, tetapi juga dukungan administratif. Peserta program akan dibantu dalam memenuhi syarat keamanan, proses akreditasi FedRAMP, dan mekanisme pengadaan kontrak. Dengan kata lain, Oracle bertindak sebagai sponsor, pemandu, sekaligus penyedia infrastruktur—membantu perusahaan kecil agar tidak hanya memiliki produk yang baik, tetapi juga layak untuk digunakan oleh militer.
Waldron menyatakan bahwa salah satu motivasi kuat dari program ini adalah mempercepat inovasi di sektor pertahanan. “Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pemain lama yang bergerak lambat,” ujarnya dalam wawancara dengan The Wall Street Journal. Dalam lingkungan ancaman yang cepat berubah, mulai dari perang siber, drone, hingga persaingan AI dengan Tiongkok dan Rusia, Pentagon membutuhkan solusi baru yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga bisa diterapkan dengan cepat dan fleksibel. Perusahaan kecil dianggap lebih agile dan inovatif, tetapi kerap kali tersingkir karena kurangnya sumber daya untuk mengakses pasar federal. Di sinilah Oracle masuk.
Namun, program ini bukan tanpa kepentingan bisnis. Dalam jangka panjang, Oracle berharap bahwa perusahaan-perusahaan yang mereka bantu akan tetap menjadi pelanggan setia, membangun infrastruktur mereka di atas layanan Oracle Cloud, dan menjadikan Oracle sebagai penyedia utama tidak hanya untuk kebutuhan militer, tetapi juga ekspansi bisnis komersial mereka. Dengan cara ini, Oracle menciptakan jalur pertumbuhan baru: mengembangkan pasar cloud melalui sektor pemerintah yang sebelumnya sulit dimasuki oleh teknologi baru.
Langkah ini juga mencerminkan perubahan paradigma di kalangan perusahaan teknologi besar. Dalam dekade terakhir, sektor pertahanan AS menghadapi banyak kritik karena lambat dalam mengadopsi inovasi. Proyek-proyek besar seperti JEDI (pendahulu JWCC) mengalami penundaan dan gugatan hukum, sementara ancaman keamanan global terus meningkat. Akibatnya, ada tekanan besar dari dalam dan luar Pentagon untuk membuka akses lebih luas kepada sektor swasta, termasuk startup dan unicorn teknologi, yang dianggap memiliki kemampuan lebih besar untuk menciptakan terobosan. Program seperti Oracle Defense Ecosystem bisa menjadi model baru bagi pengadaan militer: berbasis platform, inklusif, dan lebih cepat dalam eksekusi.
Dari sisi geopolitik, ini juga memperkuat posisi AS dalam perlombaan teknologi global. Dengan mendorong perusahaan dalam negeri untuk lebih aktif di sektor pertahanan, pemerintah AS bisa mengurangi ketergantungan pada vendor asing, terutama dalam bidang kritikal seperti AI, siber, dan komunikasi taktis. Oracle, dengan posisinya sebagai perusahaan teknologi yang sudah memiliki izin keamanan nasional, menjadi penghubung antara inovasi startup dan kebutuhan strategis negara.
Reaksi pasar terhadap inisiatif ini cukup positif. Saham Oracle terus mencetak rekor baru, didorong oleh pertumbuhan kuat di bisnis cloud dan akuisisi strategis seperti Cerner di bidang layanan kesehatan. Investor melihat bahwa Oracle mulai menemukan ritme pertumbuhan baru, bertransisi dari penyedia perangkat lunak warisan menuju pemimpin cloud modern yang relevan dalam konteks AI dan keamanan nasional.
Namun tentu saja, tantangan masih ada. Mengintegrasikan banyak perusahaan kecil dengan sistem dan protokol keamanan Pentagon bukan hal mudah. Tidak semua startup siap secara struktur untuk memenuhi persyaratan administratif, dan belum tentu teknologi mereka cocok dengan kebutuhan medan perang yang sangat spesifik. Selain itu, Oracle sendiri masih dalam proses memperluas infrastruktur fisik dan cloud mereka untuk mampu menangani permintaan berskala nasional dari sektor pertahanan.
Jika program ini berhasil, Oracle bisa menjadi pionir dalam model kemitraan sektor swasta-militer yang lebih terbuka dan efektif. Mereka tidak hanya menjadi penyedia cloud, tetapi juga arsitek ekosistem pertahanan digital AS. Ini bisa menjadi cetak biru baru bagi perusahaan teknologi lain yang ingin bermain di ruang yang sama—baik di AS maupun di negara-negara sekutu yang menghadapi tantangan serupa.
Dengan geopolitik global yang semakin kompleks, pertahanan nasional membutuhkan sistem yang lebih cerdas, terhubung, dan adaptif. Oracle percaya bahwa jawaban atas tantangan itu bukan hanya dalam bentuk jet tempur dan misil hipersonik, tetapi juga dalam baris-baris kode, server cloud, dan startup kecil yang tahu bagaimana memecahkan masalah secara berbeda. Dan untuk pertama kalinya, pintu menuju Pentagon mulai terbuka bagi mereka. Oracle hanya bertindak sebagai pembuka jalan—selebihnya bergantung pada kemampuan dan keberanian para inovator untuk menembusnya.

