(Business Lounge Journal – Human Resources)
Bagaimana perusahaan secara global memberlakukan kebijakan flexi time dan flexi place ternyata masih menjadi pro dan kontra. Berbagai institusi pun melakukan survei dan menemukan bahwa ketika seruan untuk kembali ke kantor digaungkan, maka tidak semua pekerja menerimanya dengan lapang dada.
Mari kita lihat survei berikut ini.
Pew Research Center
Survei terbaru dari Pew Research Center (Oktober 2024) yang melakukan survei di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa hampir setengah (46%) pekerja akan mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaannya jika perusahaan mereka menghapus opsi kerja jarak jauh. Saat ini, 75% pekerja dengan pekerjaan yang memungkinkan kerja jarak jauh sudah bekerja dari rumah setidaknya beberapa hari dalam seminggu. Namun, dengan meningkatnya kebijakan kembali ke kantor, banyak dari mereka mulai khawatir akan kehilangan fleksibilitas yang telah mereka nikmati selama ini.
Dalam perdebatan mengenai kebijakan kembali ke kantor, perempuan (49%) sedikit lebih cenderung mencari pekerjaan baru dibandingkan laki-laki (43%) jika kerja jarak jauh dihapuskan. Pekerja di bawah usia 50 tahun juga menunjukkan keinginan yang lebih tinggi untuk berpindah kerja (50%) dibandingkan pekerja yang lebih tua (35%) dalam skenario serupa.
Pekerja yang bekerja sepenuhnya dari rumah adalah kelompok yang paling bersikeras mempertahankan status kerja jarak jauh mereka (61%) dibandingkan mereka yang memiliki jadwal hybrid (47%) atau hanya sesekali bekerja dari rumah (28%).
Selain itu, kepuasan kerja juga menjadi faktor penting dalam keputusan ini. Sekitar 52% pekerja yang merasa kurang puas dengan pekerjaannya mempertimbangkan untuk pindah jika kerja jarak jauh dihapuskan, dibandingkan dengan 41% pekerja yang sangat puas dengan pekerjaannya.
Resume Builder Survey
Sebuah survei yang diadakan oleh Resume Builder pada Agustus tahun lalu terhadap 764 perusahaan global dan menemukan bahwa 87% perusahaan diperkirakan akan mewajibkan karyawan kembali bekerja di kantor penuh waktu pada tahun 2025. Sejumlah 70% mengatakan bahwa produktivitas akan bertambah ketika bekerja dari kantor Kembali diberlakukan.
Meskipun banyak pekerja lebih menyukai fleksibilitas kerja jarak jauh, menemukan pekerjaan baru dengan kebijakan serupa bisa menjadi tantangan.
Microsoft
Microsoft melakukan survei global yang bertajuk “Work Trend Index” secara berkala. Survei terakhir dari dari edisi terbaru laporan Work Trend Index menunjukkan bahwa mayoritas pekerja (73%) ingin opsi kerja jarak jauh tetap ada.
McKinsey
McKinsey juga melakukan survei secara berkala terkait berbagai topik, termasuk kebijakan kerja. Survei mengenai Future of Work, menemukan bahwa 80% perusahaan berencana menerapkan model kerja hibrida setelah pandemi.
Tren Kembali Bekerja di Kantor
Meningkatnya kebijakan wajib kembali ke kantor sebenarnya sudah Nampak sejak tahun lalu.
Pada awal 2023, hanya 63% pekerja yang melaporkan adanya aturan wajib bekerja dari kantor. Namun, angka ini meningkat menjadi 75% pada tahun 2024, menunjukkan bahwa lebih banyak perusahaan memperketat kebijakan mereka terkait kerja jarak jauh.
Meskipun demikian, tidak semua pekerja hybrid ingin bekerja sepenuhnya dari rumah. Hanya 24% pekerja hybrid yang menyatakan bahwa mereka lebih memilih bekerja penuh dari rumah jika diberi pilihan. Sebagian besar (72%) menyatakan bahwa mereka lebih memilih model hybrid, yang memungkinkan mereka bekerja dari kantor pada beberapa hari dan bekerja dari rumah pada hari lainnya.
Hal yang menarik adalah bahwa bahkan pekerja yang jarang atau tidak pernah bekerja dari rumah tetap menunjukkan preferensi untuk fleksibilitas kerja. Sekitar 63% dari mereka mengatakan bahwa jika diberi pilihan, mereka ingin bekerja dari rumah setidaknya sebagian dari waktu mereka. Sementara itu, 19% menyatakan bahwa mereka ingin bekerja sepenuhnya dari rumah, sementara 17% lebih memilih tetap bekerja dari kantor sepanjang waktu.
Fenomena “Hybrid Hierarchy” dalam Kebijakan Kerja
Sementara banyak perusahaan mewajibkan karyawan kembali ke kantor, beberapa perusahaan justru menerapkan model “hybrid hierarchy,” di mana orang-orang tertentu diberikan hak untuk bekerja dari mana saja. Misalnya, pekerja berkinerja tinggi diberikan lebih banyak fleksibilitas kerja dibandingkan pekerja lainnya.
Menurut laporan dari firma konsultan Korn Ferry, perusahaan kini semakin bersedia memberikan jadwal kerja fleksibel kepada talenta terbaik mereka untuk mempertahankan dan menarik pekerja berketerampilan tinggi. Di sisi lain, sebagian besar karyawan lainnya tetap diwajibkan bekerja dari kantor.
Kesenjangan ini juga terlihat antara pekerja berupah rendah dan tinggi. Para eksekutif umumnya mendapatkan kebebasan lebih besar dalam pengaturan kerja dibandingkan pegawai dengan jabatan lebih rendah.
“Sistem kerja yang diterapkan di tingkat senior sering kali tidak transparan bagi sebagian besar karyawan,” ujar Ron Porter, pakar HR dari Korn Ferry.
Beberapa perusahaan bahkan mulai menjadikan fleksibilitas jadwal sebagai bentuk penghargaan bagi karyawan berkinerja tinggi, sementara mereka yang berkinerja menengah ke bawah tidak mendapatkan hak istimewa serupa.
Namun, sistem ini berisiko menimbulkan ketidakadilan dan dapat berdampak negatif terhadap moral karyawan. Mark Royal, mitra senior Korn Ferry, mengatakan bahwa kebijakan ini “tidak dapat dihindari akan menciptakan sensitivitas di kalangan karyawan.”
Survei juga menunjukkan bahwa kandidat kerja kini semakin memprioritaskan fleksibilitas kerja saat memilih untuk bergabung, tetap bertahan, atau meninggalkan suatu perusahaan.
Perlawanan Karyawan terhadap Kebijakan Kembali ke Kantor
Karyawan secara aktif menentang kebijakan perusahaan yang mengharuskan mereka kembali bekerja di kantor. JPMorgan, misalnya, baru-baru ini mengumumkan bahwa mulai Maret 2025, seluruh pegawai diharuskan kembali bekerja secara penuh waktu di kantor. Namun, pengumuman ini mendapat reaksi negatif dari karyawan, yang membanjiri platform komunikasi internal perusahaan dengan komentar keberatan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa JPMorgan sampai harus menonaktifkan kolom komentar dalam beberapa jam karena tingginya lalu lintas keluhan karyawan. Mereka menyatakan kekhawatiran tentang peningkatan biaya transportasi, kesulitan mengatur pengasuhan anak, dan gangguan terhadap keseimbangan kehidupan kerja. Salah satu karyawan bahkan menyarankan pembentukan serikat pekerja sebagai respons terhadap kebijakan tersebut, meniru upaya serupa yang sedang terjadi di Wells Fargo.
Amazon juga menghadapi penolakan dari karyawannya. Pada tahun 2024, lebih dari 500 karyawan Amazon Web Services secara resmi menentang kebijakan kembali ke kantor dengan mengirimkan surat kepada CEO Matt Garman. Mereka mengecam mandat tersebut, menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan didasarkan pada alasan yang tidak berbasis data. Dalam surat mereka, karyawan menjelaskan berbagai kesulitan yang akan timbul, seperti perjalanan kerja yang melelahkan dan kewajiban keluarga yang akan terganggu akibat keharusan kembali bekerja dari kantor.
Sikap Berbeda dari Spotify
Berbeda dengan tren perusahaan besar lainnya yang mewajibkan karyawan kembali ke kantor, Spotify tetap mempertahankan kebijakan fleksibel “bekerja dari mana saja”. Perusahaan melaporkan bahwa sejak menerapkan model kerja distribusi, mereka tidak mengalami penurunan produktivitas maupun efisiensi. Katarina Berg, Chief Human Resources Officer Spotify, mengatakan kepada Raconteur pada bulan Oktober bahwa perusahaan digital seperti Spotify harus memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada karyawannya. Berg menyatakan bahwa “bekerja adalah sebuah aktivitas, bukan lokasi,” seraya mengakui adanya tantangan dalam kolaborasi virtual, tetapi menolak gagasan bahwa pekerja harus dipaksa kembali ke kantor.
Dengan semakin banyaknya perusahaan yang memperketat kebijakan kerja jarak jauh, perdebatan mengenai fleksibilitas kerja diperkirakan akan terus berlanjut, terutama karena semakin banyak karyawan yang menuntut keseimbangan antara produktivitas dan kehidupan pribadi mereka.
Pentingkah Penerapan Fleksibilitas?
Perusahaan perlu menyadari bahwa kebijakan terkait fleksibilitas kerja, seperti flexi time dan flexi place, bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kebutuhan yang semakin mendesak di era modern. Survei-survei di atas dengan jelas menunjukkan bahwa karyawan semakin menghargai fleksibilitas dalam bekerja. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin mempertahankan talenta terbaik dan menarik talenta baru harus mempertimbangkan untuk mengadopsi kebijakan yang mengakomodasi kebutuhan ini.
Namun, perlu diingat bahwa setiap kebijakan memiliki konsekuensi. Menerapkan sistem kerja yang fleksibel bukan berarti menghilangkan kontrol atau mengurangi produktivitas. Perusahaan perlu mencari keseimbangan antara memberikan kebebasan kepada karyawan dan memastikan tujuan perusahaan tetap tercapai.
Salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan adalah model kerja hibrida. Model ini memungkinkan karyawan untuk bekerja dari kantor pada beberapa hari dan bekerja dari rumah pada hari lainnya. Dengan demikian, karyawan tetap terhubung dengan tim dan budaya perusahaan, namun tetap memiliki fleksibilitas untuk mengatur waktu dan tempat kerja mereka.
Selain itu, perusahaan juga perlu memperhatikan faktor-faktor lain seperti jenis pekerjaan, usia karyawan, dan tingkat kepuasan kerja. Kebijakan yang tepat untuk satu tim mungkin tidak cocok untuk tim lainnya. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan riset dan berdiskusi dengan karyawan untuk menemukan model kerja yang paling efektif dan adil.
Terakhir, perusahaan harus terbuka terhadap perubahan dan bersedia untuk terus mengevaluasi kebijakan mereka. Dunia kerja terus berkembang, dan perusahaan yang ingin sukses harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.