(Business Lounge _ World News) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon, Senin kemarin mengatakan bahwa negosiasi pertama antara pemerintah Suriah dan oposisi bersenjata dalam perang saudara selama lebih dari 2,5 tahun di negara itu dijadwalkan akan digelar pada 22 Januari di Jenewa, Swiss. Waktu perundingan ini diumumkan setelah pertemuan utusan khusus Liga Arab dan PBB untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, dan para diplomat senior Amerika Serikat dan Rusia di Jenewa, Senin 25 November yang lalu.
Ban berharap pemerintahan Presiden Bashar al-Assad datang ke Jenewa dengan pemahaman bahwa dialog ini bertujuan untuk membentuk pemerintahan transisi. Selain itu, kubu pemerintah juga harus menunjukkan niat serius untuk mengakhiri konflik Suriah yang telah menewaskan lebih dari 100 ribu orang.
Menurut Ban, tujuan perundingan ini adalah untuk menerapkan Komunike Jenewa yang dicapai Juni 2012 lalu. Komunike tersebut menyerukan terbentuknya “badan pemerintah transisi dengan kekuatan eksekutif penuh, termasuk atas militer dan lembaga keamanan.”
Kelompok oposisi menafsirkan pernyataan itu sebagai seruan bagi Assad untuk mundur demi terwujudnya pemerintah transisi. Poin ini menjadi tantangan terberat dalam negosiasi tersebut, dan juga menjadi ganjalan yang sebelumnya menghalangi kedua pihak untuk bertemu.
Koalisi oposisi Suriah, yang bermarkas di Istanbul, akhirnya setuju menghadiri perundingan yang telah tertunda berbulan-bulan. Namun menurut sejumlah diplomat, keberadaan ratusan kelompok oposisi bersenjata dapat menghambat perdamaian pasca-perundingan. Grup-grup yang umumnya terdiri dari kaum ekstremis agama ini belum menyepakati berlangsungnya negosiasi.
Seorang diplomat Barat mengatakan perundingan damai Suriah ini tidak terkait dengan kesepakatan nuklir Iran. Akhir pekan kemarin, enam negara besar dunia berhasil mencapai kesepakatan interim dengan Iran, sekutu Suriah paling erat di Timur Tengah. Pada Senin, Iran mengatakan bersedia berpartisipasi dalam perundingan damai di Jenewa tanpa prasyarat jika diundang, demikian menurut perwakilan Iran di PBB Alireza Miryousefi.
Sebagai persiapan menuju perundingan, Ban meminta pihak-pihak di Suriah menghentikan aksi kekerasan, membuka akses bagi bantuan kemanusiaan, membebaskan tawanan perang, dan memulangkan pengungsi. Meski demikian, Lakhdar Brahimi, utusan khusus PBB-Liga Arab ke Suriah, mengatakan bahwa secara realistis, langkah membangun kepercayaan seperti yang dinyatakan Ban baru bisa terlaksana setelah konferensi, bukan sebelumnya.
(ic/ic/bl-wsj)
Foto : Antara

