(Business Lounge Journal – Medicine, Do You Know)
Selama puluhan tahun, dunia medis meyakini bahwa kelenjar timus—organ kecil berbentuk seperti kacang kenari yang terletak di belakang tulang dada—hanya berfungsi penting pada masa kanak-kanak. Setelah melewati masa pubertas, organ ini menyusut drastis dan digantikan oleh jaringan lemak, sehingga lama dianggap sebagai organ vestigial atau “tidak berguna” pada orang dewasa. Akibat pandangan ini, ahli bedah kardiotoraks kerap mengangkat kelenjar timus (timektomi) secara rutin saat operasi dada untuk mempermudah akses ke jantung, dengan asumsi kehilangannya tidak berdampak pada kesehatan pasien.
Namun, dogma tersebut kini terbantahkan. Sebuah studi observasional berskala besar yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine (NEJM), hasil kerja sama peneliti Harvard University dan Massachusetts General Hospital (MGH), membuktikan bahwa kelenjar timus justru memainkan peran krusial dalam menjaga kesehatan orang dewasa—terutama dalam menangkal kanker dan penyakit autoimun.
Risiko Kanker Naik Dua Kali Lipat
Para peneliti menganalisis data ribuan pasien dewasa yang menjalani operasi dada. Hasilnya mengejutkan: pasien yang kelenjar timusnya diangkat memiliki risiko kematian dari segala penyebab hampir tiga kali lipat lebih tinggi dalam lima tahun pascaoperasi, dibandingkan dengan pasien yang mempertahankan organ tersebut.
Selain itu, pasien tanpa kelenjar timus juga memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk mengidap kanker dalam periode yang sama. Yang lebih mengkhawatirkan, kanker yang muncul pada kelompok ini cenderung lebih agresif dan memiliki tingkat kekambuhan lebih tinggi setelah pengobatan.
Mengapa Kelenjar Timus Begitu Penting?
Untuk memahami alasan di balik temuan ini, para peneliti memeriksa produksi sel imun serta kadar molekul terkait dalam darah pasien. Kelenjar timus adalah “pabrik” utama tempat sel T—sejenis sel darah putih—diproduksi dan dimatangkan. Sel-T berfungsi sebagai pasukan sistem imun yang mengenali dan menghancurkan infeksi maupun sel-sel ganas yang berpotensi menjadi kanker.
Meski menyusut seiring bertambahnya usia, kelenjar timus terbukti tetap aktif memproduksi sel T baru dan menjaga keragaman sel T sepanjang masa dewasa. Pada pasien yang timusnya telah diangkat, peneliti menemukan dua perubahan penting:
- Penurunan produksi sel T. Tubuh kehilangan kemampuan menghasilkan sel T baru, baik sel T helper maupun sel T sitotoksik. Akibatnya, sistem imun menjadi kurang adaptif dalam mendeteksi ancaman baru seperti sel kanker yang bermutasi.
- Peradangan sistemik. Pasien tanpa timus menunjukkan kadar sitokin proinflamasi yang lebih tinggi dalam darah, memicu peradangan kronis—kondisi yang mempermudah perkembangan tumor dan penyakit kronis lainnya.
Temuan ini menjadi peringatan penting bagi komunitas medis global untuk mengevaluasi kembali praktik pengangkatan timus yang sebenarnya tidak esensial dalam prosedur operasi. Kehadiran kelenjar timus yang sehat pada masa dewasa terbukti menjadi faktor penting dalam mendukung umur panjang dan efektivitas imunoterapi kanker modern.
Ke depan, mempertahankan kelenjar kecil ini sebisa mungkin selama operasi dada berpotensi besar menjadi standar klinis baru—sebuah langkah untuk melindungi sistem pertahanan alami tubuh yang selama ini diremehkan perannya.

