(Business Lounge – Essay on Global)Presentasi Chen Huifen dari The Business Times dalam Asia Economic Summit 2026 menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian saya. Di tengah banyak diskusi mengenai kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan investasi regional, Chen menyajikan sesuatu yang berbeda. Ia tidak berbicara tentang teori atau prediksi jangka panjang, melainkan tentang bagaimana para pemimpin bisnis ASEAN saat ini memandang dunia yang semakin tidak pasti. Presentasinya berjudul The Great ASEAN Pivot: Rewiring Capital and Intelligence for a Volatile 2026, sebuah judul yang terasa sangat tepat untuk menggambarkan perubahan besar yang sedang berlangsung di kawasan.
Menurut Chen Huifen, laporan yang dipresentasikan merupakan potret dari para pemimpin bisnis yang hadir di kawasan ASEAN. Dengan kata lain, laporan tersebut menggambarkan bagaimana investor, pelaku usaha, dan pengambil keputusan sedang berpikir, mengambil keputusan, serta menyesuaikan strategi mereka secara real time menghadapi perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
Salah satu temuan yang paling menarik adalah perubahan sentimen yang terjadi hanya dalam waktu beberapa bulan. Enam bulan lalu, ketika para pemimpin bisnis ditanya mengenai prospek tahun 2026, sebanyak 92 persen menyatakan optimistis. Asia Tenggara memasuki tahun ini dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tahun 2025 yang penuh gejolak dianggap telah berlalu dan dunia usaha mulai memandang masa depan dengan lebih positif.
Namun situasi berubah dengan cepat setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat tingkat optimisme turun menjadi 76 persen. Bersamaan dengan itu, ekspektasi terhadap pertumbuhan pendapatan, laba perusahaan, dan pangsa pasar juga mengalami penurunan.
Meski demikian, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Penurunan optimisme tersebut tidak diikuti oleh lonjakan kekhawatiran terhadap krisis ekonomi yang besar. Artinya, para pemimpin bisnis memang menjadi lebih berhati-hati, tetapi mereka belum kehilangan keyakinan terhadap prospek jangka panjang kawasan. Chen menyebut kondisi ini sebagai bentuk cautious confidence, yaitu optimisme yang lebih realistis dan terukur.
Dari sini muncul salah satu pesan terkuat dalam presentasi tersebut. Lanskap risiko telah berubah secara drastis. Jika selama 2025 banyak perusahaan berfokus pada inflasi biaya, gangguan teknologi, dan tantangan mendapatkan talenta, maka pada 2026 isu geopolitik langsung melonjak menjadi risiko utama. Gangguan rantai pasok juga meningkat tajam dalam daftar kekhawatiran para pelaku usaha.
Sebaliknya, isu talenta dan disrupsi teknologi justru turun peringkat. Bukan karena persoalan tersebut telah selesai, melainkan karena ancaman eksternal kini begitu dominan sehingga menutupi berbagai tantangan lainnya.Chen Huifen menyampaikan sebuah kalimat yang menurut saya menjadi inti dari perubahan tersebut. Ia mengatakan bahwa jika kerangka manajemen risiko perusahaan masih berfokus pada teknologi dan talenta, maka perusahaan itu sedang berperang dalam perang tahun lalu. Dunia telah berubah dan prioritas risiko juga berubah.
Bagian berikutnya membahas pertanyaan yang sangat penting bagi investor dan pelaku bisnis, yakni ke mana modal akan mengalir. Jawaban yang ditampilkan dalam survei ternyata sangat jelas. Mayoritas perusahaan berencana menempatkan investasi baru mereka di Asia, khususnya di ASEAN dan pasar domestik masing-masing.Minat untuk berinvestasi di Amerika Serikat dan Eropa masih ada, tetapi prioritasnya menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Bahkan perusahaan-perusahaan Indonesia termasuk yang paling kuat menunjukkan komitmen untuk memperluas investasi di dalam kawasan.
Temuan ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola pikir bisnis global. Selama bertahun-tahun, ekspansi ke pasar Barat dianggap sebagai tujuan utama perusahaan-perusahaan Asia. Kini pendekatan tersebut mulai berubah. ASEAN dan Asia secara keseluruhan semakin dipandang sebagai pusat pertumbuhan yang menawarkan peluang terbesar.Lebih dari 80 persen responden menyatakan bahwa pertumbuhan belanja modal mereka akan tetap berfokus pada Asia. Bahkan perusahaan-perusahaan Singapura yang selama ini dikenal memiliki orientasi global tetap menempatkan sebagian besar investasi barunya di kawasan Asia.
Terdapat tiga prioritas investasi utama yang muncul dalam survei tersebut. Pertama adalah AI dan teknologi informasi. Kedua adalah ekspansi ke pasar atau negara baru. Ketiga adalah investasi pada Internet of Things dan keamanan siber.Menariknya, terdapat perbedaan fokus di antara negara-negara ASEAN. Singapura menunjukkan orientasi paling kuat terhadap investasi AI, sementara Filipina menjadi negara yang paling agresif dalam strategi ekspansi pasar ke negara lain.
Menurut saya, temuan ini menunjukkan bahwa ASEAN tidak bergerak dalam satu pola yang seragam. Setiap negara sedang memainkan kekuatan masing-masing, tetapi seluruhnya bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu memperkuat posisi kawasan sebagai pusat pertumbuhan baru dunia.Hal lain yang sangat menarik adalah sikap perusahaan-perusahaan ASEAN terhadap rivalitas Amerika Serikat dan China. Banyak pihak beranggapan bahwa dunia sedang bergerak menuju pembentukan dua blok ekonomi besar yang saling bersaing. Namun hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan ASEAN tidak ingin memilih salah satu pihak.
Mereka justru memperdalam hubungan dengan kedua negara sekaligus. Chen Huifen menegaskan bahwa ini bukanlah sikap netral yang pasif, melainkan strategi yang cerdas dan pragmatis. Dalam dunia yang terus mendorong pilihan biner, kemampuan untuk menghindari pilihan tersebut justru menjadi bentuk kekuatan tersendiri.Pandangan ini mencerminkan pendekatan ASEAN selama bertahun-tahun. Kawasan ini memahami bahwa pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada keterbukaan dan konektivitas global. Karena itu menjaga hubungan baik dengan seluruh mitra utama merupakan pilihan yang paling rasional.
Presentasi tersebut kemudian beralih pada kawasan-kawasan yang dipandang sebagai koridor investasi paling menjanjikan dalam tiga tahun ke depan. Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura muncul sebagai salah satu koridor investasi teratas dalam survei. Dukungan terhadap kawasan ini sangat kuat terutama dari perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina.Namun koridor tersebut bukan satu-satunya pusat pertumbuhan baru. Chen juga menyoroti klaster manufaktur di Vietnam, koridor elektronik Penang di Malaysia, serta kawasan industri Jakarta dan Jawa Barat yang menjadi pilihan sekitar 60 persen responden Indonesia.
Bagi saya, bagian ini sangat penting karena menunjukkan bahwa perubahan rantai pasok global bukan lagi sekadar rencana. Perubahan tersebut sedang berlangsung saat ini. Perusahaan-perusahaan internasional mulai memindahkan kapasitas produksi, membangun fasilitas baru, dan membentuk jaringan manufaktur yang lebih beragam di seluruh Asia Tenggara.Karena itu Chen menekankan bahwa pemerintah memiliki peran yang sangat menentukan. Infrastruktur, kepastian regulasi, dan kemudahan investasi yang dibangun dalam dua tahun ke depan akan menentukan apakah minat investasi yang besar tersebut benar-benar berubah menjadi investasi nyata.
Salah satu temuan yang menurut saya paling relevan bagi Indonesia adalah adanya kesenjangan antara peluang dan kepercayaan. Para pemimpin bisnis melihat peluang ekonomi terbesar berada di Asia dan pasar domestik mereka sendiri. Namun pada saat yang sama tingkat kepercayaan mereka untuk mengeksekusi investasi tersebut belum sepenuhnya tinggi.Penyebabnya cukup jelas. Ketidakpastian regulasi, fragmentasi kebijakan, biaya operasional yang meningkat, serta persaingan yang semakin ketat menjadi hambatan utama. Dengan kata lain, ASEAN sangat menarik tetapi tidak selalu mudah untuk dijalankan.
Chen Huifen merangkum kondisi tersebut dengan sangat baik. Menurutnya, peluang tanpa kepercayaan hanyalah angka di atas papan tulis. Peluang ekonomi baru akan menghasilkan investasi apabila didukung oleh lingkungan usaha yang dapat dipercaya.Pada bagian akhir presentasi, pembahasan berfokus pada AI yang menjadi tema investasi terbesar di kawasan. Hampir seluruh perusahaan memiliki niat untuk mengadopsi AI, tetapi tingkat kesiapan mereka berbeda-beda.
Sekitar 45 persen responden masuk dalam kelompok AI Movers. Kelompok ini bergerak cepat, berani mengambil risiko, dan mengalokasikan investasi secara agresif demi memperoleh keunggulan kompetitif.Kelompok kedua adalah Pragmatic Optimizers. Mereka lebih selektif dalam mengadopsi AI dan hanya fokus pada proyek yang memberikan manfaat nyata bagi bisnis.Sementara itu terdapat kelompok yang lebih konservatif atau Cautious Traditionalists yang masih berhati-hati dalam melakukan transformasi.
Temuan yang paling menarik adalah bahwa hambatan terbesar terhadap AI bukanlah kurangnya minat, melainkan biaya. Hampir separuh responden menyebut biaya perangkat lunak, infrastruktur, dan implementasi sebagai tantangan utama. Hambatan lain adalah integrasi dengan sistem lama serta kurangnya kemampuan internal untuk menjalankan transformasi tersebut.Chen menggunakan analogi yang menarik. Semua orang ingin berlari, tetapi banyak perusahaan masih sibuk mengikat tali sepatu mereka. Kalimat tersebut menggambarkan kondisi transformasi digital di kawasan secara sangat tepat.Pesan yang saya tangkap dari presentasi ini sangat jelas. Keunggulan kompetitif di masa depan tidak akan dimiliki oleh perusahaan yang paling besar atau paling cepat. Keunggulan akan dimiliki oleh mereka yang mampu membangun kepercayaan, memahami perubahan, mengintegrasikan teknologi dengan baik, serta memiliki kesabaran dalam mengeksekusi strategi jangka panjang.
Dan mungkin kalimat paling penting dari seluruh presentasi adalah bahwa ASEAN bukan lagi rencana cadangan bagi investor global. ASEAN kini menjadi arena utama pertumbuhan berikutnya. Perusahaan yang akan memenangkan persaingan bukanlah mereka yang menunggu dunia kembali stabil, melainkan mereka yang memahami bahwa ketidakstabilan telah menjadi kondisi normal baru dan memilih membangun masa depan di tengah ketidakpastian tersebut.

