(Business Lounge Journal – News and Insight)
Prancis memiliki gerbang kemenangan yang megah dan menjadi salah satu monumen di Kota Paris yang layak dikunjungi. Terletak di jantung kota, tepatnya berada di tengah persimpangan 12 jalan utama di Place de l’Étoile, Champs-Élysées.
Monumen bergaya neoklasik ini pertama kali digagas dan dibangun oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1806 untuk memperingati kemenangan besar Prancis dalam Pertempuran Austerlitz. Napoleon ingin menyambut para prajuritnya melewati lengkungan kemenangan di atas kepala mereka sebagai simbol perayaan kemenangan.
Monumen kemenangan ini tidak selesai pembangunannya pada masa Napoleon, tetapi baru dirampungkan pada tahun 1836 pada masa pemerintahan Raja Louis-Philippe.
Sebagai tanda penghormatan bagi para pahlawan Prancis, terukir dengan rapi sebanyak 660 nama jenderal dan pertempuran yang pernah dimenangkan bangsa Prancis. Monumen ini juga dapat diartikan sebagai buku sejarah bangsa Prancis dalam perjalanannya menjadi salah satu bangsa besar di Eropa Barat.
Monumen L’Arc de Triomphe memang sangat megah dan mempesona. Desain monumen ini terinspirasi dari Arch of Titus di Roma, Italia, yang melambangkan keagungan bangsa Romawi sekitar tahun 81 Masehi. Monumen tersebut dibangun untuk merayakan kemenangan Kaisar Titus. Bentuk lengkungan di atas monumen menjadi simbol penyambutan bagi para pahlawan. Bentuk lengkungan sederhana ini kemudian diwariskan dalam pembangunan monumen-monumen berikutnya, bukan hanya di Eropa, melainkan juga di seluruh dunia.
Selain Menara Eiffel, wisatawan mancanegara kerap mengabadikan momen kunjungan mereka ke Kota Paris dengan berfoto di Monumen L’Arc de Triomphe. Tinggi monumen ini mencapai 50 meter, lebar 45 meter, kedalaman 22 meter, dan beratnya diperkirakan mencapai sekitar 1.000 ton.
Janji Napoleon kepada para serdadunya adalah, “Kalian akan pulang melalui gerbang kemenangan….” Semangat Napoleon terlihat jelas di dalam monumen ini. L’Arc de Triomphe benar-benar memberikan pesan untuk menghargai semangat para pahlawan, sekaligus menjadi inspirasi perjuangan dan perayaan kemenangan.
L’Arc de Triomphe telah menginspirasi berbagai monumen lain di seluruh dunia untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Beberapa monumen dengan tema serupa yang dibangun di negara lain antara lain:
1. Washington Square Arch (New York, Amerika Serikat)
Monumen kemenangan ini terletak di Washington Square Park, Lower Manhattan, New York City. Gerbang ini didesain megah dan menjadi pusat kehidupan budaya serta sejarah di kawasan Greenwich Village.
Pembangunannya selesai pada tahun 1892 untuk memperingati George Washington sebagai Presiden Amerika Serikat pertama. Semangat nasionalisme Eropa terlihat jelas menyebar hingga ke Negeri Paman Sam.
2. India Gate (New Delhi, India)
Monumen India Gate dibangun pada tahun 1921–1931 sebagai memorial bagi tentara India yang berperang pada Perang Dunia I. Bentuk bangunan India Gate memiliki kemiripan dengan L’Arc de Triomphe di Paris.
Monumen ini didesain oleh Sir Edwin Lutyens, seorang arsitek Inggris yang terinspirasi oleh L’Arc de Triomphe. Tinggi monumen ini mencapai 42 meter dan berdiri di tengah lapangan luas yang menjadi magnet wisatawan serta ikon Kota New Delhi.
3. Patuxai Monument (Vientiane, Laos)
Laos, yang pernah menjadi koloni Prancis, mengadopsi bentuk L’Arc de Triomphe, tetapi monumen ini memiliki jiwa dan detail khas budaya Laos.
Dibangun sejak tahun 1957 dan baru selesai pada 1968, “Patuxai” berarti gerbang kemenangan untuk mengenang perjuangan bangsa Laos dalam meraih kemerdekaan.
Pengunjung dapat naik ke atas monumen. Di dalamnya terdapat museum yang memuat foto-foto perjuangan bangsa Laos. Dari atas monumen, terlihat pemandangan Avenue Lane Xang.
4. Arcul de Triumf (Bukares, Rumania)
Kota Bukares sering disebut sebagai “Paris di Timur”. Di kota ini dibangun sebuah busur kemenangan yang mirip dengan L’Arc de Triomphe dengan desain yang sangat estetis.
Yang unik, monumen kemenangan ini dibangun tiga kali di lokasi yang sama. Pertama pada tahun 1878 untuk merayakan kemenangan Perang Kemerdekaan, namun hanya dibuat dari bahan kayu.
Pada tahun 1922, monumen dibangun kembali menggunakan kayu yang diplester untuk penobatan Raja Ferdinand I dan Ratu Maria setelah Perang Dunia I. Namun, monumen tersebut rusak akibat cuaca.
Akhirnya, pada tahun 1935–1936, monumen dibangun kembali menggunakan beton dan batu. Arsitek Petre Antonescu memutuskan menggunakan granit dari Deva dengan tinggi 27 meter dan relief patung bergaya Romawi.
5. Siegestor (Munich, Jerman)
Siegestor merupakan gerbang kemenangan Jerman yang memiliki tiga lengkungan dan dibangun untuk menghormati kejayaan tentara Bavaria.
Gerbang ini dibangun atas perintah Raja Ludwig I dari Bavaria antara tahun 1843 hingga 1852. Arsiteknya adalah Friedrich von Gärtner dan kemudian diselesaikan oleh Eduard Mezger.
Siegestor pernah mengalami kerusakan parah akibat pengeboman pada Perang Dunia II. Pada tahun 1950 dilakukan restorasi, dan diputuskan bahwa sisi belakang Siegestor dibuat lebih sederhana tanpa ornamen rumit. Pemerintah sengaja mempertahankan detail tersebut untuk mengingatkan bahwa perang selalu membawa kehancuran.
Foto: Rini Sinyal

