Daimler Truck

Daimler dan Foxconn Garap Bus Listrik Jepang

(Business Lounge – Automotive) Daimler Truck kembali mempertegas arah strateginya menuju elektrifikasi kendaraan niaga. Unit bisnisnya di Jepang, Mitsubishi Fuso Truck and Bus, resmi menggandeng Foxconn untuk membentuk perusahaan patungan yang akan mengembangkan dan memproduksi bus listrik. Pabrik perakitan akan berlokasi di Toyama, Jepang, fasilitas yang selama ini menjadi basis produksi Mitsubishi Fuso. Langkah ini menandai babak baru kolaborasi lintas industri antara manufaktur otomotif tradisional dan raksasa teknologi asal Taiwan tersebut.

Kerja sama ini mencerminkan percepatan transformasi industri kendaraan komersial di tengah tekanan global untuk menekan emisi karbon. Daimler Truck, yang merupakan salah satu produsen truk terbesar di dunia, melihat Asia sebagai pasar strategis bagi kendaraan listrik komersial, terutama bus perkotaan. Jepang, dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kebutuhan transportasi ramah lingkungan, menjadi lokasi ideal untuk proyek ini, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

Foxconn, yang selama ini dikenal sebagai perakit utama produk Apple, semakin agresif memperluas portofolionya di sektor kendaraan listrik. Setelah sebelumnya mengembangkan platform EV dan menjalin kerja sama dengan berbagai produsen otomotif, kemitraan dengan Daimler Truck menjadi langkah penting untuk masuk lebih dalam ke segmen kendaraan komersial. Melalui proyek ini, Foxconn akan menyumbang keahlian dalam manufaktur berskala besar, teknologi elektronik, serta efisiensi rantai pasok, seperti diulas Reuters.

Bus listrik hasil kolaborasi ini akan dikembangkan dan diproduksi di fasilitas Mitsubishi Fuso di Toyama. Pabrik tersebut selama ini dikenal sebagai pusat produksi kendaraan komersial untuk pasar Jepang dan Asia. Dengan tambahan lini produksi bus listrik, fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu hub utama kendaraan ramah lingkungan di kawasan tersebut. Produksi perdana ditargetkan dimulai dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan peningkatan permintaan transportasi publik berbasis listrik.

Langkah Daimler Truck ini sejalan dengan strategi globalnya untuk mengurangi ketergantungan pada mesin pembakaran internal. Perusahaan telah menegaskan komitmen jangka panjang menuju kendaraan tanpa emisi, baik berbasis baterai maupun hidrogen. Di Eropa dan Amerika Utara, Daimler sudah meluncurkan berbagai model truk listrik, dan kini fokus bergeser ke Asia yang pertumbuhan pasar bus listriknya dinilai sangat menjanjikan, menurut Financial Times.

Bagi Jepang, kerja sama ini memiliki arti strategis. Pemerintah Jepang tengah mendorong percepatan dekarbonisasi sektor transportasi, termasuk melalui elektrifikasi armada bus kota. Kehadiran bus listrik hasil kolaborasi Daimler Foxconn diharapkan dapat membantu pemerintah daerah mempercepat transisi energi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Selain itu, proyek ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik domestik.

Dari sisi bisnis, kolaborasi ini dinilai saling menguntungkan. Daimler membawa pengalaman panjang dalam desain dan keselamatan kendaraan komersial, sementara Foxconn unggul dalam efisiensi produksi, perangkat lunak, dan integrasi sistem elektronik. Kombinasi ini diyakini dapat menghasilkan bus listrik dengan biaya lebih kompetitif, sebuah faktor krusial di pasar transportasi publik yang sangat sensitif terhadap harga, seperti dicatat Nikkei Asia.

Namun, tantangan tetap ada. Persaingan di pasar bus listrik semakin ketat, terutama dari produsen China yang agresif menawarkan produk dengan harga lebih rendah. Selain itu, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada adopsi pasar dan dukungan infrastruktur pengisian daya. Tanpa jaringan pengisian yang memadai, penetrasi bus listrik berisiko berjalan lebih lambat dari target.

Meski demikian, langkah Daimler Truck dan Foxconn dinilai sebagai sinyal kuat bahwa elektrifikasi kendaraan komersial bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah memasuki fase implementasi serius. Kolaborasi ini juga menunjukkan bagaimana batas antara industri teknologi dan otomotif semakin kabur, dengan kedua sektor saling melengkapi untuk menjawab tuntutan mobilitas masa depan.

Bagi Daimler, proyek ini memperkuat posisinya di Asia dan memperluas portofolio kendaraan listriknya. Bagi Foxconn, ini menjadi pijakan penting untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya pemain di industri elektronik konsumen, tetapi juga mitra strategis dalam revolusi kendaraan listrik global. Jika berjalan sesuai rencana, bus listrik dari Toyama berpotensi menjadi simbol transformasi baru industri transportasi Jepang, seperti banyak disoroti oleh Reuters dan Bloomberg.