maskapai penerbangan Boeing

Boeing Amankan Pesanan Besar Dari Turkish Airlines

(Business Lounge – Global News) Boeing kembali mendapatkan dorongan penting dalam upayanya mempertahankan posisi di pasar penerbangan global setelah Turkish Airlines mengumumkan keputusan untuk memesan hingga 225 pesawat baru dari pabrikan asal Amerika Serikat tersebut. Menurut laporan Wall Street Journal dan Bloomberg, kesepakatan ini mencakup hingga 75 unit pesawat tipe Dreamliner 787-9 dan 787-10, serta tambahan hingga 150 unit pesawat narrow-body 737-8 dan 737-10 MAX.

Langkah Turkish Airlines ini disebut sebagai salah satu pemesanan terbesar dalam sejarah maskapai, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa permintaan perjalanan udara internasional terus pulih pascapandemi. Pemesanan dalam jumlah besar juga menunjukkan kepercayaan terhadap kapasitas Boeing untuk memenuhi kebutuhan ekspansi maskapai yang bercita-cita menjadi salah satu hub global terbesar dalam dekade mendatang.

Menurut Reuters, Turkish Airlines memang telah lama menempatkan diri sebagai penghubung penting antara Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Dengan basis operasional di Istanbul yang strategis, perusahaan memiliki ambisi menjadikan bandara barunya sebagai salah satu pusat transit internasional terbesar. Armada baru dari Boeing diperkirakan akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan strategi itu.

Pesanan kali ini terdiri dari dua kategori pesawat yang memiliki peran berbeda. Boeing 787 Dreamliner dikenal sebagai pesawat berbadan lebar yang efisien dalam konsumsi bahan bakar, dirancang untuk penerbangan jarak jauh. Kehadiran 75 unit tambahan akan memperkuat kapasitas Turkish Airlines dalam melayani rute-rute interkontinental, terutama antara Eropa dan Amerika, serta Asia dan Afrika. Sementara itu, pesawat narrow-body 737 MAX diproyeksikan untuk menopang rute regional dan domestik, dengan fleksibilitas tinggi dalam menghubungkan kota-kota sekunder ke jaringan utama.

Kesepakatan ini juga datang pada momen krusial bagi Boeing. Produsen pesawat asal Seattle tersebut masih menghadapi dampak dari krisis reputasi terkait masalah teknis 737 MAX beberapa tahun lalu dan tantangan produksi terbaru pada lini 787. Financial Times mencatat bahwa pemesanan dari Turkish Airlines berpotensi memulihkan sebagian kepercayaan pasar sekaligus memperkuat posisi Boeing dalam persaingan sengit dengan Airbus.

Airbus sendiri selama beberapa tahun terakhir mendominasi penjualan global dengan seri A320neo dan A350. Namun, pemesanan besar dari Turkish Airlines ini memperlihatkan bahwa Boeing masih memiliki daya tarik, terutama bagi maskapai yang ingin memanfaatkan kombinasi pesawat narrow-body dan wide-body dari satu produsen untuk efisiensi operasional.

Menurut analisis CNBC, pemesanan Turkish Airlines juga dipengaruhi oleh kebutuhan mendesak maskapai untuk memperbarui armadanya. Sebagian besar armada berbadan sempit mereka sudah memasuki usia lebih dari satu dekade. Dengan meningkatnya jumlah penumpang dan rencana ekspansi ke pasar baru, investasi besar dalam pesawat hemat bahan bakar menjadi langkah logis untuk menekan biaya sekaligus memenuhi standar keberlanjutan industri.

Selain itu, faktor geopolitik turut memainkan peran. Turki berusaha menempatkan dirinya sebagai jembatan ekonomi dan politik antara Barat dan Timur. Memilih Boeing untuk pesanan besar ini bisa dipandang sebagai bagian dari diplomasi ekonomi yang memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat. Walaupun demikian, analis juga menekankan bahwa Turkish Airlines tetap menjaga keseimbangan karena sebelumnya mereka juga telah memesan sejumlah unit Airbus A350.

Kesepakatan yang melibatkan hingga 225 pesawat ini berpotensi bernilai puluhan miliar dolar, meski angka pastinya tidak diungkapkan. Berdasarkan harga katalog, nilai pemesanan bisa melampaui 40 miliar dolar, namun biasanya maskapai mendapatkan diskon signifikan dalam kesepakatan besar. Terlepas dari nilai pastinya, kontrak ini tetap menjadi salah satu tonggak penting dalam portofolio penjualan Boeing tahun ini.

Bagi Turkish Airlines, tambahan pesawat akan memungkinkan ekspansi besar-besaran. Maskapai ini sudah melayani lebih dari 120 negara, lebih banyak dibandingkan maskapai besar lainnya. Dengan dukungan armada baru, mereka menargetkan peningkatan kapasitas hingga 2030 dan memperkuat posisinya sebagai salah satu operator internasional paling beragam. Bloomberg menyebut bahwa armada tambahan dapat membuka jalur baru ke Amerika Selatan, Australia, serta memperkuat konektivitas ke Afrika.

Namun, tantangan besar tetap menanti. Boeing masih menghadapi kendala dalam menjaga ritme produksi, terutama karena masalah rantai pasok global. Reuters melaporkan bahwa pengiriman beberapa model 737 MAX dan 787 sempat tertunda akibat komponen yang tidak memenuhi standar. Dengan adanya pesanan besar dari Turkish Airlines, tekanan pada rantai pasok diperkirakan akan semakin besar, sehingga manajemen Boeing dituntut untuk meningkatkan kapasitas produksi secara konsisten.

Dari sisi Turkish Airlines, tantangan utama adalah memastikan bahwa ekspansi armada sejalan dengan pertumbuhan permintaan. Pasar penerbangan global memang sedang pulih, tetapi ketidakpastian ekonomi dunia, termasuk inflasi dan harga bahan bakar yang fluktuatif, bisa memengaruhi profitabilitas jangka panjang. Selain itu, maskapai juga perlu mengantisipasi potensi perlambatan permintaan di beberapa pasar kunci seperti Asia atau Eropa jika kondisi ekonomi melemah.

Meski demikian, para analis menilai keputusan ini tetap strategis. Turkish Airlines memanfaatkan momentum di mana permintaan perjalanan internasional sedang melonjak, sementara kapasitas global masih terbatas akibat banyak maskapai belum sepenuhnya mengembalikan armada mereka ke tingkat pra-pandemi. Dengan menambah pesawat baru, Turkish Airlines memiliki peluang untuk merebut pangsa pasar dan memperkuat daya saing global.

Keberhasilan Boeing mengamankan pesanan ini juga akan memengaruhi lanskap kompetisi dengan Airbus. Menurut Financial Times, dalam beberapa tahun terakhir Airbus sering kali unggul dalam perebutan kontrak besar berkat portofolio pesawat hemat bahan bakar. Namun, kesepakatan Turkish Airlines menunjukkan bahwa Boeing masih memiliki basis pelanggan setia dan mampu menawarkan solusi lengkap untuk kebutuhan maskapai besar.