General Motors GM

GM Menghadapi Perubahan Besar Selera Konsumen Amerika

(Business Lounge – Global News) GM memasuki kuartal terakhir 2026 dengan sebuah gambaran yang cukup kompleks. Penjualan kendaraan di Amerika Serikat pada kuartal ketiga turun 5,5% menjadi 670.974 unit dari 710.347 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan adanya pelemahan permintaan, tetapi di balik penurunan total itu terdapat cerita yang jauh lebih menarik. Kendaraan dengan volume terbesar milik GM relatif bertahan, sementara kendaraan listrik mengalami kemerosotan tajam. Pada saat yang sama, SUV kecil dan pickup tetap menjadi penopang penting bisnis perusahaan.

Penurunan tersebut terjadi ketika konsumen Amerika menghadapi harga bensin yang jauh lebih tinggi. Menurut Reuters, harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat mencapai sekitar US$4,43 per galon pada September, dibandingkan US$3,20 setahun sebelumnya. Kondisi tersebut mulai memengaruhi pilihan kendaraan. Konsumen semakin memperhatikan efisiensi bahan bakar, sementara kendaraan hybrid memperoleh perhatian lebih besar. Toyota, yang memiliki portofolio hybrid jauh lebih luas, menjadi salah satu perusahaan yang mampu menangkap perubahan tersebut. Penjualan Toyota pada kuartal ketiga justru meningkat tipis menjadi 633.223 unit.

Bagi GM, persoalannya menjadi lebih rumit karena perusahaan belum memiliki portofolio hybrid yang seluas pesaing Jepangnya. Bahkan di tengah kenaikan harga bensin, GM masih sangat bergantung pada kendaraan berbahan bakar konvensional seperti pickup besar dan SUV. Strategi tersebut selama bertahun-tahun menjadi salah satu kekuatan finansial perusahaan karena kendaraan berukuran besar dapat menghasilkan pendapatan dan margin yang menarik. Namun, ketika harga bahan bakar naik, konsumen memiliki alasan tambahan untuk mempertimbangkan kendaraan yang lebih hemat. Perubahan kecil dalam perilaku tersebut dapat memberikan dampak besar bagi produsen dengan portofolio yang berat pada kendaraan besar.

Sementara itu, kendaraan listrik GM mengalami penurunan yang jauh lebih tajam daripada penjualan keseluruhan. Berdasarkan data model perusahaan, penjualan EV GM di Amerika Serikat sekitar 25.500 unit pada kuartal ketiga, turun sekitar 62% dari tahun sebelumnya. EV yang sebelumnya memperoleh dorongan besar menjelang berakhirnya kredit pajak federal US$7.500 pada September 2025 kini menghadapi perbandingan yang sangat sulit. Chevrolet Equinox EV bahkan turun 92,4% menjadi hanya 1.905 unit, sementara Blazer EV merosot 84,4%. GMC Hummer EV juga turun 72,9%.

Namun, membaca angka tersebut hanya sebagai kegagalan kendaraan listrik GM akan terlalu sederhana. Basis perbandingannya memang sangat berbeda. Pada kuartal ketiga 2025, konsumen mempercepat pembelian EV untuk memanfaatkan insentif federal sebelum program tersebut berakhir. Setelah insentif hilang, permintaan turun di seluruh industri. Dengan demikian, penurunan EV GM mencerminkan kombinasi antara berakhirnya insentif, perubahan harga energi, dan kondisi pasar EV yang lebih lemah. Reuters mencatat bahwa penurunan tersebut terjadi ketika produsen otomotif Amerika secara keseluruhan menghadapi perubahan permintaan terhadap kendaraan listrik.

Menariknya, bagian lain dari portofolio GM justru menunjukkan ketahanan. Chevrolet Trax, misalnya, menjadi salah satu kendaraan yang membantu menahan penurunan total. GM juga mencatat pertumbuhan pada SUV kecil seperti Trax dan Buick Envista. Data perusahaan menunjukkan penjualan Envista naik 18,4% menjadi 18.094 unit pada kuartal ketiga, sedangkan penjualan Corvette melonjak 28,5%. Ini menunjukkan bahwa konsumen tidak sepenuhnya meninggalkan GM. Mereka masih membeli kendaraan perusahaan, tetapi pilihan mereka semakin terkonsentrasi pada kategori yang dianggap memberikan kombinasi harga, ukuran dan kegunaan yang sesuai.

Pickup besar juga tetap menjadi fondasi penting. GM menyatakan dirinya masih memimpin segmen full-size pickup dan sedang menyiapkan generasi berikutnya dari Chevrolet Silverado dan GMC Sierra. Model baru tersebut dijadwalkan mulai masuk ruang pamer pada akhir 2026. Bagi perusahaan, peluncuran ini sangat penting karena pickup besar bukan hanya kendaraan dengan volume tinggi, tetapi juga bagian dari struktur keuntungan GM. Ketika pasar EV sedang melemah, kemampuan mempertahankan permintaan terhadap Silverado dan Sierra memberikan penyangga yang penting bagi perusahaan.

Persoalan strategisnya adalah bagaimana GM menyeimbangkan dua arah yang berbeda. Di satu sisi, perusahaan harus mengikuti permintaan pasar saat ini, yang masih sangat kuat untuk pickup dan SUV berbahan bakar konvensional. Di sisi lain, perusahaan tetap harus membangun kemampuan teknologi untuk masa depan kendaraan listrik. CEO Mary Barra sebelumnya mengatakan bahwa GM masih melihat EV sebagai tujuan jangka panjang. Perusahaan juga telah melakukan investasi besar pada teknologi dan kapasitas manufaktur. Tantangannya adalah menentukan seberapa cepat investasi tersebut harus dilakukan ketika konsumen Amerika belum menunjukkan permintaan EV yang konsisten.

Perubahan tersebut juga memperlihatkan pergeseran kompetisi di pasar otomotif Amerika. GM masih menjadi penjual kendaraan terbesar di Amerika Serikat pada kuartal ketiga, tetapi jaraknya dengan Toyota semakin mengecil. Toyota menjual 633.223 kendaraan, hanya sekitar 38.000 unit di bawah GM. Yang menarik bukan hanya volumenya, tetapi komposisi penjualan. Toyota memiliki lini hybrid yang luas dan penjualan kendaraan elektrifikasinya meningkat 28,5% pada kuartal tersebut. Sementara itu, penjualan EV GM justru turun lebih dari separuh. Persaingan dengan demikian tidak lagi hanya mengenai siapa yang menjual kendaraan paling banyak, tetapi siapa yang memiliki kombinasi teknologi yang paling sesuai dengan kondisi energi dan preferensi konsumen.

GM masih memiliki beberapa modal penting untuk menghadapi perubahan tersebut. Perusahaan mempunyai jaringan dealer yang luas, merek yang kuat, posisi dominan dalam pickup dan SUV, serta kapasitas manufaktur Amerika yang besar. Namun, angka kuartal ketiga menunjukkan bahwa kekuatan tersebut tidak otomatis membuat seluruh portofolio kebal terhadap perubahan pasar. Ketika konsumen mulai mengurangi pembelian EV dan semakin memperhatikan konsumsi bahan bakar, struktur produk menjadi sangat menentukan. GM harus menjaga bisnis lamanya tetap kuat sambil membangun jembatan menuju teknologi baru.

Karena itu, angka penurunan 5,5% sebenarnya hanya merupakan permukaan dari perubahan yang lebih besar. Di bawahnya terdapat pergeseran dari EV menuju kendaraan konvensional, meningkatnya perhatian terhadap harga bensin, pertumbuhan hybrid, serta persaingan yang semakin dekat dengan Toyota. GM masih memiliki volume besar dan sejumlah model yang menunjukkan pertumbuhan, tetapi pasar otomotif Amerika sedang mengirimkan sinyal bahwa konsumen tidak bergerak dalam satu arah. Mereka memilih berdasarkan harga, efisiensi, ukuran, fungsi dan teknologi secara bersamaan. Bagi GM, kemampuan membaca kombinasi kebutuhan tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan bentuk bisnis otomotifnya setelah 2026.

Sumber internasional: The Wall Street Journal, Reuters, dan data resmi General Motors.