(Business Lounge Journal – Human Resources)
Setiap tiga bulan, perusahaan publik menghadapi momen yang sama: laporan kinerja kuartalan. Pendapatan, laba, pertumbuhan pelanggan, hingga proyeksi bisnis menjadi sorotan investor. Tidak sedikit CEO yang akhirnya lebih sibuk memastikan angka kuartal ini terlihat baik daripada mempersiapkan perusahaan menghadapi lima atau sepuluh tahun ke depan.
Padahal, sejarah bisnis menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar justru dibangun melalui keputusan yang sering kali tidak langsung menghasilkan keuntungan. Mereka berani berinvestasi, mengembangkan teknologi baru, mengakuisisi perusahaan strategis, bahkan menerima tekanan pasar demi membangun masa depan.
Pemikiran inilah yang disampaikan Bill McDermott, CEO ServiceNow, dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal. Menurutnya, seorang CEO di era AI harus mulai berpikir seperti seorang venture capitalist (VC). Artinya, tidak hanya mengelola bisnis hari ini, tetapi juga berani mengambil keputusan besar yang mungkin baru membuahkan hasil beberapa tahun mendatang.
Pernyataan tersebut terasa sangat relevan. Kehadiran AI telah mengubah hampir semua industri dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, CEO yang hanya berusaha mempertahankan kondisi saat ini justru berisiko tertinggal.
Berani Mengorbankan Hasil Jangka Pendek
Bill McDermott mengatakan bahwa terkadang sebuah strategi besar memang harus dibayar dengan hasil jangka pendek yang kurang menyenangkan.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Meski dikenal sebagai salah satu perusahaan perangkat lunak enterprise dengan pertumbuhan tercepat, ServiceNow juga tidak luput dari tekanan pasar. Harga sahamnya sempat turun sekitar 43 persen dari level tertinggi dalam 52 minggu terakhir. Namun, Bill McDermott menegaskan bahwa fluktuasi jangka pendek tersebut tidak mengubah strategi perusahaan. Ia tetap memilih berinvestasi pada AI, memperkuat platform, dan mengakuisisi kapabilitas strategis yang diyakini akan memberikan nilai lebih besar dalam jangka panjang.
Pandangan ini sebenarnya mengingatkan kita pada sebuah tulisan terkenal yang diterbitkan Warren Buffett dan Jamie Dimon di The Wall Street Journal pada tahun 2018. Mereka mengingatkan bahwa terlalu fokus pada panduan laba kuartalan dapat mendorong perusahaan mengejar keuntungan jangka pendek dengan mengorbankan strategi, pertumbuhan, dan keberlanjutan jangka panjang.
Delapan tahun kemudian, pesan tersebut justru terasa semakin relevan.
AI membuat perubahan berlangsung jauh lebih cepat. Teknologi yang hari ini menjadi keunggulan kompetitif bisa saja menjadi usang dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mempertahankan bisnis yang sudah ada. Mereka juga harus terus membangun bisnis masa depan.
Namun, mengambil keputusan jangka panjang bukan berarti mengabaikan kondisi saat ini. CEO tetap harus menjaga kesehatan keuangan perusahaan, mengelola risiko, dan memastikan operasional berjalan baik. Bedanya, mereka tidak membiarkan tekanan jangka pendek menghambat investasi yang penting bagi masa depan.
Inilah salah satu perbedaan utama antara seorang manajer dan seorang pemimpin transformasional. Manajer berusaha memastikan organisasi berjalan efisien hari ini. Pemimpin transformasional memastikan organisasi tetap relevan lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Berpikir Seperti Venture Capitalist
Apa sebenarnya yang dimaksud berpikir seperti venture capitalist?
Banyak orang menganggap VC hanya identik dengan investasi pada startup. Padahal, cara berpikir mereka jauh lebih menarik dibanding sekadar aktivitas pendanaannya. Seorang venture capitalist memahami bahwa tidak semua investasi akan berhasil. Namun, satu keputusan yang tepat dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa kegagalan yang dialami sebelumnya.
Di dunia korporasi, pendekatan ini mulai terlihat semakin jelas.
Perusahaan tidak hanya mengembangkan teknologi sendiri, tetapi juga mengakuisisi perusahaan lain yang memiliki kemampuan strategis. ServiceNow, misalnya, memperkuat posisinya melalui akuisisi Element AI pada tahun 2020, kemudian memperluas kapabilitas keamanan siber melalui akuisisi Armis dan Veza.
Strategi seperti ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekadar mengejar pertumbuhan pendapatan. Mereka sedang membangun fondasi agar tetap menjadi pemain penting ketika lanskap teknologi berubah.
Menariknya, Gartner memperkirakan belanja teknologi informasi global tahun ini tumbuh sekitar 14,2 persen, sebagian besar didorong oleh investasi AI. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di seluruh dunia sedang berlomba membangun kapabilitas baru, bukan sekadar mengurangi biaya operasional.
Namun, ada satu perbedaan penting antara CEO dan venture capitalist.
Seorang VC menyebarkan investasinya ke banyak perusahaan sehingga risiko dapat dibagi. Sebaliknya, seorang CEO hanya memiliki satu perusahaan. Seluruh keputusan strategis yang diambil akan langsung memengaruhi masa depan organisasi tersebut.
Karena itulah keberanian seorang CEO bukan berarti mengambil risiko tanpa perhitungan. Keberanian yang dibutuhkan adalah kemampuan memilih investasi yang benar-benar akan memperkuat posisi perusahaan dalam jangka panjang.
Memimpin Perubahan, Bukan Sekadar Mengikutinya
Dalam wawancaranya, Bill McDermott mengatakan bahwa jika seorang CEO tidak terus berusaha berada selangkah di depan pasar, maka sulit melihat apa sebenarnya nilai dari peran tersebut. Pernyataan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat kuat. Banyak organisasi masih mengambil keputusan berdasarkan apa yang sedang terjadi hari ini. Mereka baru bereaksi ketika pesaing sudah lebih dahulu meluncurkan produk baru atau ketika perubahan pasar mulai mengurangi pendapatan perusahaan.
Pendekatan seperti itu mungkin cukup pada masa lalu. Namun di era AI, perubahan berlangsung terlalu cepat. CEO tidak lagi cukup menjadi pengelola organisasi. Mereka harus menjadi arsitek masa depan perusahaan. Artinya, mereka harus mampu membaca arah perubahan teknologi, memahami kebutuhan pelanggan beberapa tahun ke depan, dan menyiapkan organisasi sebelum perubahan itu benar-benar terjadi.
Tentu saja, tidak semua keputusan akan berhasil. Akan ada investasi yang tidak memberikan hasil sesuai harapan. Akan ada produk yang gagal. Akan ada akuisisi yang ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Namun, risiko terbesar saat ini justru bukan kegagalan investasi. Risiko terbesar adalah memilih untuk tidak berubah.
Dalam banyak kasus, perusahaan besar bukan kehilangan posisinya karena membuat terlalu banyak keputusan berani. Mereka justru tertinggal karena terlalu lama mempertahankan cara lama ketika dunia sudah berubah.
Karena itu, CEO masa depan membutuhkan keberanian yang berbeda. Bukan keberanian mengambil risiko secara sembarangan, tetapi keberanian untuk melihat lebih jauh dibandingkan tekanan laporan kuartalan.
Mereka harus mampu menyeimbangkan dua tanggung jawab sekaligus: menjaga kinerja perusahaan hari ini dan membangun perusahaan yang tetap relevan di masa depan.
Pada akhirnya, mungkin inilah makna berpikir seperti seorang venture capitalist. Bukan karena CEO harus menjadi investor, melainkan karena mereka harus memiliki cara pandang yang sama: melihat peluang sebelum orang lain melihatnya, berani berinvestasi ketika hasilnya belum terlihat, dan membangun nilai yang baru akan sepenuhnya dirasakan bertahun-tahun kemudian.
Di era AI, kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan menghasilkan laba pada kuartal berikutnya. Kepemimpinan akan semakin diukur dari kemampuan menyiapkan organisasi menghadapi perubahan yang bahkan belum sepenuhnya terjadi. Itulah sebabnya, seperti yang disampaikan Bill McDermott, visi harus lebih besar daripada rasa takut. Sebab perusahaan yang hanya sibuk mempertahankan kondisi hari ini mungkin akan kesulitan menemukan tempatnya di masa depan.

