Oracle

AI Mengguncang Industri Software: Mengapa Oracle Justru Melihat Peluang

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Dalam beberapa bulan terakhir, industri teknologi diramaikan oleh istilah baru yang cukup menakutkan bagi perusahaan software: “SaaS-apocalypse.” Istilah ini merujuk pada kemungkinan bahwa kemajuan kecerdasan buatan—terutama AI agent dan AI coding tools—akan menggantikan banyak aplikasi perangkat lunak tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis digital.

Namun di tengah kekhawatiran tersebut, pendiri dan chairman Larry Ellison dari Oracle Corporation justru mengambil posisi yang berbeda. Dalam panggilan laporan keuangan terbaru perusahaan, Ellison mengakui bahwa AI memang akan mengguncang industri software. Tetapi menurutnya, perubahan tersebut tidak akan merugikan Oracle—bahkan justru bisa memperkuat posisinya di pasar.

Ketakutan Baru: “SaaS-Apocalypse”

Selama dua dekade terakhir, model Software-as-a-Service (SaaS) menjadi fondasi ekonomi digital. Perusahaan menggunakan berbagai aplikasi berbasis cloud—mulai dari sistem akuntansi, HR, hingga manajemen pelanggan—yang disediakan oleh vendor teknologi. Namun munculnya AI generatif dan AI agent mulai memunculkan pertanyaan baru. Jika AI mampu menulis kode sendiri, mengotomatisasi proses bisnis, bahkan menjalankan fungsi analisis atau pemasaran secara otomatis, apakah perusahaan masih membutuhkan banyak aplikasi SaaS?

Ketakutan ini sempat mengguncang pasar teknologi. Dalam beberapa minggu, saham perusahaan software global turun tajam karena investor khawatir AI akan menggantikan sebagian fungsi aplikasi bisnis tradisional.

Bagi sebagian analis, AI agent dapat menggantikan banyak fungsi aplikasi seperti:

  • analisis data
  • pembuatan laporan
  • manajemen workflow
  • pemasaran digital
  • layanan pelanggan

Dengan kata lain, perusahaan mungkin tidak lagi membutuhkan banyak software yang terpisah jika AI mampu melakukan semuanya secara langsung.

Oracle: AI Akan Mengganggu, Tapi Bukan Kami

Dalam panggilan laporan keuangan perusahaan, Ellison menyampaikan pandangan yang cukup provokatif. Ia mengatakan bahwa AI memang berpotensi mengganggu industri SaaS—tetapi dampaknya tidak akan merata. Menurutnya, perusahaan software yang hanya menyediakan satu fungsi sempit berpotensi paling terdampak. Namun perusahaan seperti Oracle yang menyediakan sistem bisnis inti yang kompleks justru akan semakin kuat. Ellison bahkan mengatakan bahwa “SaaS-apocalypse mungkin berlaku bagi perusahaan lain, tetapi tidak bagi kami.”

Alasannya sederhana. Sistem Oracle berada di jantung operasi banyak perusahaan besar, seperti:

  • sistem perbankan
  • sistem keuangan perusahaan
  • sistem kesehatan
  • sistem rantai pasok global

Sistem-sistem tersebut sangat kompleks, terintegrasi, dan harus memenuhi berbagai regulasi. Mengganti sistem ini dengan AI baru bukanlah keputusan yang mudah. Karena itu, Ellison melihat AI bukan sebagai pengganti software lama, tetapi sebagai lapisan teknologi baru yang akan memperkuat software yang sudah ada.

Strategi Oracle: Menanamkan AI ke Dalam Software

Alih-alih melawan AI, Oracle justru mengintegrasikan teknologi tersebut langsung ke dalam produknya. Perusahaan menggunakan AI coding tools untuk mempercepat pengembangan software baru sekaligus menanamkan AI agents ke dalam aplikasi bisnis yang sudah ada.

Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk:

  • mengotomatisasi proses bisnis
  • meningkatkan analisis data
  • mempercepat pengembangan aplikasi
  • mengurangi kebutuhan tim engineering besar

Oracle bahkan telah membangun ribuan AI agent yang dapat digunakan dalam berbagai sistem bisnis, mulai dari administrasi hingga industri spesifik seperti perbankan dan kesehatan. Dengan pendekatan ini, Oracle tidak mencoba mengganti sistem lama, tetapi mengubahnya menjadi lebih cerdas dengan AI.

AI Infrastructure: Mesin Uang Baru

Selain software, Oracle juga mendapatkan keuntungan dari sisi lain revolusi AI: infrastruktur komputasi. Permintaan untuk melatih dan menjalankan model AI membutuhkan kapasitas komputasi yang sangat besar. Oracle memanfaatkan peluang ini dengan mengembangkan data center dan layanan cloud khusus untuk AI.

Hasilnya terlihat pada laporan keuangan terbaru perusahaan. Oracle melaporkan pendapatan kuartalan sekitar $17,2 miliar, dengan pertumbuhan kuat pada layanan cloud dan infrastruktur AI.

Pendapatan dari cloud juga melonjak signifikan, dan kontrak masa depan perusahaan meningkat tajam berkat proyek-proyek AI berskala besar. Dengan kata lain, Oracle tidak hanya menjual software yang menggunakan AI—tetapi juga menyediakan infrastruktur untuk menjalankan AI itu sendiri.

Mengapa Software Lama Masih Sulit Digantikan

Argumen utama Oracle sebenarnya berkaitan dengan satu konsep penting dalam teknologi perusahaan: mission-critical systems. Banyak aplikasi perusahaan menyimpan data yang sangat penting—seperti data keuangan, transaksi bank, catatan kesehatan, atau rantai pasok global. Sistem ini tidak dapat dengan mudah diganti karena:

  1. Risiko operasional yang tinggi
  2. Regulasi yang ketat
  3. Integrasi dengan banyak sistem lain
  4. Biaya migrasi yang sangat mahal

Karena itu, perusahaan biasanya lebih memilih menambahkan AI ke sistem lama daripada mengganti seluruh sistemnya. Hal inilah yang menjadi dasar keyakinan Oracle bahwa AI tidak akan menghapus software enterprise, tetapi justru memperkuatnya.

Siapa yang Paling Terancam?

Meski optimistis, Oracle juga mengakui bahwa AI tetap akan mengganggu industri software. Namun dampaknya kemungkinan akan lebih besar bagi perusahaan yang menyediakan aplikasi sempit atau fungsi tunggal.

Aplikasi seperti: alat pemasaran otomatis, software penjualan sederhana, dan aplikasi analitik khusus lebih mudah digantikan oleh AI agent yang dapat menjalankan berbagai fungsi sekaligus. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki data besar, sistem kompleks, dan integrasi mendalam dengan pelanggan akan lebih sulit digantikan.

Era Baru Software

Perdebatan tentang “SaaS-apocalypse” sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam industri teknologi. Jika sebelumnya perusahaan membeli software untuk menjalankan proses bisnis, di masa depan mereka mungkin akan menggunakan AI agent yang bekerja di atas sistem tersebut. Dalam model baru ini, software tidak hilang—tetapi berubah fungsi. Ia menjadi platform tempat AI bekerja.

Bagi perusahaan seperti Oracle yang sudah memiliki posisi kuat dalam sistem bisnis inti, perubahan ini justru bisa menjadi peluang besar.

Seperti yang disampaikan Ellison kepada investor, AI memang akan mengganggu industri software. Namun bagi Oracle, gangguan tersebut bukan ancaman—melainkan kesempatan untuk memimpin gelombang transformasi berikutnya.