Legal Challenges and Opportunities 2026: Dari Data Center Hingga Healthcare SEZ

(Business Lounge Journal – Event)

What many perceive as legal challenges are actually opportunities—if investors understand how to navigate the system.
— Jeremiah Purba, Norton Rose Fulbright

Jeremiah Purba, TNB & Partners in association with Norton Rose Fulbright, menjadi salah satu pembicara kunci dalam Business Lounge Journal Outlook 2026 – Opportunities and Challenges, sebuah forum diskusi strategis yang diselenggarakan oleh Business Lounge Journal (BLJ) dan berlangsung pada Jumat, 13 Februari 2026. Acara ini mempertemukan pelaku bisnis, profesional hukum, serta perwakilan internasional untuk membahas lanskap investasi, perdagangan, dan regulasi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Di tengah ambisi Indonesia untuk menarik investasi asing dalam skala besar, isu hukum dan regulasi sering dipersepsikan sebagai hambatan utama. Namun, bagi pelaku bisnis yang memahami lanskap regulasi, kompleksitas tersebut justru membuka peluang strategis. Dalam diskusi Business Lounge Journal Outlook 2026, Jeremiah Purba menekankan bahwa tantangan hukum di Indonesia bukanlah sekadar risiko, tetapi juga arena bagi investor untuk menciptakan keunggulan kompetitif melalui strategi kepatuhan dan struktur investasi yang tepat.

Strategi Investasi Pemerintahan Prabowo: Target Ambisius dan Realitas Eksekusi

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menetapkan target investasi yang agresif, dengan kebutuhan sekitar Rp2.000 triliun per tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan transformasi digital. Target ini mencerminkan ambisi Indonesia untuk melompat dari middle-income trap menuju ekonomi maju.

Pertumbuhan Foreign Direct Investment (FDI) diharapkan didorong oleh dua pilar utama:

  1. Downstreaming industri sumber daya alam, khususnya mineral dan energi.
  2. Digital infrastructure, termasuk data center, cloud services, dan teknologi AI.

Kombinasi ini menunjukkan bahwa strategi investasi Indonesia tidak lagi bertumpu pada ekstraksi komoditas, tetapi pada value-added processing dan ekonomi digital.

Sektor Strategis: Data Center dan Healthcare SEZ sebagai New Investment Frontier

Salah satu sektor yang menjadi sorotan adalah data center, dengan Batam Nongsa Digital Park diposisikan sebagai hub digital regional. Lokasi strategis Batam yang dekat dengan Singapura, ditambah insentif fiskal dan status kawasan ekonomi khusus (SEZ), menjadikannya magnet bagi hyperscale data center dan cloud providers global.

Di sisi lain, sektor healthcare dan pariwisata medis di Sanur, Bali, melalui Healthcare & Tourism SEZ, diproyeksikan menjadi frontier baru investasi. Indonesia selama ini menghadapi medical tourism leakage sekitar USD 11 miliar per tahun, ketika warga Indonesia memilih berobat ke Singapura, Malaysia, atau negara lain. Dengan pengembangan SEZ kesehatan, pemerintah berharap dapat menahan capital outflow sekaligus menarik pasien internasional ke Indonesia.

Insentif Investor: Dari Tax Holiday hingga Kepemilikan Asing Penuh

Untuk menarik investor global, Indonesia menawarkan berbagai insentif yang kompetitif, khususnya di kawasan ekonomi khusus (SEZ), antara lain:

  • Tax holiday dan tax allowance untuk sektor prioritas.
  • 100% foreign ownership di sektor tertentu dalam SEZ, yang memberikan fleksibilitas struktur investasi bagi perusahaan multinasional.
  • Fasilitas bea dan kepabeanan, termasuk pembebasan bea masuk untuk peralatan dan bahan baku.

Ambisi Indonesia untuk menjadi regional tech hub juga tercermin dalam regulasi yang semakin pro-investment, terutama di sektor digital, fintech, dan teknologi manufaktur.

Outbound Investment Indonesia: Ekspansi Global dan Diversifikasi Aset

Tidak hanya inbound FDI, Indonesia juga mencatat pertumbuhan Outbound Foreign Direct Investment (OFDI) yang mencapai sekitar USD 2,2 miliar, mencerminkan ekspansi global korporasi dan konglomerasi Indonesia. Sektor utama outbound investment meliputi:

  • Palm oil dan agribisnis, terutama ke Afrika dan Asia Selatan.
  • Consumer goods dan retail, memperluas pasar di Asia Tenggara dan Timur Tengah.
  • Fintech dan teknologi, melalui akuisisi dan venture investment di regional market.

Menariknya, sejumlah family offices Indonesia mulai melakukan hedging aset di Uni Eropa, baik melalui real estate, private equity, maupun struktur keuangan lintas yurisdiksi, sebagai strategi diversifikasi risiko geopolitik dan makroekonomi.

Tantangan Regulasi: OSS, Coretax, dan Fragmentasi Birokrasi

Meski pro-investment secara kebijakan, implementasi regulasi masih menghadapi tantangan signifikan. Sistem Online Single Submission (OSS) dan Coretax masih mengalami isu teknis dan integrasi data antarinstansi. Investor sering menghadapi:

  • Perizinan lintas kementerian dan lembaga yang tidak sinkron.
  • Interpretasi regulasi yang berbeda antar daerah.
  • Fragmentasi birokrasi yang memperpanjang timeline proyek.

Bagi investor global, isu ini bukan hanya soal compliance, tetapi juga cost of delay yang dapat memengaruhi IRR dan project feasibility.

Deemed Approval: Potensi Game Changer dalam Perizinan

Salah satu terobosan regulasi terbaru adalah konsep “deemed approval”, di mana izin dianggap disetujui jika tidak ada respons dari otoritas dalam jangka waktu tertentu. Secara teori, mekanisme ini dapat menjadi game changer dalam mempercepat investasi dan mengurangi bottleneck birokrasi.

Namun, efektivitas deemed approval masih belum teruji dalam praktik. Tantangan utama terletak pada kesiapan birokrasi, digital infrastructure pemerintah, serta kepastian hukum dalam penegakan aturan tersebut di lapangan.

Menuju Legal Predictability: Eksekusi Menjadi Kunci

Secara keseluruhan, Indonesia bergerak menuju legal predictability yang lebih baik, dengan reformasi regulasi yang semakin pro-investment dan orientasi kebijakan yang jelas. Namun, seperti banyak emerging markets lainnya, execution remains the key challenge.

Bagi investor global, Indonesia menawarkan kombinasi unik antara peluang pertumbuhan besar, insentif fiskal yang kompetitif, dan pasar domestik yang luas. Namun, keberhasilan investasi akan sangat bergantung pada kemampuan investor memahami dinamika regulasi, membangun hubungan lokal yang kuat, dan mengantisipasi risiko implementasi kebijakan.

Dalam konteks Business Lounge Journal Outlook 2026, diskusi ini menegaskan bahwa masa depan investasi di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan tertulis, tetapi oleh bagaimana kebijakan tersebut diterjemahkan ke dalam praktik bisnis sehari-hari. Di sinilah hukum bukan sekadar constraint, tetapi strategic lever bagi investor yang siap menavigasi kompleksitas pasar Indonesia.