PepsiCo

PepsiCo Turunkan Harga Snack Demi Rebut Hati Pelanggan

(Business Lounge – Global News) Setelah bertahun-tahun menaikkan harga produk, PepsiCo mulai mengubah arah strategi di rak makanan ringan. Raksasa makanan dan minuman itu berencana memangkas harga beberapa produk populer seperti Doritos dan berbagai snack lain untuk menarik kembali konsumen yang mulai mengurangi belanja. Langkah ini muncul saat tekanan biaya hidup membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum memasukkan camilan bermerek ke keranjang belanja. Laporan The Wall Street Journal menyebut perusahaan ingin menghadirkan “nilai lebih” bagi pelanggan yang selama periode inflasi tinggi merasa harga snack makin menjauh dari jangkauan.

Perubahan strategi harga ini bukan keputusan spontan. Dalam beberapa kuartal terakhir, volume penjualan snack PepsiCo menunjukkan tanda melambat. Konsumen tetap membeli, tetapi ukuran belanja menyusut dan sebagian mulai beralih ke merek yang lebih murah. Analisis Bloomberg menilai situasi tersebut menjadi alarm bagi perusahaan, karena selama ini pertumbuhan PepsiCo banyak ditopang oleh kenaikan harga, bukan peningkatan jumlah produk yang terjual.

Selama masa lonjakan inflasi global, banyak perusahaan makanan menaikkan harga untuk menutup biaya bahan baku dan logistik yang meroket. PepsiCo termasuk pemain yang agresif dalam strategi tersebut. Namun efek sampingnya mulai terasa: konsumen kelas menengah merasa tekanan harga terlalu berat. Data yang dikutip Reuters menunjukkan pembeli di Amerika Serikat kini lebih sering berburu diskon, memilih ukuran kemasan kecil, atau bahkan meninggalkan brand besar demi alternatif private label dari supermarket.

Untuk menjawab perubahan perilaku itu, PepsiCo mulai merancang promosi baru dan menurunkan harga pada beberapa lini produk. Doritos menjadi salah satu fokus karena merek ini memiliki basis penggemar besar dan dianggap ikon kategori snack. Perusahaan berharap langkah ini bisa memicu kembali pertumbuhan volume, bukan hanya menjaga margin keuntungan.

Keputusan menurunkan harga mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada pertarungan strategi yang kompleks. Selama beberapa tahun terakhir, industri makanan ringan menikmati lonjakan pendapatan karena konsumen masih bersedia membayar lebih mahal. Kini situasinya berubah. Banyak analis melihat konsumen mulai lelah menghadapi harga tinggi, terutama setelah biaya kebutuhan pokok lain seperti energi dan perumahan ikut meningkat. Menurut laporan CNBC, sejumlah produsen makanan global mulai mengevaluasi ulang pendekatan harga mereka demi mempertahankan loyalitas pelanggan.

PepsiCo tampaknya sadar bahwa brand kuat saja tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan mulai berbicara tentang keseimbangan baru antara harga premium dan aksesibilitas. Dalam pernyataan yang dikutip Financial Times, manajemen menyebut fokus utama bukan sekadar menjual lebih murah, melainkan menciptakan persepsi bahwa produk mereka tetap worth it di tengah tekanan ekonomi.

Strategi ini juga berkaitan dengan persaingan yang semakin ketat di lorong snack supermarket. Banyak retailer memperkuat merek internal yang menawarkan harga lebih rendah dengan kualitas yang makin kompetitif. Jika PepsiCo tidak menyesuaikan diri, risiko kehilangan pangsa pasar bisa meningkat. Itulah sebabnya pemangkasan harga dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mempertahankan relevansi merek.

Di sisi lain, langkah ini memicu diskusi menarik tentang arah industri makanan ringan secara keseluruhan. Selama periode inflasi, banyak perusahaan terbiasa mengandalkan kenaikan harga sebagai mesin pertumbuhan cepat. Ketika konsumen mulai menahan belanja, model tersebut kehilangan tenaga. Beberapa analis yang diwawancarai Reuters menilai fase baru industri akan ditandai oleh promosi agresif, inovasi rasa, serta strategi ukuran kemasan yang lebih fleksibel.

Bagi PepsiCo, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara volume penjualan dan profitabilitas. Menurunkan harga bisa menarik pembeli, tetapi juga berpotensi menekan margin jika tidak diimbangi efisiensi operasional. Perusahaan disebut sedang mengoptimalkan rantai pasok dan produksi untuk memastikan langkah ini tidak menggerus kinerja keuangan secara drastis.

Perubahan arah ini menunjukkan bagaimana dinamika ekonomi global memengaruhi keputusan bisnis sehari-hari, bahkan pada produk yang terlihat sederhana seperti keripik jagung. Snack yang dulu dianggap pembelian impulsif kini ikut terpengaruh oleh perhitungan anggaran rumah tangga. Dalam lanskap baru ini, PepsiCo mencoba membaca ulang psikologi konsumen: bukan sekadar menjual rasa gurih, tetapi menghadirkan sensasi bahwa setiap bungkus snack memberi nilai yang terasa masuk akal.

Cerita tentang Doritos dan harga yang dipangkas menjadi gambaran lebih luas tentang pergeseran industri makanan. Perusahaan besar mulai meninggalkan strategi harga tinggi yang dominan selama beberapa tahun terakhir, lalu beralih ke pendekatan yang lebih adaptif terhadap daya beli. Saat konsumen semakin selektif, brand besar dituntut untuk kembali mendekat, bukan berdiri terlalu jauh di atas rak dengan label harga yang membuat orang ragu. Dalam permainan baru ini, harga bukan sekadar angka, melainkan bahasa yang menentukan apakah sebuah merek tetap relevan di tengah perubahan selera dan tekanan ekonomi yang terus bergerak.