Art Jakarta Papers 2026: Menyoroti Medium Kertas dalam Ekosistem Seni Kontemporer

(Business Lounge Journal – Event)

Art Jakarta Papers resmi dibuka pada Kamis, 5 Februari 2026. Sebuah edisi perdana dari Art Jakarta, sebuah pameran seni yang secara khusus menyoroti medium kertas sebagai fondasi penting dalam praktik seni rupa kontemporer. Digelar di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Art Jakarta Papers berlangsung selama empat hari hingga 8 Februari 2026 dan menghadirkan 28 galeri dari Indonesia dan Asia.

Pembukaan Art Jakarta Papers 2026 berlangsung meriah dengan penampilan TRUST Orchestra, komunitas orkestra terbesar di Jakarta yang baru saja meraih Gold Medal pada World Orchestra Festival 2025. Acara peresmian ini dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, serta perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif dan mitra utama Art Jakarta.

Peresmian Art Jakarta Papers 2026 menegaskan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri keuangan, media, dan komunitas seni. Hadir juga dalam acara tersebut perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, termasuk Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar, serta mitra utama Art Jakarta seperti Sucor Asset Management dan BCA.

Paramitha Soedarjo, Direktur MRA Media—perusahaan yang menginisiasi Art Jakarta—menegaskan bahwa Art Jakarta Papers merupakan bagian dari komitmen MRA Group dalam mendukung pengembangan seni dan budaya. “Melalui Art Jakarta Papers, kami ingin menghadirkan platform yang tidak hanya merayakan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih luas dalam ekosistem seni rupa Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Hafidh Ahmad Irfanda, VIP Relations Director Art Jakarta, menekankan bahwa gagasan menghadirkan pameran berbasis medium kertas telah dirancang sejak masa pandemi. “Setelah perjalanan panjang dan diskusi selama bertahun-tahun, kami bersyukur akhirnya dapat menghadirkan Art Jakarta Papers sebagai platform yang menyoroti karya berbasis kertas,” katanya.

Medium Kertas sebagai Fondasi Praktik Seni Kontemporer

Art Jakarta Papers hadir untuk menyoroti medium kertas yang selama ini kerap dianggap sebagai medium sekunder. Dalam konteks seni kontemporer global, karya berbasis kertas justru memiliki peran penting sebagai ruang eksplorasi ide, eksperimen visual, hingga riset artistik. Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menekankan bahwa Art Jakarta Papers merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi seni rupa Indonesia di tingkat global. “Inisiatif ini menantang galeri dan seniman untuk menghadirkan karya berbasis kertas yang mampu bersaing di pasar seni global,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya pameran ini sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

Sebanyak 28 galeri berpartisipasi dalam Art Jakarta Papers 2026, terdiri dari 22 galeri Indonesia dan 6 galeri internasional dari Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Taipei, dan Seoul. Pameran ini menampilkan berbagai bentuk karya berbasis kertas, mulai dari drawing, printmaking, ilustrasi, fotografi, artist books, hingga instalasi.

Selain pameran galeri, Art Jakarta Papers menampilkan presentasi solo melalui AJ Spot, termasuk karya instalasi boneka berjudul “Lembam” oleh Iwan Effendi, serta workshop partisipatif “Bayangan Benda & Jejak Cahaya” oleh kolektif Ruang MES 56. Instalasi karya Iwan Effendi, setinggi sekitar 2,5 meter dan terbuat dari kertas, menandai eksplorasi pertamanya dalam karya instalasi berskala besar. Sementara Ruang MES 56 menghadirkan pengalaman interaktif melalui workshop cyanotype photogram, yang mengajak peserta bereksperimen dengan objek sehari-hari.

Pertemuan Seni dan Industri Keuangan

Art Jakarta Papers 2026 juga memperlihatkan kolaborasi unik antara dunia seni dan industri keuangan melalui dua Lead Partners: Sucor Asset Management dan BCA.

Sucor Asset Management menggandeng seniman Naufal Abshar dalam instalasi Sucor AM Corner, yang menggunakan metafora permainan catur untuk menjelaskan strategi investasi. Pengunjung dapat berpartisipasi dalam pengalaman bermain catur langsung sebagai refleksi profil risiko investasi.

Sementara itu, BCA melalui produk digital myBCA menghadirkan instalasi myBCA Space bersama seniman Rudy Atjeh. Instalasi ini mengajak pengunjung berpartisipasi dalam aktivitas origami yang merepresentasikan pertumbuhan dan proses, mencerminkan konsep dukungan finansial sebagai ruang untuk berkembang.

Diskursus Publik dan Program Edukasi

Melengkapi pameran, Art Jakarta Papers menghadirkan AJ Talk, rangkaian diskusi panel yang membahas posisi karya berbasis kertas dalam ekosistem seni, tantangan konservasi di iklim tropis, peluang pasar internasional, hingga restorasi karya kertas. Workshop printmaking juga dihadirkan oleh Krack! Printmaking Collective.

Program ini dirancang untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari seniman, kurator, kolektor, konservator, hingga institusi seni, guna memperluas dialog tentang peran medium kertas dalam praktik seni kontemporer.

Art Jakarta Papers merupakan pembuka rangkaian program Art Jakarta 2026, yang akan dilanjutkan dengan Art Jakarta Gardens pada Mei 2026 dan puncaknya Art Jakarta di JIExpo Kemayoran pada Oktober 2026.

Melalui rangkaian ini, Art Jakarta menegaskan posisinya sebagai platform berkelanjutan yang memperkuat ekosistem seni rupa Indonesia sekaligus membuka dialog regional tentang praktik seni kontemporer.