Alibaba

Alibaba Perkuat Logistik Lewat Aliansi Robovan

(Business Lounge – Global News) Alibaba kembali menunjukkan keseriusannya membangun masa depan logistik berbasis teknologi setelah mengumumkan rencana penggabungan unit kendaraan otonom miliknya dengan perusahaan spesialis robovan asal China, Zelos Technology. Kolaborasi ini akan melahirkan entitas baru yang diperkirakan bernilai sekitar 2 miliar dolar AS, menandai salah satu langkah paling ambisius Alibaba dalam mempercepat adopsi kendaraan tanpa pengemudi untuk distribusi barang.

Langkah ini dilakukan melalui Cainiao, lengan logistik Alibaba, yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan teknologi pengiriman pintar. Dalam kesepakatan tersebut, unit autonomous driving milik Alibaba akan digabungkan dengan Zelos, perusahaan rintisan yang dikenal sebagai pemain penting dalam pengembangan kendaraan niaga tanpa sopir untuk pengiriman jarak pendek hingga menengah. Menurut Reuters, sinergi ini ditujukan untuk mempercepat komersialisasi robovan di China, terutama untuk pengiriman last-mile yang semakin padat dan mahal.

Alibaba melihat kendaraan otonom sebagai solusi jangka panjang atas meningkatnya biaya tenaga kerja dan tekanan efisiensi dalam industri logistik. Seiring pertumbuhan e-commerce yang terus melaju, kebutuhan akan sistem distribusi yang cepat, murah, dan andal menjadi semakin krusial. Robovan, kendaraan listrik tanpa pengemudi yang dirancang khusus untuk logistik, dinilai mampu memangkas biaya operasional sekaligus meningkatkan ketepatan waktu pengiriman.

Zelos sendiri bukan pemain baru di sektor ini. Perusahaan tersebut telah mengembangkan teknologi kendaraan otonom yang digunakan dalam berbagai skenario logistik, mulai dari gudang hingga pengantaran perkotaan. Dengan dukungan teknologi, data, dan jaringan logistik Alibaba, kolaborasi ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat skala produksi dan adopsi komersial. Bloomberg mencatat bahwa kesepakatan ini juga mencerminkan tren konsolidasi di sektor teknologi otonom China, di mana perusahaan besar mulai mengakuisisi atau bermitra dengan startup untuk memperkuat ekosistem mereka.

Bagi Alibaba, kerja sama ini bukan sekadar investasi finansial, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang bisnis logistiknya. Cainiao selama ini menjadi tulang punggung distribusi e-commerce Alibaba, dan tekanan untuk meningkatkan efisiensi semakin besar seiring ketatnya persaingan dengan JD.com dan pemain logistik independen lainnya. Dengan robovan, Alibaba berharap dapat mengurangi ketergantungan pada kurir manusia, terutama di wilayah perkotaan dengan volume pengiriman tinggi.

Dari sisi industri, langkah ini juga mencerminkan perubahan arah pengembangan kendaraan otonom di China. Jika sebelumnya fokus utama ada pada mobil penumpang tanpa sopir, kini perhatian mulai bergeser ke kendaraan niaga yang lebih cepat menghasilkan pendapatan. Menurut Financial Times, sektor logistik dinilai lebih realistis untuk adopsi awal teknologi otonom karena rutenya lebih terprediksi dan risikonya relatif lebih rendah dibandingkan transportasi penumpang.

Kesepakatan ini datang di tengah upaya Alibaba untuk merapikan portofolio bisnisnya dan meningkatkan profitabilitas. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan melakukan restrukturisasi besar-besaran, termasuk memisahkan unit bisnis inti dan menekan belanja yang tidak produktif. Investasi di sektor robovan dianggap sejalan dengan strategi tersebut karena berpotensi memberikan efisiensi jangka panjang sekaligus membuka sumber pendapatan baru.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Regulasi terkait kendaraan otonom di China masih terus berkembang, dan implementasi skala besar membutuhkan persetujuan pemerintah daerah serta pengujian keselamatan yang ketat. Selain itu, persaingan di sektor ini semakin ketat, dengan perusahaan teknologi lain seperti Baidu dan JD.com juga mengembangkan solusi serupa. Namun Alibaba tampak yakin bahwa skala bisnis dan ekosistem yang dimilikinya akan menjadi keunggulan kompetitif.

Analis menilai valuasi 2 miliar dolar AS untuk entitas gabungan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap masa depan logistik otonom. Permintaan pengiriman yang terus meningkat, terutama dari sektor e-commerce dan ritel cepat, memberikan landasan kuat bagi pertumbuhan bisnis robovan. Seperti dicatat Reuters, investor melihat teknologi ini sebagai salah satu kunci untuk menjaga margin di tengah tekanan biaya tenaga kerja dan bahan bakar.

Bagi Alibaba, kolaborasi dengan Zelos juga memperkuat posisinya dalam perlombaan teknologi logistik global. Jika berhasil, model ini berpotensi diekspor ke pasar internasional, terutama di kawasan Asia yang memiliki karakteristik logistik serupa dengan China. Dalam jangka panjang, integrasi kendaraan otonom dengan sistem data dan kecerdasan buatan Alibaba dapat menciptakan jaringan distribusi yang sepenuhnya otomatis.

Langkah ini menegaskan bahwa Alibaba tidak hanya ingin menjadi raksasa e-commerce, tetapi juga pemain utama dalam infrastruktur logistik masa depan. Dengan menggabungkan teknologi, skala bisnis, dan pengalaman operasional, perusahaan berharap dapat mendefinisikan ulang cara barang dikirim di era digital. Seperti dicatat oleh Bloomberg, aliansi dengan Zelos bisa menjadi batu loncatan penting bagi Alibaba untuk mengukuhkan dominasinya di logistik berbasis teknologi, sekaligus membuka babak baru dalam persaingan global kendaraan otonom.