(Business Lounge Journal – News and Insight)
Di banyak negara, beras bukan sekadar komoditas pertanian. Ia adalah fondasi stabilitas sosial, penentu kebijakan publik, dan indikator ketahanan ekonomi. Data konsumsi beras global pada 2025 kembali menegaskan satu hal penting: di tengah transformasi pangan dunia, beras tetap menjadi penopang utama kehidupan lebih dari setengah populasi global.
Dengan konsumsi global yang telah melampaui 510 juta metrik ton beras giling per tahun, beras menempati posisi strategis sebagai sumber sekitar 20% kebutuhan kalori dunia. Tidak mengherankan jika fluktuasi harga, gangguan produksi, atau kebijakan ekspor-impor beras kerap berdampak langsung pada stabilitas politik dan ekonomi, khususnya di negara berkembang.
Dari Lembah Sungai Yangtze ke Panggung Global
Beras merupakan salah satu tanaman pangan tertua yang menopang peradaban manusia. Didomestikasi sekitar 13.500 tahun lalu di kawasan Sungai Yangtze, Tiongkok, beras berkembang menjadi tanaman tropis paling luas dibudidayakan di Asia dan Afrika.
Dua spesies utama—Oryza sativa (beras Asia) dan Oryza glaberrima (beras Afrika)—menjadi tulang punggung produksi pangan dunia. Di luar itu, beras liar dari genus Zizania melengkapi lanskap konsumsi modern, meski secara botani berbeda.
Dalam rantai produksi pertanian global, beras kini menempati peringkat ketiga komoditas terbesar dunia, setelah tebu dan jagung—sebuah posisi yang mencerminkan signifikansinya dalam ekonomi pangan global.
Bagaimana Beras Dibudidayakan dan Dikonsumsi
Sebagai tanaman tropis, beras tumbuh di musim basah maupun kering. Metode budidaya paling umum adalah sawah tergenang air, yang membantu melindungi tanaman dari hama dan penyakit. Tanaman beras memiliki batang ramping dengan malai bunga yang umumnya melakukan penyerbukan sendiri, menghasilkan bulir yang kita konsumsi.
Beras diklasifikasikan berdasarkan panjang bulir—panjang, sedang, dan pendek—serta berdasarkan jenisnya: putih, cokelat, merah, hitam, hingga beras liar. Kandungan gizinya mencakup karbohidrat sebagai komponen utama, protein, mineral, air, serta sedikit lemak.
Dalam rantai produksi pertanian global, beras menempati peringkat ketiga komoditas pangan terbesar dunia, setelah tebu dan jagung.
Sepuluh Negara dengan Konsumsi Beras Tertinggi di Dunia
Jika dilihat dari konsumsi per kapita tahunan, ketergantungan pada beras sangat mencolok di negara-negara Asia dan Afrika.
Myanmar menempati posisi teratas dengan konsumsi sekitar 279 kg per orang per tahun (data 2022). Di negara ini, beras bukan hanya makanan pokok, tetapi juga tulang punggung ekonomi pedesaan. Sebagai salah satu produsen beras utama dunia, Myanmar mempertahankan tradisi pertanian padi yang diwariskan lintas generasi.
Di posisi berikutnya:
- Komoro: 275 kg per kapita per tahun
- Gambia: 256 kg
- Kamboja: 248 kg
- Bangladesh: 247 kg
Kelima negara ini menjadikan beras sebagai inti hampir setiap waktu makan, dari sarapan hingga makan malam.
Negara-negara Asia Tenggara dan Selatan juga mendominasi daftar selanjutnya:
- Vietnam: 228 kg
- Laos: 227 kg
- Filipina: 194 kg
- Sri Lanka: 193 kg
- Indonesia: 185 kg per orang per tahun
Di Indonesia sendiri, beras tidak hanya berfungsi sebagai makanan pokok, tetapi juga simbol kesejahteraan, stabilitas sosial, dan kebijakan pangan nasional.
Perbandingan Global: Kontras yang Tajam
Sebagai perbandingan, konsumsi beras di negara maju relatif sangat rendah. Amerika Serikat hanya mengonsumsi sekitar 11,7 kg beras per orang per tahun, sementara Lebanon mencatat konsumsi terendah, sekitar 0,01 kg per kapita.
Perbedaan ini mencerminkan variasi pola makan global, di mana gandum, kentang, atau jagung menjadi sumber karbohidrat utama di banyak negara Barat.
Lebih dari Sekadar Makanan
Beras hadir dalam berbagai bentuk kuliner: dari nasi putih sederhana, nasi goreng, hingga hidangan khas seperti congee (bubur nasi) di Asia Timur, atau nasi berbumbu yang disajikan bersama ikan, ayam, dan daging kambing dalam masakan Timur Tengah.
Namun di balik keragaman hidangan tersebut, beras memiliki makna strategis—sebagai komoditas pangan global, penopang ketahanan pangan, dan indikator stabilitas sosial di banyak negara berkembang.
Di tengah tantangan perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan tekanan rantai pasok global, peran beras diperkirakan tetap krusial hingga dekade mendatang. Negara-negara dengan konsumsi beras tinggi tidak hanya menghadapi isu produksi dan distribusi, tetapi juga keberlanjutan pertanian dan perlindungan petani.
Satu hal yang pasti: selama setengah populasi dunia masih menggantungkan hidupnya pada sebutir beras, komoditas ini akan terus menjadi jantung sistem pangan global.

