Tas Belanja

Tas Belanja Murah Menjadi Simbol Status Global

(Business Lounge – Global News) Di sebuah supermarket biasa, tas belanja kanvas seharga sekitar US$3 dulunya hanya dianggap barang fungsional, alat sederhana untuk membawa kebutuhan dapur. Namun dalam beberapa tahun terakhir, benda remeh itu menjelma menjadi simbol status lintas negara. Dari Seoul hingga Melbourne, tas belanja murah tersebut kini diperlakukan layaknya pernyataan gaya hidup, penanda bahwa pemakainya adalah bagian dari percakapan global yang sama, paham tren, dan memiliki pengalaman lintas budaya.

Fenomena ini berakar dari perubahan cara konsumen memaknai simbol kemewahan dan identitas. Di era media sosial, status tidak lagi ditentukan oleh barang mahal semata, tetapi oleh narasi di balik sebuah objek. Tas belanja sederhana, sering kali berasal dari jaringan supermarket tertentu, justru memperoleh nilai karena kesan “tidak disengaja” dan anti-kemewahan yang dibawanya. Memakai tas itu memberi sinyal bahwa seseorang cukup percaya diri untuk menolak simbol status konvensional.

Di kota-kota Asia Timur seperti Seoul dan Tokyo, tas belanja asing menjadi penanda mobilitas global. Ia menunjukkan bahwa pemiliknya pernah bepergian, atau setidaknya terhubung dengan budaya luar negeri. Di Australia dan Eropa, tas serupa dipakai sebagai aksesori gaya hidup urban yang santai, sering dipadukan dengan pakaian mahal, menciptakan kontras yang justru disengaja. Kontradiksi inilah yang membuatnya menarik: barang murah yang “dibaca” sebagai selera tinggi.

Media internasional seperti The Wall Street Journal dan Financial Times mencatat bahwa tren ini mencerminkan pergeseran selera generasi muda perkotaan. Mereka lebih tertarik pada simbol yang membawa cerita dan konteks sosial daripada logo besar atau harga tinggi. Tas belanja kanvas menjadi medium narasi: tentang keberlanjutan, kesadaran lingkungan, hingga ironi konsumsi di tengah kapitalisme global.

Peran media sosial sangat krusial dalam mempercepat transformasi tersebut. Foto-foto tas belanja sederhana yang dibawa ke kafe trendi, galeri seni, atau bandara internasional beredar luas di Instagram dan TikTok. Setiap unggahan memperkuat makna simboliknya. Tas itu bukan lagi alat, melainkan bahasa visual. Ia mengatakan bahwa pemakainya “in-the-know”, memahami kode budaya yang hanya terbaca oleh mereka yang mengikuti percakapan global.

Menariknya, nilai simbolik ini tidak selalu dikendalikan oleh merek. Berbeda dengan tas mewah yang dibangun lewat strategi pemasaran terencana, popularitas tas belanja murah sering kali bersifat organik. Supermarket atau toko asalnya bahkan kerap terkejut melihat produknya menjadi objek mode internasional. Namun justru ketiadaan niat komersial itulah yang menambah daya tariknya, karena memberi kesan autentik dan tidak dibuat-buat.

Fenomena ini juga mengungkap paradoks konsumsi modern. Di satu sisi, tas tersebut diasosiasikan dengan keberlanjutan dan kesederhanaan. Di sisi lain, status simboliknya tetap bergantung pada eksklusivitas sosial, yakni siapa yang “mengerti” maknanya. Dengan kata lain, ia tetap menjadi penanda kelas, hanya saja dengan bahasa yang lebih halus dan terselubung.

Dalam konteks globalisasi, tas belanja kanvas berfungsi sebagai artefak budaya bergerak. Ia membawa cerita lintas kota dan negara, menjadi penghubung antara Seoul, New York, Paris, dan Melbourne. Setiap tempat memberi makna baru, namun intinya sama: partisipasi dalam budaya global yang cair dan saling terhubung.