(Business Lounge – Global News) Pendiri Lululemon Athletica, Chip Wilson, kembali menjadi pusat perhatian setelah meluncurkan proxy fight yang bertujuan merombak susunan dewan direksi perusahaan pakaian olahraga tersebut. Langkah ini dilakukan di saat krusial, tepat sebelum Lululemon menunjuk CEO baru, sehingga mempertegas upaya Wilson untuk memengaruhi arah strategis perusahaan yang ia dirikan lebih dari dua dekade lalu.
Proposal yang diajukan Wilson berfokus pada perubahan komposisi dan struktur dewan, dengan argumen bahwa tata kelola saat ini tidak cukup kuat untuk menghadapi tantangan pertumbuhan jangka panjang. Ia menilai dewan perlu diisi oleh figur yang memiliki pemahaman lebih mendalam tentang budaya merek, ritel global, dan dinamika konsumen yang cepat berubah. Waktu pengajuan proposal ini dinilai strategis, karena keputusan tentang kepemimpinan eksekutif puncak akan sangat menentukan masa depan Lululemon.
Lululemon sendiri berada dalam fase transisi penting. Perusahaan telah berkembang dari merek niche yoga asal Kanada menjadi pemain global dengan valuasi puluhan miliar dolar dan basis pelanggan internasional. Namun, perlambatan pertumbuhan di beberapa pasar dan meningkatnya persaingan dari merek atletik lain membuat investor semakin mencermati arah manajemen. Dalam konteks ini, perdebatan soal tata kelola dan kepemimpinan menjadi semakin sensitif.
Media internasional seperti The Wall Street Journal dan Bloomberg mencatat bahwa Chip Wilson telah lama menyuarakan ketidakpuasannya terhadap keputusan strategis perusahaan setelah ia tidak lagi terlibat langsung dalam manajemen. Meski masih memiliki saham signifikan, pengaruh formalnya di dewan berkurang seiring waktu. Proxy fight ini dipandang sebagai upaya paling eksplisit Wilson untuk kembali membentuk kebijakan di tingkat tertinggi.
Manajemen Lululemon, di sisi lain, menekankan bahwa proses pemilihan CEO baru dan evaluasi dewan dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang pemegang saham. Perusahaan menilai stabilitas tata kelola tetap penting di tengah perubahan kepemimpinan, dan setiap perubahan dewan harus dilakukan secara terukur. Reuters melaporkan bahwa dewan saat ini berupaya menyeimbangkan masukan dari pendiri dengan tuntutan pasar dan praktik tata kelola modern.
Bagi investor, konflik ini menciptakan dilema tersendiri. Di satu sisi, Chip Wilson dipandang sebagai visioner yang memahami DNA Lululemon sejak awal. Di sisi lain, campur tangan pendiri dalam fase perusahaan yang sudah matang kerap menimbulkan kekhawatiran akan gangguan stabilitas. Financial Times menilai kasus Lululemon mencerminkan ketegangan klasik antara pendiri dan perusahaan publik yang telah berkembang jauh melampaui fase awalnya.
Proxy fight ini juga menyoroti isu lebih luas tentang peran pendiri dalam perusahaan besar. Ketika pertumbuhan melambat dan transisi kepemimpinan mendekat, suara pendiri sering kali kembali menguat, baik sebagai sumber inspirasi maupun sebagai sumber konflik. Hasil dari upaya Chip Wilson ini akan menjadi sinyal penting tentang seberapa besar pengaruh pendiri masih dihargai dalam tata kelola Lululemon.

