Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang muncul akibat cuaca ekstrem. Ini termasuk banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hingga gelombang tinggi. Penyebab utamanya sederhana tetapi mematikan: hujan terlalu deras, terlalu lama, dan turun di saat lingkungan tidak mampu lagi menahan beban airnya.
Indonesia, yang berada di garis khatulistiwa dan diapit dua samudra besar, adalah “rumah” bagi awan-awan raksasa yang terus tumbuh. Bila ada dorongan tambahan seperti perubahan suhu laut atau pertemuan angin, cuaca bisa berubah drastis hanya dalam hitungan jam.

Mengapa hujan semakin ekstrem?
Dalam beberapa tahun terakhir, pola hujan di Indonesia semakin tidak teratur. Hujan yang biasanya stabil di musim penghujan kini sering turun dalam volume besar sekaligus—seperti membuka bendungan di langit. Fenomena ini tidak lepas dari perubahan iklim global. Atmosfer yang semakin panas “menyimpan” lebih banyak uap air, sehingga ketika dilepas, hujan turun dalam intensitas yang jauh lebih besar dari biasanya.
Akibatnya, bencana hidrometeorologi kini menjadi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Setiap tahun, ribuan kejadian banjir dan longsor tercatat, terutama di daerah perbukitan dan bantaran sungai.
Peran Siklon Tropis: Mesin Cuaca Ekstrem
Salah satu faktor yang ikut memperkuat hujan ekstrem adalah siklon tropis—badai besar yang berputar seperti pusaran angin raksasa di atas lautan hangat. Indonesia memang jarang menjadi pusat siklon, tetapi siklon tropis di Samudra Hindia atau Laut Cina Selatan bisa ‘menyedot’ massa udara dan memicu hujan ekstrem di wilayah dekatnya, termasuk Sumatera.
Sederhananya begini:
-
Siklon tropis bekerja seperti kipas besar yang menyedot uap air.
-
Uap air itu bergerak ke arah wilayah Indonesia.
-
Ketika bertemu udara lembap dari khatulistiwa, awan tumbuh cepat dan hujan lebat pun tercurah.
Inilah yang banyak terjadi ketika Sumatera mengalami banjir besar—kondisi hujan lokal diperparah oleh efek sampingan siklon di sekitar wilayah Indonesia.
Dampak di Sumatera: Bencana Berlapis
Pada akhir November 2025, rangkaian hujan ekstrem menghantam Sumatera, terutama Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Curah hujan tinggi selama beberapa hari menyebabkan sungai meluap, lereng bukit runtuh, dan permukiman tergenang.
Sumatera Utara
Lebih dari 12 kabupaten/kota terdampak.
Tapanuli Selatan menjadi salah satu wilayah paling parah, dengan desa terisolasi akibat jembatan hanyut dan akses jalan tertimbun material longsor. Banyak keluarga kehilangan rumah dan harta benda, sementara korban jiwa mencapai puluhan dan lebih dari 50 orang masih dinyatakan hilang. Cuaca yang belum stabil membuat upaya pencarian terhambat.
Sumatera Barat
Terdampak di 13 daerah, dari Agam hingga Pesisir Selatan.
Topografi perbukitan membuat wilayah ini sangat rentan longsor ketika hujan turun tanpa henti. Rumah, jalan, dan lahan pertanian rusak berat. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat 14 hari untuk mempercepat evakuasi dan perbaikan.
Aceh
Beberapa kabupaten mengalami banjir luas dengan ribuan warga mengungsi. Banyak jalan rusak dan daerah terputus sehingga bantuan tidak dapat segera menjangkau semua wilayah.
Perkuat Mitigasi
Yang terjadi di Sumatera adalah contoh nyata bagaimana bencana hidrometeorologi kini berubah menjadi ancaman serius yang muncul kapan saja. Kombinasi hujan ekstrem, perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang memperbesar dampak bencana.
Ke depan, mitigasi harus diperkuat:
-
Sistem peringatan dini diperbarui
-
Sungai-sungai direstorasi
-
Kawasan rawan longsor diberi pembatasan pembangunan
-
Edukasi masyarakat diperluas
Kita harus lebih siap menghadapi semua kondisi alam yang sedang terjadi dan bersama kita harapkan Indonesia terlindungi dari bencana.

