(Business Lounge – Art) Sebagai seseorang yang tumbuh bersama dunia musik klasik, saya selalu percaya bahwa setiap konser memiliki napasnya sendiri—sebuah energi halus yang menyatu antara penampil, karya, dan pendengar. Dan pada Minggu, 16 November 2025, di lantai lima Bina Musik Jakarta, saya kembali merasakannya. Napas itu hadir begitu hangat dan begitu Indonesia.
Saya datang sedikit lebih awal. Ruang konser Bina Musik Jakarta tidak besar, tetapi justru karena itu, ia memiliki keintiman yang tidak dimiliki gedung pertunjukan besar. Ketika para tamu mulai berdatangan—musisi, teman lama para penampil, keluarga, juga para penggiat seni—saya langsung menangkap suasana penuh pertemanan. Suasana yang sulit ditemukan dalam konser klasik yang biasanya formal dan penuh protokol. Sore itu benar-benar terasa seperti ruang berkumpulnya sebuah keluarga besar: keluarga musik Indonesia.
Sambutan pembuka begitu jujur dan hangat. Kata-kata tentang kolaborasi, tentang membuka ruang bagi komunitas, tentang menjaga seriosa Indonesia agar terus bernapas—semuanya menancap di benak saya sebagai pengingat bahwa musik tidak pernah tumbuh hanya karena institusi, tetapi karena hati orang-orang yang mencintainya. Dan saya melihat cinta itu di wajah banyak orang sore itu.
Lalu lampu sedikit meredup, dan konser dimulai.
Segala Puji karya Mochtar Embut menjadi pembukaan yang agung. Suara soprano Pricillya Souhuwat melengkung dengan percaya diri, dibingkai permainan piano Teo Minaroy yang jernih dan terkendali. Di karya religius ini, saya langsung merasakan kesungguhan pertunjukan. Ada sesuatu yang lirih tetapi juga tegas, seakan-akan ruangan kecil ini berubah menjadi ruang perenungan.
Ketika Srikandi dibawakan, saya menangkap sisi lain dari Prilly—lebih dramatik, lebih menyala. Lalu hadir Setitik Embun yang dinyanyikan tenor Imanuel Bimo Hapsoro. Karya lembut itu seperti potret kecil tentang sesuatu yang rapuh. Dan Bimo menyanyikannya dengan sensitivitas yang jarang saya temui: tidak berlebihan, tetapi menyentuh, persis seperti setitik embun yang disinggung liriknya.
Saya ingat bagaimana heningnya ruangan saat Bukit Kemenangan dinyanyikan. Karya Djauhari yang bercerita tentang medan perang itu membuat saya merinding. Suara tenor Bimo berpadu dengan dinamika piano Teo yang tajam dan tegap—membawa imaji sejarah ke hadapan kita semua. Ada masa lalu yang bergema di dalam musik itu, dan sebagai pendengar, saya hanya bisa diam.
Karya Ismail Marzuki, Melati di Tapal Batas dan Wanita, selalu menjadi favorit saya dalam khazanah seriosa Indonesia. Sore itu keduanya muncul sebagai karya penuh nostalgia. Keduanya dinyanyikan dengan ketepatan rasa yang membuat saya kembali ingat mengapa musik klasik Indonesia selalu memiliki ruang khusus dalam hati saya: ia sederhana, tetapi dalam; ia lembut, tetapi kuat.
Tapi ada satu momen yang bagi saya menjadi titik emosional konser, Pesan Kartini karya Ibenzani Usman. Nyanyian Pricillya mengandung kekuatan femininitas yang modern tetapi tetap sarat hormat pada tradisi. Ada kebanggaan di setiap frase—kebanggaan yang saya rasakan pula sebagai pendengar.
Karya Chairil Anwar yang digubah Aloysius Joseph Soedjasmin, Semangat dan Lagu Biasa, memberi warna berbeda. Saya merasakan energi liar Chairil, baik dalam bait-bait “Aku ini binatang jalang” maupun adegan dua anak muda pemalu di teras rumah makan. Bimo membawakan keduanya dengan karisma yang membuat saya tersenyum. Betapa Chairil bisa hidup kembali hanya dengan suara dan piano.
Dan menjelang akhir, Lukisan Tanah Air karya Yongky Djohary terasa seperti panorama yang terbentang lebar di depan mata saya. Rasanya seperti pulang ke kampung halaman meski saya sedang duduk di lantai lima sebuah gedung di Jakarta.
Sebagai penutup resmi, Pantun karya Trisutji Kamal dinyanyikan secara duet. Saya spontan tertawa kecil bersama banyak penonton lain. Karya ini jenaka, tetapi cerdas, dan Prilly serta Bimo membawakannya dengan chemistry yang menyenangkan. Setelah serangkaian karya berat, lagu ini adalah angin sore yang manis.
Namun kejutan belum selesai. Setelah pemberian bunga dan ucapan terima kasih untuk para tokoh musik Indonesia, satu encore pun dinyanyikan—lagu yang tak pernah gagal menyatukan semua orang, Indonesia Pusaka.
Saat seluruh penonton berdiri dan bernyanyi, saya merasakan getaran yang langka. Getaran yang hanya muncul ketika musik bukan lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi jembatan antara ingatan, identitas, dan kebersamaan.
Sebagai pencinta musik klasik, saya pulang dengan hati yang penuh. Bukan hanya karena kualitas musikalnya—yang memang sangat baik—tetapi karena konser ini mengingatkan bahwa musik klasik Indonesia bukanlah warisan yang mati. Ia hidup. Ia berdenyut. Ia bernafas lewat suara-suara seperti Bimo dan Prilly, lewat jemari Teo, lewat ruang seperti Bina Musik Jakarta, dan lewat para pendengar yang datang sore itu.
Dan saya merasa beruntung telah menjadi salah satunya.
Sore itu, Majulah Negeriku bukan hanya judul resital.
Ia menjadi doa.
Dan juga janji.

