(Business Lounge – News Insight) Produsen minuman beralkohol asal Amerika Serikat, Boston Beer Company, menaikkan panduan laba tahunannya setelah mencatat hasil keuangan kuartalan yang lebih baik dari perkiraan analis meskipun pendapatannya sedikit menurun. Menurut laporan Bloomberg dan The Wall Street Journal, perusahaan yang terkenal dengan merek Samuel Adams dan Truly Hard Seltzer ini memperkirakan laba per saham tahun 2025 akan berada di kisaran atas dari proyeksi sebelumnya, mencerminkan efisiensi biaya yang lebih baik dan stabilitas harga bahan baku. Optimisme tersebut juga didukung oleh meredanya risiko tarif bahan impor yang sebelumnya menjadi kekhawatiran utama di sektor minuman dan makanan.
Boston Beer, yang berbasis di Boston, Massachusetts, melaporkan bahwa meskipun pendapatan bersihnya turun tipis sebesar 2% dibanding tahun lalu, perusahaan berhasil mempertahankan margin operasional melalui pengendalian biaya produksi dan distribusi. Dalam laporan keuangan kuartal ketiganya, yang dikutip Reuters, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 621 juta dolar AS dengan laba bersih mencapai 66 juta dolar AS, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Penurunan penjualan terutama terjadi di segmen hard seltzer, kategori minuman beralkohol ringan yang pernah menjadi mesin pertumbuhan utama Boston Beer namun kini menghadapi penurunan permintaan di seluruh pasar Amerika.
CEO Boston Beer, Dave Burwick, mengatakan dalam pernyataannya yang dikutip Bloomberg bahwa perusahaan kini lebih fokus pada diversifikasi portofolio produk dan efisiensi rantai pasok. Ia menambahkan bahwa strategi tersebut berhasil memperkuat posisi keuangan perusahaan di tengah kondisi konsumen yang berhati-hati dan tekanan biaya dari sisi logistik. “Kami telah belajar untuk tumbuh dengan disiplin,” kata Burwick. “Pasar minuman beralkohol sedang berubah, tetapi kami percaya bahwa fokus pada kualitas, inovasi, dan keseimbangan biaya akan menjaga profitabilitas kami tetap kuat.”
Salah satu faktor yang mendorong revisi panduan laba adalah penurunan risiko tarif impor bahan baku dan kemasan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa ketidakpastian tarif terhadap bahan alumunium dan malt impor dari Kanada dan Eropa mulai mereda setelah pemerintah Amerika Serikat memberikan keringanan bagi industri minuman. Langkah tersebut membantu perusahaan seperti Boston Beer mengamankan rantai pasok dan mengurangi fluktuasi harga. Selama dua tahun terakhir, perusahaan menghadapi kenaikan biaya alumunium yang signifikan akibat kebijakan tarif yang diberlakukan sejak masa pemerintahan sebelumnya. Kini, dengan situasi perdagangan yang lebih stabil, Boston Beer dapat menyesuaikan kontrak pasokannya dengan harga yang lebih kompetitif.
Meskipun permintaan terhadap hard seltzer terus menurun, Boston Beer menunjukkan ketahanan melalui kategori lain seperti bir tradisional dan minuman non-alkohol. Produk unggulan Samuel Adams Boston Lager dan Twisted Tea mengalami pertumbuhan volume yang solid, masing-masing naik sekitar 6% dan 9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Menurut Reuters, pertumbuhan ini didorong oleh kampanye pemasaran agresif dan inovasi rasa baru yang menargetkan segmen konsumen muda yang mulai beralih dari hard seltzer ke minuman dengan karakter lebih kuat. Perusahaan juga memperluas distribusi minuman non-alkohol seperti Just the Haze, yang mencatat peningkatan penjualan dua digit di pasar domestik.
Dalam analisis yang diterbitkan Bloomberg Intelligence, para analis menilai bahwa strategi Boston Beer untuk memperluas lini produk sambil menahan ekspansi besar-besaran di pasar luar negeri adalah langkah yang tepat. Dengan mempertahankan fokus di pasar Amerika Utara, perusahaan dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan preferensi konsumen dan menekan biaya pemasaran. Selain itu, perusahaan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan dan analitik prediktif untuk mengoptimalkan distribusi dan stok produk di berbagai wilayah. Sistem baru ini, menurut laporan internal yang dikutip Bloomberg, berhasil mengurangi biaya logistik sebesar 7% dalam enam bulan terakhir.
Sementara itu, investor menyambut positif arah baru perusahaan. Saham Boston Beer naik hampir 6% setelah pengumuman revisi panduan laba, mencapai level tertinggi sejak awal tahun. The Wall Street Journal mencatat bahwa pergerakan saham ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin meski pertumbuhan pendapatan melambat. Analis memperkirakan laba per saham penuh tahun ini akan berada di kisaran 11 hingga 12 dolar AS, naik dari panduan sebelumnya di kisaran 10 hingga 11 dolar AS.
Meski demikian, tantangan struktural di industri minuman beralkohol masih membayangi. Persaingan ketat dengan produsen besar seperti AB InBev dan Molson Coors membuat Boston Beer harus terus berinovasi. Financial Times menyoroti bahwa kategori hard seltzer, yang sempat mendominasi pangsa pasar hingga 2021, kini menurun drastis akibat kejenuhan produk dan pergeseran selera konsumen ke arah minuman dengan profil rasa lebih kompleks. Untuk merespons tren tersebut, Boston Beer memperkenalkan beberapa varian baru seperti Twisted Tea Whiskey dan Truly Tequila Soda, yang mencoba menggabungkan karakteristik antara bir, koktail, dan minuman siap saji.
Selain inovasi produk, perusahaan juga memperkuat jaringan distribusinya dengan memanfaatkan kanal digital dan e-commerce. Reuters melaporkan bahwa Boston Beer kini bekerja sama dengan beberapa platform pengiriman alkohol di AS untuk memperluas jangkauan penjualan langsung ke konsumen. Langkah ini tidak hanya meningkatkan margin tetapi juga memungkinkan perusahaan mengumpulkan data preferensi konsumen secara real-time. Menurut analis pasar, strategi berbasis data ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif baru bagi produsen minuman berskala menengah seperti Boston Beer di tengah digitalisasi industri ritel minuman.

