(Business Lounge Journal – Art)
Di bawah terik matahari, seekor banteng berlapis emas berdiri berkilau. Anak-anak tertawa sambil berlarian, dikejar sepasang raksasa dengan wajah penuh warna. Seorang pria berlutut, menundukkan kepala, lalu mencium tanah. Bukan sebagai gestur teatrikal, melainkan sebagai ungkapan syukur, doa, dan penyerahan diri.
Inilah dunia yang dihadirkan Leslie de Chavez dalam pameran tunggal terbarunya, Halik sa Lupa (A Kiss on the Ground), yang dipresentasikan oleh Gajah Gallery Singapura pada 25 Oktober–30 November 2025. Sebuah pameran yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak pengunjung menyelami lapisan-lapisan makna tentang iman, kekuasaan, kemewahan, dan ketahanan manusia.

Kembali ke Lucban, Kembali ke Akar
Dalam pameran ini, Leslie de Chavez—seniman asal Filipina yang dikenal lewat kritik tajam namun puitis—kembali ke tanah kelahirannya di Lucban, Provinsi Quezon. Namun kepulangannya bukan nostalgia semata. Ia hadir sebagai perantara percakapan: antara masa lalu dan kini, antara ritual dan realitas sosial, antara perayaan dan penderitaan.
Dikurasi oleh Joyce Toh, pameran ini terinspirasi dari praktik budaya Lucban yang sarat simbolisme: Festival Panen Pahiyas, ritual Pekan Suci, serta parade Higantes—boneka raksasa yang telah lama menjadi ikon perayaan rakyat Filipina. Semua elemen ini diterjemahkan ke dalam instalasi media campuran, patung monumental, dan lukisan dengan visual yang kuat dan berani.
Kemegahan yang Menyimpan Pertanyaan
Sepintas, karya-karya de Chavez memikat lewat kemewahan visualnya: permukaan berlapis emas, warna-warna mencolok, dan skala yang nyaris megah. Namun di balik kilau tersebut, tersembunyi pertanyaan yang jauh lebih dalam.
Apa arti pengabdian?
Di mana batas antara penghormatan dan pemanjaan?
Kapan ritual berubah menjadi tontonan?
Melalui Halik sa Lupa, de Chavez menyelami paradoks dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat Filipina—antara iman dan kekuasaan, antara ritual dan politik, antara kelimpahan simbolik dan kekurangan nyata. Tanah yang subur, yang dipuja dan dicium, juga menjadi saksi atas penderitaan mereka yang mengolahnya.


Ritual sebagai Cermin dan Perlawanan
Bagi de Chavez, ritual bukan sekadar tradisi yang diulang. Ritual adalah jangkar sekaligus cermin—cara manusia membangun rasa memiliki, menjaga kesinambungan, sekaligus menyingkap kontradiksi yang sering tersembunyi di balik keanggunan seremonial.
Dikenal karena kritiknya terhadap warisan kolonial, hierarki agama, dan korupsi institusional, de Chavez tidak menghadirkan kemarahan yang frontal. Ia memilih humor yang halus, empati, dan kejernihan moral. Dalam pameran ini, ritual bahkan tampil sebagai bentuk perlawanan: sebuah cara untuk merebut kembali makna dari tindakan yang terus diulang.
Ia juga mengajak kita membayangkan kemungkinan ritual baru—lahir dari gestur kecil, niat tulus, dan praktik kepedulian sehari-hari.
Seni sebagai Tindakan Kolektif
Menariknya, pameran ini tidak lahir dari studio seniman semata. Sejumlah karya diciptakan bersama masyarakat Lucban, melibatkan kakek-nenek hingga anak-anak dalam proses pembuatan dan pelapisan emas pada Higantes dan banteng emas. Kolaborasi lintas generasi ini menjadikan proses berkarya sebagai ritual kontemporer itu sendiri.
Selain itu, beberapa karya direalisasikan melalui kolaborasi lintas negara di Yogya Art Lab (YAL) milik Gajah Gallery di Yogyakarta. Di sana, para pengrajin dan teknisi Indonesia turut memperluas eksplorasi material dan skala karya de Chavez. Tindakan kolektif—membuat, melapisi emas, dan membayangkan ulang—menjadi simbol kebersamaan dan upaya menghidupkan kembali “daya magis” tanah tempat manusia berpijak.

Tanah sebagai Saksi Abadi
Dalam Halik sa Lupa (A Kiss on the Ground), tanah bukan sekadar latar. Ia adalah saksi. Dicium dalam rasa syukur, disentuh dalam duka, dan diolah dalam kerja kolektif, tanah menyimpan siklus abadi antara persembahan dan pembaruan.
Pameran ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap perayaan yang meriah, selalu ada cerita tentang ketahanan, pengorbanan, dan harapan. Bahwa seni, seperti ritual, dapat menjadi ruang untuk bertanya, merawat ingatan, dan membangun makna bersama.
Pameran Leslie de Chavez: Halik sa Lupa (A Kiss on the Ground) dibuka pada 25 Oktober 2025 dan berlangsung hingga 30 November 2025 di Gajah Gallery Singapura.
Sebuah undangan untuk berhenti sejenak—dan mendengarkan apa yang tanah ingin ceritakan.

