(Business Lounge – Global News) Elon Musk kembali menjadi pusat perhatian setelah perusahaan kecerdasan buatannya, xAI, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap Apple dan OpenAI. Gugatan ini menuduh bahwa kedua raksasa teknologi tersebut berkolaborasi secara tidak adil dan menciptakan struktur monopoli yang berpotensi merugikan industri kecerdasan buatan secara lebih luas. Menurut Musk, kerja sama Apple dengan OpenAI telah membuka akses ke miliaran data pengguna yang dikumpulkan melalui perangkat iPhone, iPad, dan Mac, yang kemudian dimanfaatkan untuk memperkuat posisi ChatGPT di pasar.
Langkah hukum ini menandai eskalasi terbaru dari perseteruan Musk dengan OpenAI, perusahaan yang ia ikut dirikan pada 2015 tetapi kemudian ditinggalkannya karena perbedaan pandangan. Dalam beberapa tahun terakhir, Musk berulang kali menuduh OpenAI melenceng dari misi awalnya yang seharusnya bersifat nirlaba dan terbuka, menjadi perusahaan yang berorientasi komersial dengan dominasi pasar yang kuat. Gugatan terhadap Apple menambahkan dimensi baru, karena raksasa Cupertino ini dituding menjadi pintu masuk yang memberikan keunggulan kompetitif eksklusif kepada OpenAI.
Musk menyoroti bahwa integrasi ChatGPT ke dalam ekosistem Apple melalui pembaruan perangkat lunak terbaru bisa memperkuat ketergantungan pengguna terhadap layanan tertentu tanpa memberi mereka pilihan alternatif yang sepadan. Ia berargumen bahwa praktik ini berpotensi mengurangi kompetisi dalam industri AI dan menciptakan hambatan masuk bagi perusahaan lain, termasuk xAI yang tengah membangun model alternatif dengan pendekatan berbeda. Gugatan ini menegaskan narasi bahwa akses terhadap data pengguna merupakan faktor kunci dalam memenangkan persaingan teknologi generatif.
Dari sisi bisnis, gugatan ini mencerminkan pertarungan perebutan posisi dominan di sektor AI yang berkembang pesat. Perusahaan besar seperti Microsoft, Google, Meta, hingga Apple sedang berlomba memanfaatkan potensi AI generatif, sementara startup dan pemain baru harus berjuang keras mencari ruang untuk bersaing. Dengan mengajukan gugatan ini, Musk berusaha menggiring perdebatan ke ranah hukum, di mana isu monopoli dan akses data bisa menjadi titik tekan yang signifikan terhadap perusahaan besar.
Bagi Apple, tuduhan ini datang pada saat perusahaan tengah berusaha menegaskan diri sebagai pemain penting di ekosistem AI. Selama ini Apple dikenal lebih lambat dalam meluncurkan produk berbasis AI generatif dibandingkan kompetitornya. Namun, kerja samanya dengan OpenAI dianggap sebagai langkah strategis untuk menutup celah tersebut. Jika gugatan Musk berhasil atau setidaknya menimbulkan perhatian regulator, Apple bisa menghadapi tantangan besar dalam mengeksekusi rencana integrasi AI ke perangkat keras dan perangkat lunaknya.
OpenAI, di sisi lain, menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, mereka menikmati keunggulan karena teknologi ChatGPT sudah diintegrasikan dalam produk Apple yang tersebar luas di seluruh dunia. Di sisi lain, mereka kini harus berhadapan dengan ancaman hukum dari Musk yang tidak hanya populer sebagai pengusaha, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap opini publik. Selain itu, adanya perhatian lebih besar dari regulator atas isu monopoli dan data privasi bisa menghambat ekspansi OpenAI di masa depan.
Gugatan ini juga memperlihatkan dinamika geopolitik teknologi yang semakin kompleks. Di tengah kekhawatiran global terhadap dominasi perusahaan teknologi Amerika dalam AI, munculnya gugatan antimonopoli dari dalam negeri sendiri bisa mempercepat tekanan regulasi, baik di AS maupun di Eropa yang terkenal lebih ketat dalam isu privasi dan persaingan usaha. Jika regulator ikut terlibat, dampaknya bisa meluas ke seluruh industri, memengaruhi cara perusahaan teknologi mengembangkan dan mendistribusikan layanan AI.
Bagi xAI, langkah hukum ini sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan visibilitas dan kredibilitasnya di pasar yang sudah padat. Dengan mengangkat isu monopoli dan privasi, Musk berusaha memposisikan xAI sebagai pemain yang berkomitmen pada keterbukaan dan keadilan dalam kompetisi. Walaupun masih baru dibandingkan pesaingnya, sorotan publik terhadap gugatan ini bisa mempercepat pengenalan produk xAI, seperti chatbot Grok, sekaligus menarik minat investor yang mendukung visi alternatif terhadap dominasi OpenAI.
Pada akhirnya, pertarungan antara xAI, Apple, dan OpenAI bukan hanya sekadar soal persaingan bisnis, melainkan juga mencerminkan perdebatan fundamental mengenai masa depan AI, siapa yang berhak mengendalikan teknologi, bagaimana data pengguna dimanfaatkan, dan sejauh mana regulasi harus campur tangan. Gugatan ini mungkin baru langkah awal, namun dampaknya berpotensi besar dalam membentuk peta persaingan AI global dalam beberapa tahun mendatang.