Chevron

Chevron Lanjutkan Akuisisi Hess Setelah Menang Arbitrase atas Exxon

(Business Lounge – Global News) Chevron Corp akhirnya memenangkan arbitrase yang telah lama menghambat akuisisi raksasa senilai US$53 miliar terhadap Hess Corp, setelah panel arbitrase internasional menolak klaim ExxonMobil atas hak pre-emptive di proyek minyak besar di Guyana. Kemenangan ini menghapus salah satu hambatan utama yang selama hampir setahun membayangi merger strategis tersebut, membuka jalan bagi Chevron untuk memperkuat posisinya di sektor energi global yang kian kompetitif.

Kunci dari sengketa ini adalah kepemilikan Hess atas 30% saham di blok minyak Stabroek, Guyana—salah satu ladang minyak lepas pantai paling produktif di dunia, dengan estimasi cadangan lebih dari 11 miliar barel minyak. ExxonMobil dan mitranya dari China, CNOOC, mengklaim bahwa mereka memiliki hak penolakan pertama atas saham Hess di proyek itu, yang berarti mereka dapat membeli bagian tersebut sebelum Chevron. Namun dalam putusan arbitrase yang diumumkan minggu ini, panel dari International Chamber of Commerce menyatakan bahwa hak tersebut tidak berlaku atas akuisisi Hess secara keseluruhan.

Dalam pernyataannya, Chevron menyambut baik hasil arbitrase dan menyatakan bahwa mereka siap menutup kesepakatan dalam waktu 48 jam setelah keputusan diumumkan. CEO Chevron, Mike Wirth, menyebut putusan ini sebagai “tonggak penting” dalam strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan, terutama dalam memperluas portofolio produksi minyaknya ke kawasan yang memiliki prospek besar seperti Guyana.

Menurut laporan Reuters, Hess Guyana menghasilkan pendapatan sebesar US$3,1 miliar pada tahun 2024, meningkat dari US$1,9 miliar pada 2023. Proyek Stabroek selama ini memang menjadi pusat perhatian industri energi global, karena diprediksi akan mengubah lanskap geopolitik minyak dalam dua dekade mendatang. Exxon sendiri memiliki 45% saham di blok tersebut, dan selama ini menjadi operator utama di wilayah itu.

Putusan arbitrase ini juga menjadi kekalahan besar bagi ExxonMobil. Meskipun Exxon telah menegaskan niatnya mempertahankan struktur kepemilikan yang ada, mereka tidak berhasil meyakinkan dewan arbitrase bahwa akuisisi Hess oleh Chevron melanggar perjanjian awal. Exxon sebelumnya mengklaim bahwa pembelian saham Hess oleh Chevron seharusnya memicu hak pre-emptive mereka, sebagaimana diatur dalam perjanjian usaha patungan. Namun, panel menyimpulkan bahwa akuisisi keseluruhan Hess oleh Chevron bukanlah transaksi antar mitra di blok tersebut, dan oleh karena itu tidak memicu hak pre-emptive tersebut.

Bursa saham merespons positif. Saham Hess melonjak sekitar 8% setelah berita putusan arbitrase diumumkan, sementara saham Chevron naik sekitar 3% di sesi perdagangan pra-pembukaan. Sebaliknya, saham Exxon turun tipis, mencerminkan ketidakpuasan investor terhadap hasil arbitrase ini. Analis dari Barclays menyebut keputusan ini sebagai “pergeseran besar dalam lanskap kepemilikan energi global,” dan menilai Chevron sekarang memiliki “akses jangka panjang terhadap ladang minyak yang berbiaya rendah dan sangat menguntungkan.”

Selain itu, akuisisi ini juga menandai berakhirnya salah satu babak negosiasi regulasi yang rumit. Pada bulan Juli, Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) mencabut perintah sebelumnya yang melarang John Hess—mantan CEO Hess Corp—untuk duduk di dewan direksi Chevron. Sebelumnya, FTC menyatakan kekhawatiran tentang potensi konflik kepentingan, namun akhirnya menarik keberatannya setelah mendapat klarifikasi tentang struktur integrasi pasca-merger.

Bagi Chevron, kesepakatan ini datang di saat perusahaan menghadapi tekanan untuk meningkatkan produksinya dan menambah cadangan minyak. Laba Chevron turun menjadi US$18,3 miliar pada 2024 dari US$24,7 miliar pada 2023, mencerminkan penurunan harga energi dan ketatnya pasar global. Akuisisi ini diharapkan dapat menambah hingga 200.000 barel minyak per hari ke produksi Chevron pada 2025, dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam eksplorasi lepas pantai.

Namun, integrasi operasional bukan tanpa tantangan. Chevron menargetkan integrasi penuh dalam 45 hari setelah transaksi selesai, mencakup konsolidasi sistem, penyesuaian manajemen, dan penetapan strategi jangka menengah untuk operasi di Guyana. “Kami percaya bahwa sinergi antara tim Hess dan Chevron akan mempercepat efisiensi produksi dan mengurangi biaya jangka panjang,” ujar Mike Wirth dalam pernyataan resminya.

Dari sisi geopolitik, akuisisi ini memperkuat posisi AS di kawasan Atlantik Selatan, yang kini semakin strategis dalam peta energi global. Guyana, yang belum lama ini menjadi produsen minyak besar, secara bertahap berubah menjadi lokasi kunci dalam portofolio minyak global, menggantikan beberapa wilayah yang mulai mengalami penurunan produksi seperti Laut Utara dan Venezuela.

Kemenangan Chevron atas Exxon di arbitrase juga dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kesepakatan besar tidak selalu dapat diganggu oleh klaim teknikal kontraktual, terutama ketika nilai strategis sebuah akuisisi sangat besar. Hal ini juga bisa menjadi preseden bagi akuisisi lain di masa depan, di mana klaim hak pre-emptive akan lebih dipertimbangkan berdasarkan konteks dan struktur transaksi secara keseluruhan.

Dengan transaksi ini hampir rampung, Chevron menegaskan kembali komitmennya untuk terus melakukan investasi jangka panjang dalam eksplorasi energi. “Kami melihat masa depan Guyana sangat cerah, dan ini akan menjadi salah satu titik pusat produksi energi dunia dalam dua dekade ke depan,” kata Wirth.

Industri energi global akan mencermati dengan saksama bagaimana Chevron mengelola transisi dan integrasi Hess, serta bagaimana Exxon dan CNOOC merespons langkah ini dalam jangka panjang. Untuk saat ini, kemenangan arbitrase ini menegaskan satu hal: dalam pertarungan besar minyak global, strategi hukum dan visi jangka panjang bisa menentukan peta kekuatan yang baru.