(Business Lounge – Health) Di sebuah pertemuan rutin klub buku di San Francisco, suasana akrab dan percakapan ringan seketika berubah menjadi diskusi tentang rahasia tidur nyenyak. Saat peserta saling berbagi kabar terbaru, seorang wanita bernama Kathleen Janus melontarkan satu kata yang membuat ruangan sejenak terdiam: “Magnesium!” Reaksi spontan menyusul—tawa, candaan, dan kemudian… pertanyaan serius.
Janus, seorang dosen Stanford dan penulis, telah mengalami gangguan tidur selama dua dekade. Ia terbangun hampir setiap malam, pikirannya berlari liar di tengah keheningan, tubuhnya kelelahan, dan eksperimen demi eksperimen untuk memperbaiki pola tidurnya selalu gagal. Hingga ia menemukan magnesium—suatu elemen mineral yang kini sedang naik daun sebagai “obat tidur alami” favorit para selebriti, influencer, dan komunitas kesehatan holistik.
Klaim tentang manfaat magnesium memang terdengar menjanjikan. Disebut-sebut bisa menenangkan sistem saraf, merelaksasi otot, bahkan membantu otak menghentikan “keributan malam hari” yang sering mengganggu tidur. Di media sosial, video bertema “My Night Routine” hampir selalu menyertakan suplemen magnesium. Nama-nama besar seperti Jennifer Aniston, Tim Ferriss, hingga dokter-dokter seleb seperti Dr. Mark Hyman juga memuji manfaatnya. Akibatnya, penjualan magnesium melonjak drastis. Di toko daring dan ritel, varian seperti magnesium glycinate, citrate, dan threonate laris manis, mengungguli suplemen tidur tradisional seperti melatonin.
Namun di balik ledakan popularitas ini, pertanyaan kritis tetap menggantung: Apakah magnesium benar-benar mujarab, atau hanya sekadar placebo yang dibungkus narasi sehat?
Menurut pakar tidur dan neurolog dari UCLA, Dr. Jennifer Martin, magnesium memang memainkan peran penting dalam fungsi biologis tubuh. Mineral ini membantu mengatur lebih dari 300 reaksi enzimatik, termasuk yang berkaitan dengan relaksasi otot dan transmisi saraf. “Secara teori, kekurangan magnesium bisa berkontribusi pada gangguan tidur,” ujarnya. Namun ia menambahkan, “Tidak semua orang mengalami kekurangan magnesium. Dan bagi yang tidak, suplemen tambahan belum tentu memberikan dampak signifikan.”
Studi ilmiah yang menghubungkan magnesium secara langsung dengan perbaikan tidur masih terbatas dan seringkali kecil skalanya. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Nutrients pada 2021 menemukan bahwa suplemen magnesium dapat meningkatkan efisiensi tidur dan mengurangi latensi tidur (waktu yang dibutuhkan untuk tertidur), tetapi efeknya tergolong ringan. Dalam banyak kasus, manfaat yang dirasakan lebih berkaitan dengan rutinitas dan harapan yang dibentuk sebelum tidur—apa yang disebut oleh para peneliti sebagai “efek ritual.”
Namun, bagi orang seperti Janus dan banyak perempuan profesional lainnya yang mengalami insomnia ringan hingga sedang, bahkan sedikit bantuan terasa sangat berarti. Banyak dari mereka memasuki usia paruh baya di mana hormon fluktuatif, stres kerja, tanggung jawab keluarga, dan ekspektasi sosial bergabung menjadi badai sempurna yang mengacaukan tidur.
Faktor gender dan sosial tidak bisa diabaikan dalam tren magnesium ini. Dalam berbagai studi populasi, perempuan dua kali lebih sering melaporkan gangguan tidur dibanding pria. Banyak dari mereka mencoba segala hal: meditasi, journaling, larangan layar biru sebelum tidur, bahkan terapi perilaku kognitif. Di antara semua itu, magnesium terasa seperti solusi yang sederhana, terjangkau, dan “alami.”
Marcy Cohen, 49 tahun, seorang eksekutif komunikasi di New York, mengaku mencoba magnesium setelah membaca testimoni online. “Saya skeptis, tapi saya juga lelah bangun jam tiga pagi tiap malam,” katanya. Ia memilih jenis magnesium glycinate karena direkomendasikan sebagai yang paling efektif untuk relaksasi. Setelah dua minggu, ia merasa tidurnya membaik. Apakah itu efek nyata atau hanya sugesti? “Saya tidak peduli,” katanya. “Yang penting saya tidur.”
Dalam dunia suplemen yang nyaris tidak diatur secara ketat oleh otoritas seperti FDA, keefektifan produk sering bergantung pada pengalaman subjektif. Merek berlomba-lomba menjual varian dengan label “ultra-absorbable”, “calming”, atau “brain-boosting”. Sementara itu, influencer dan dokter holistik mendongkrak penjualan dengan video dan artikel berjudul bombastis seperti “Mengapa Magnesium adalah Suplemen yang Tidak Kamu Sadari Sangat Kamu Butuhkan.”
Namun tidak semua orang cocok dengan magnesium. Beberapa pengguna melaporkan efek samping seperti gangguan pencernaan atau kantuk berlebihan. Dosis juga penting—kebanyakan ahli menyarankan tidak melebihi 350 mg per hari dari suplemen (di luar asupan makanan), karena risiko kelebihan magnesium bisa memicu masalah ginjal atau tekanan darah rendah.
Fenomena ini juga menarik perhatian industri besar. Data dari perusahaan riset pasar SPINS menunjukkan bahwa penjualan suplemen magnesium di AS tumbuh lebih dari 20% dalam dua tahun terakhir. Produk dengan klaim “tidur nyenyak” mencetak rekor baru. Bahkan merek-merek besar seperti Nature Made dan NOW Foods mulai merilis campuran magnesium dengan adaptogen seperti ashwagandha dan L-theanine untuk memperkuat efek relaksasi.
Di sisi lain, para profesional medis mengingatkan bahwa gangguan tidur adalah gejala kompleks yang jarang punya satu solusi tunggal. Dr. Rafael Pelayo, spesialis tidur dari Stanford, mengatakan, “Kalau kamu tidur lebih nyenyak karena merasa lebih tenang setelah minum magnesium, itu bagus. Tapi jangan mengandalkannya sebagai pengganti kebiasaan sehat.” Ia menekankan pentingnya rutinitas tidur yang konsisten, pengelolaan stres, dan evaluasi medis jika gangguan tidur berlanjut.
Dalam banyak hal, popularitas magnesium mencerminkan keputusasaan sekaligus harapan. Tidur telah menjadi komoditas langka dalam dunia modern yang serba sibuk. Dan magnesium, dengan narasi “alami” dan “aman”-nya, menawarkan secercah harapan yang tidak mengancam seperti obat tidur sintetis.
Kini, Kathleen Janus telah menjadi semacam “duta magnesium” di lingkaran sosialnya. Ia mengaku tidak lagi terbangun setiap malam, dan lebih energik di siang hari. Saat klub bukunya bertemu kembali bulan berikutnya, diskusi lebih banyak membahas rekomendasi merek magnesium ketimbang buku yang dibaca.
Apakah itu bukti bahwa magnesium adalah solusi nyata? Belum tentu. Tapi dalam dunia di mana tidur telah menjadi kemewahan, setiap percikan harapan layak untuk dicoba.