(Business Lounge – World News) – Para ilmuwan AS menduga puncak kecepatan angin mencapai lebih dari 313 km per jam, meski kecepatan hembusan angin mendadak lebih besar. Rekor sebelumnya dipegang oleh Angin Ribut Camille yang mencapai AS pada 1969 dengan kecepatan angin lebih dari 305 km per jam.
“Topan semacam itu cenderung terjadi di Lautan Teduh dalam 10 tahun sekali. [Haiyan] melanda daratan saat kecepatannya mencapai puncak—itu hal yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seabad,” ujar Kerry Emanuel, profesor masalah iklim dari Massachusetts Institute of Technology.
Sejumlah faktor alam ini telah membuat Topan Haiyan menjadi salah satu badai tropis terdahsyat yang pernah melanda daratan dalam sejarah. Kekuatannya yang sungguh merusak adalah muara dari beberapa elemen seperti hujan lebat, kondisi alam yang membantu aliran air dan memperbesar gelombang pasang, serta kecepatan angin yang menyamai laju mobil balap.
“Keberadaan badai lain yang mencapai daratan dengan angin sekuat itu belum pernah diketahui,” ujar Julian Heming, pakar badai tropis dari badan cuaca nasional Inggris yang dikenal dengan Met Office.
Sejumlah negara bertemu di Warsawa guna membicarakan pakta iklim global yang baru berkaitan dengan topan Haiyan. Perwakilan Filipina, dengan mengalami masalah Haiyan, meminta dunia untuk bertindak lebih jauh terhadap hal yang ia sebut “kenyataan kelam” perubahan iklim.
Berdasar atas beberapa model, “ada indikasi bahwa intensitas siklon tropis kemungkinan akan meningkat beberapa persen pada akhir abad ini. Tapi, kita tidak bisa menghubungkan pelbagai peristiwa terpisah, seperti halnya topan, secara langsung dengan perubahan iklim,” ujar Dr. Heming.
Pasalnya, saat berbicara mengenai siklus badai, banyak variabel alam dari beberapa dekade lalu yang diperhitungkan. Para ilmuwan harus mempelajari data dari seabad lalu atau lebih untuk meraih simpulan lebih baik.
Topan, siklon, dan angin ribut adalah sejumlah nama berbeda untuk badai yang sama. Ketiganya menarik panas dari samudera dan menyebarkannya dalam bentuk angin berkekuatan besar. Menurut ahli iklim, kondisi air yang lebih hangat dapat memicu badai lain yang lebih intensif.
Kekhawatiran lain terarah pada melelehnya es yang akan menaikkan tingkat permukaan air laut dan menimbulkan gelombang air lebih besar.
Data satelit tahun 1992 menunjukkan perairan lepas pantai Filipina telah mengalami tingkat peningkatan permukaan air tertinggi di dunia sebanyak sembilan milimeter. Secara global, kenaikan permukaan mencapai tiga milimeter.
Filipina berada dalam posisi rawan karena saat siklon tropis mencapai daratannya, kekuatan angin cenderung lebih besar. Wilayah itu pun memiliki banyak teluk dan teluk kecil yang mengalirkan air melalui celah sempit, bukan menyebarkannya ke wilayah lebih lapang. Maka, gelombang tinggi pun terjadi.
(ic/ic/bl-wsj)