(Business Lounge – Achievement)
Kali ini businesslounge.co Vibiz Media Network berkesempatan menemui Prof. Dr. Subroto yang di dalam karir kenegarawanannya pernah menjabat sebagai Menteri Transmigrasi selama hampir 7 tahun (1971 – 1978) selain juga berkecimpung di dalam bidang pertambangan dan energi selama 16 tahun dengan berbagai jabatan (1978 – 1994).
Subroto mengisahkan awal mulanya terjadi permasalahan kependudukan di Indonesia akibat penyebaran penduduk yang tidak merata. Pada waktu itu, Pulau Jawa dikenal sebagai pulau yang subur. Hal ini dikarenakan banyaknya gunung berapi yang berada di Pulau Jawa. Oleh karena kesuburannya, maka berbagai orang pun berlomba untuk meninggalkan desa asalnya di luar Pulau Jawa dan mulai memasuki Pulau Jawa. Maka terjadilah aliran penduduk memasuki Pulau Jawa yang menyebabkan Pulau Jawa kemudian menjadi overcrowded.
Pulau Jawa dengan luas yang hanya 3 persen dari wilayah Indonesia, dipadati dengan 80 persen penduduk Indonesia. Akibatnya, setiap petani hanya mendapatkan jatah tanah yang sangat kecil untuk dikerjakan. Maka petani-petani di Pulau Jawa pun hanya menjadi petani gurem yang tidak efektif dengan hasil yang sangat sedikit. Sehingga sangat penting untuk memindahkan penduduk Pulau Jawa pada waktu itu ke luar Pulau Sumatera,Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi.
Di satu sisi, pembangunan di luar Pulau Jawa pada waktu itu sangat kurang sekali sehingga tidak ada penduduk Pulau Jawa yang mau pindah ke luar Pulau Jawa. Karena harus ada cara untuk membawa rakyat Pulau Jawa ini ke luar PUlau Jawa.
Hal ini membawa permasalahan bagi Bangsa Indonesia dan sangat diperlukan untuk memindahkan Bangsa Indonesia ke luar Pulau Jawa. Maka diadakanlah program transmigrasi untuk merelokasikan penduduk Pulau Jawa ke pulau-pulau lainnya seperti Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi.
Ada 2 faktor yang harus ditimbulkan pada waktu itu:
1. Pull Effect
Pull Effect merupakan effect yang diciptakan di luar Pulau Jawa untuk menarik penduduk Pulau Jawa pindah ke luar Pulau Jawa. Maka pemerintah pun membuka tanah di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi untuk para petani Pulau Jawa yang mahir betani tetapi tidak memiliki sawah. Ada 2 cara untuk membukanya:
– Pemerintah memilih beberapa orang-orang muda yang masih bersemangat dan masih mempunyai kekuatan. Mereka diajak untuk pindah ke luar Pulau Jawa dan membuka sawah di sana.
– Pemerintah memindahkan seluruh desa ke luar Pulau Jawa ke tanah yang dibuka di luar Pulau Jawa.
Dengan cara ini maka kepadatan Pulau Jawa pun dapat diurai. Selain itu maka timbullah pusat-pusat pembangunan baru di pulau-pulau lainnya.
2. Push Effect
Push Effect merupakan effect yang ada di Pulau Jawa yang mendorong penduduk Pulau Jawa untuk pindah. Effect ini berupa kurangnya lahan yang dapat dikerjakan oleh para petani sehingga pendapatan pun sangat kecil.
Dengan kedua effect yang diciptakan inilah maka penduduk Pulau Jawa pun mulai berpindah ke pulau-pulau lainnya dan permasalahan pun mulai dapat ditangani.






