Kering

Kering Kehilangan Momentum, Pemulihan Gucci Masih Menjadi Tantangan

(Business Lounge – Global News) Kering, grup barang mewah asal Prancis yang menaungi Gucci, Saint Laurent, Bottega Veneta, Balenciaga, dan sejumlah merek premium lainnya, menghadapi tantangan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan di tengah pasar barang mewah yang belum pulih secara merata. Dalam laporan kuartal ketiga 2026, pendapatan perusahaan mencapai €3,345 miliar, turun 1% secara komparabel dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Walaupun pendapatan yang dilaporkan relatif stabil setelah memperhitungkan pengaruh nilai tukar, kinerja tersebut menunjukkan bahwa upaya pemulihan bisnis belum sepenuhnya menghasilkan pertumbuhan penjualan. Tekanan paling besar masih berasal dari Gucci, merek andalan Kering yang selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan permintaan.

Situasi ini memperlihatkan persoalan yang lebih mendalam daripada sekadar perlambatan belanja konsumen. Kering harus memulihkan daya tarik merek, menyesuaikan penawaran produknya, memperbaiki pengalaman berbelanja, dan memastikan harga yang ditawarkan tetap sepadan dengan persepsi nilai konsumen. Pada saat yang sama, perubahan kondisi ekonomi dan melemahnya permintaan di China menambah kompleksitas strategi perusahaan. CEO Luca de Meo kini menghadapi tantangan untuk memperbaiki kinerja Gucci sekaligus memaksimalkan potensi merek lain agar masa depan grup tidak terlalu bergantung pada satu nama besar.

Gucci Masih Menjadi Titik Lemah

Gucci mencatat pendapatan sebesar €1,291 miliar pada kuartal ketiga 2026, turun 6% secara komparabel. Penjualan melalui jaringan toko yang dioperasikan langsung oleh merek tersebut, termasuk kanal e-commerce, bahkan turun 9%. Kinerja ini menunjukkan bahwa perbaikan yang diharapkan dari pembaruan produk dan strategi merek belum cukup kuat untuk meningkatkan jumlah pelanggan yang datang dan melakukan pembelian. Reuters melaporkan bahwa rendahnya kunjungan toko, terutama di China, masih menjadi hambatan utama bagi pemulihan Gucci.

Selama bertahun-tahun, Gucci menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama Kering. Daya tarik desain, identitas visual yang kuat, serta popularitasnya di kalangan konsumen yang ingin memasuki pasar barang mewah membantu merek tersebut memperluas jangkauan. Namun, ketika konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uang, popularitas dan pengenalan merek saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan pertumbuhan. Konsumen dapat menunda pembelian tas mahal, mengalihkan anggaran ke pengalaman lain, atau memilih merek yang dianggap menawarkan desain, kualitas, dan eksklusivitas yang lebih sesuai dengan preferensi mereka.

Kering sedang memperbarui portofolio produk Gucci, memperbaiki kualitas, dan menyempurnakan struktur harga. Koleksi baru, terutama tas, menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat kembali daya tarik merek. Akan tetapi, perubahan kreatif di industri fesyen mewah membutuhkan waktu untuk diterjemahkan menjadi penjualan. Konsumen perlu melihat konsistensi antara desain, kualitas produk, identitas merek, dan pengalaman berbelanja sebelum kembali meningkatkan pembelian. Karena itu, pemulihan Gucci tidak dapat hanya mengandalkan peluncuran koleksi baru, melainkan harus dibangun melalui strategi yang konsisten selama beberapa musim.

China dan Konsumen Aspiratif Menekan Pasar

Salah satu tekanan terbesar bagi industri barang mewah berasal dari perubahan perilaku konsumen China. Pasar tersebut telah lama menjadi sumber pertumbuhan penting bagi berbagai merek internasional, tetapi kondisi ekonomi dan sikap konsumen yang lebih berhati-hati membuat pembelian produk premium tidak lagi berkembang dengan kecepatan yang sama. Bagi Gucci, dampaknya terasa pada lalu lintas pengunjung toko di China daratan dan sejumlah pasar Asia lainnya. Ketika konsumen menunda pembelian, merek yang sebelumnya mengandalkan perluasan pasar dan peningkatan belanja kelompok aspiratif menghadapi tantangan untuk mempertahankan volume penjualan.

Konsumen aspiratif merupakan kelompok yang memiliki keinginan membeli barang mewah, tetapi daya belinya lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi, pendapatan, dan perubahan harga dibandingkan konsumen beraset sangat besar. Ketika harga produk meningkat atau ketidakpastian ekonomi bertambah, kelompok ini cenderung menunda pembelian. Perubahan tersebut penting bagi merek yang selama periode pertumbuhan sebelumnya berhasil memperluas pasar dengan menjangkau semakin banyak konsumen di luar kelompok paling kaya.

Masalahnya, perusahaan tidak bisa menyelesaikan pelemahan permintaan hanya dengan menurunkan harga. Diskon berlebihan berpotensi merusak persepsi eksklusivitas, sementara kenaikan harga tanpa peningkatan nilai yang dirasakan pelanggan dapat memperlebar jarak antara produk dan konsumennya. Kering perlu menemukan keseimbangan antara menjaga posisi premium, meningkatkan relevansi desain, dan memberikan alasan yang kuat bagi konsumen untuk membeli. Strategi di China juga perlu disesuaikan dengan kondisi pasar setempat, bukan hanya mengandalkan pendekatan global yang seragam.

Merek Lain Memberikan Penopang Pertumbuhan

Di tengah kesulitan Gucci, sejumlah merek Kering menunjukkan kinerja yang lebih baik. Penjualan ritel merek-merek fesyen dan barang kulit selain Gucci meningkat 2% secara komparabel pada kuartal ketiga. Saint Laurent mendapatkan dukungan dari pasar Amerika Utara dan Eropa Barat, sementara Bottega Veneta mempertahankan momentum berkat daya tarik produk kulit serta pengembangan kategori lain. Brioni juga mencatat pertumbuhan yang kuat melalui pendekatan layanan personal dan penawaran pakaian yang dibuat sesuai kebutuhan pelanggan.

Perbedaan kinerja ini menunjukkan pentingnya diversifikasi dalam bisnis barang mewah. Ketika satu merek mengalami tekanan, merek lain yang memiliki identitas, basis pelanggan, dan posisi pasar berbeda dapat membantu menahan penurunan grup secara keseluruhan. Namun, diversifikasi tidak otomatis menghilangkan risiko. Gucci tetap memiliki bobot strategis yang besar bagi Kering, sehingga pertumbuhan merek lain belum cukup untuk sepenuhnya menutupi kesulitan merek tersebut.

Kinerja kategori di luar fesyen juga memberikan gambaran yang lebih beragam. Bisnis perhiasan Kering mencatat pendapatan €239 juta, meningkat 11% secara komparabel, didorong antara lain oleh Boucheron dan Pomellato. Sementara itu, bisnis kacamata membukukan pertumbuhan 4% secara komparabel. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pelanggan masih bersedia membelanjakan uang pada kategori dan merek tertentu meskipun pasar barang mewah secara keseluruhan menghadapi tekanan.

Bagi manajemen, tantangannya adalah mengembangkan sumber pertumbuhan yang lebih seimbang. Kering perlu menjaga momentum merek yang berkinerja baik, memberikan dukungan yang tepat bagi merek yang sedang melakukan pembaruan, serta memastikan investasi kreatif dan pemasaran menghasilkan dampak komersial. Portofolio yang lebih seimbang dapat mengurangi ketergantungan pada satu merek, tetapi keberhasilannya membutuhkan disiplin dalam mengalokasikan modal dan perhatian manajemen.

Penutupan Toko Menjadi Bagian dari Efisiensi

Kering juga mengambil langkah untuk menata jaringan ritelnya. Dalam sembilan bulan pertama 2026, grup menutup secara bersih 105 toko, melampaui sasaran awal penutupan bersih 100 lokasi untuk sepanjang tahun. Perusahaan kini menargetkan setidaknya 125 penutupan bersih pada akhir 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa manajemen berusaha menyesuaikan jaringan fisik dengan kondisi permintaan dan produktivitas masing-masing lokasi.

Penutupan toko dapat membantu mengurangi biaya sewa, tenaga kerja, dan pengeluaran operasional di lokasi yang tidak lagi memberikan kontribusi memadai. Namun, efektivitas langkah tersebut bergantung pada kualitas keputusan yang diambil. Toko bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga bagian dari pengalaman merek, terutama dalam bisnis barang mewah yang mengandalkan layanan personal, suasana eksklusif, dan interaksi langsung dengan pelanggan. Pengurangan jaringan yang terlalu agresif berisiko mengurangi akses konsumen dan menghilangkan titik kontak yang penting bagi penguatan merek.

Karena itu, strategi ritel perlu berfokus pada produktivitas, bukan sekadar jumlah lokasi. Perusahaan harus menentukan toko mana yang berperan sebagai pusat penjualan utama, mana yang mendukung pengalaman merek, dan mana yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar. Pada saat yang sama, kanal digital perlu terintegrasi dengan layanan di toko agar pelanggan tetap memperoleh pengalaman konsisten. Efisiensi baru benar-benar bernilai apabila pengurangan biaya tidak melemahkan kemampuan merek untuk menjangkau dan mempertahankan konsumen.

Pemulihan Margin Menjadi Prioritas Manajemen

Di tengah ketidakpastian pasar, Kering mempertahankan target untuk meningkatkan margin operasi berulang pada tahun fiskal 2026. Fokus ini menunjukkan bahwa perusahaan berusaha memperbaiki profitabilitas melalui efisiensi operasional dan pelaksanaan rencana pemulihan merek. Namun, manajemen tidak kembali menegaskan ambisi sebelumnya untuk membawa grup kembali ke pertumbuhan pada 2026. Perbedaan tersebut penting: perusahaan masih mengejar perbaikan keuangan, tetapi belum memiliki dasar yang cukup kuat untuk memastikan bahwa pendapatan akan kembali meningkat pada tahun yang sama.

Peningkatan margin dapat berasal dari pengendalian biaya, pengelolaan jaringan toko, perbaikan bauran produk, dan produktivitas pemasaran. Akan tetapi, jika penjualan melemah terlalu dalam, penghematan biaya saja memiliki batas dalam menjaga keuntungan. Bisnis barang mewah juga membutuhkan investasi berkelanjutan pada desain, bahan, kampanye merek, dan pengalaman pelanggan. Mengurangi biaya secara berlebihan dapat membantu hasil jangka pendek, tetapi berisiko mengurangi kemampuan merek untuk membangun kembali permintaan.

Kering harus mengelola keseimbangan antara pemulihan jangka pendek dan investasi jangka panjang. Perusahaan membutuhkan struktur biaya yang lebih efisien, tetapi juga perlu mempertahankan kualitas produk dan memperjelas identitas setiap merek. Dalam konteks Gucci, pemulihan yang berkelanjutan akan lebih meyakinkan apabila tercermin dalam peningkatan kunjungan toko, konversi pembelian, serta pertumbuhan penjualan yang konsisten—bukan hanya perbaikan margin akibat penghematan.

Pasar Barang Mewah Memasuki Fase Seleksi

Perkembangan Kering memperlihatkan bahwa pasar barang mewah tidak lagi memberikan pertumbuhan yang merata bagi semua pemain. Konsumen semakin selektif, kondisi ekonomi di sejumlah pasar utama belum mendukung belanja premium secara luas, dan merek-merek harus membuktikan kembali relevansi produknya. Dalam situasi tersebut, reputasi historis tetap penting, tetapi tidak menjamin penjualan akan pulih dengan sendirinya.

Bagi Kering, agenda utamanya adalah menghidupkan kembali Gucci tanpa mengabaikan momentum Saint Laurent, Bottega Veneta, perhiasan, dan kacamata. Perusahaan juga harus menjalankan penataan jaringan toko dengan hati-hati serta memastikan efisiensi operasional benar-benar memperkuat kualitas laba. Hasil kuartal ketiga menunjukkan bahwa upaya transformasi telah berjalan, tetapi dampaknya terhadap pendapatan grup masih terbatas.

Tahap berikutnya akan menjadi ujian bagi strategi Luca de Meo. Jika Gucci berhasil menarik kembali pelanggan dan merek-merek lain mempertahankan pertumbuhan, Kering dapat membangun basis bisnis yang lebih seimbang. Namun, apabila permintaan di China tetap lemah dan pembaruan Gucci belum mampu mendorong penjualan, tekanan terhadap pendapatan akan terus membayangi. Untuk saat ini, pesan utama dari laporan terbaru Kering cukup jelas: transformasi telah dimulai, tetapi pemulihan komersial yang meyakinkan masih harus dibuktikan.