(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Armenia ingin masyarakat Indonesia mengenal negaranya sebagai negeri dengan salah satu warisan peradaban tertua di dunia, sekaligus negara modern yang terus berkembang melalui inovasi, pendidikan, teknologi, dan kewirausahaan.
Duta Besar Armenia untuk Indonesia, H.E Serob Bejanyan, mengatakan Armenia memiliki sejarah dan warisan budaya yang membentang selama ribuan tahun, namun pada saat yang sama memiliki keyakinan kuat terhadap masa depannya.
Armenia adalah negara dengan sejarah kuno, masa kini yang dinamis, dan keyakinan yang kuat terhadap masa depan,” ujar Bejanyan dalam wawancara dengan Business Lounge Journal.
Armenia dikenal dengan biara-biara kuno, tradisi budaya, serta berbagai situs bersejarah. Namun, di balik identitas historis tersebut, negara di kawasan Kaukasus itu juga tengah memperkuat sektor teknologi, inovasi dan ekonomi berbasis pengetahuan.
Armenia, Negara Pertama yang Mengadopsi Kekristenan sebagai Agama Negara
Armenia secara tradisional mencatat tahun 301 sebagai saat Raja Tiridates III mengadopsi Kekristenan sebagai agama negara, menjadikannya kerajaan pertama di dunia yang secara resmi mengambil langkah tersebut.
St. Gregory the Illuminator kemudian ditahbiskan sebagai Catholicos pertama Gereja Armenia dan memainkan peranan besar dalam perkembangan Kekristenan di negara tersebut.
Tanggal tepat proses konversi Armenia masih menjadi pembahasan dalam kajian sejarah. Tradisi Armenia menempatkannya pada tahun 301, sementara sejumlah sejarawan memperkirakan proses tersebut berlangsung sedikit lebih kemudian pada awal abad keempat. Namun, Armenia secara luas diakui sebagai kerajaan pertama yang secara resmi mengadopsi Kekristenan sebagai agama negara.
Warisan tersebut kemudian membentuk banyak aspek kebudayaan Armenia. Pada tahun 405, Mesrop Mashtots menciptakan alfabet Armenia dengan dukungan Raja Vramshapuh dan Catholicos Sahak Partev. Perkembangan alfabet ini memungkinkan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Armenia dan mendorong pertumbuhan tradisi sastra serta keagamaan Armenia.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat Armenia menempatkan nilai tinggi pada keluarga, persahabatan, keramahan serta penghormatan terhadap tradisi budaya. Menurut Bejanyan, nilai-nilai tersebut juga menjadi salah satu titik kedekatan antara masyarakat Armenia dan Indonesia.
Armenia Tatap Masa Depan melalui Teknologi dan Startup
Menurut Bejanyan, Armenia tidak hanya berbicara mengenai masa lalunya. Negara tersebut saat ini juga berinvestasi dalam inovasi, pendidikan, teknologi dan kewirausahaan.
Salah satu langkah terbarunya terlihat pada April 2026, ketika Kementerian Industri Teknologi Tinggi Armenia dan Firebird AI menandatangani kesepakatan senilai US$25 juta. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pemerintah Armenia akan memperoleh sumber daya high-performance computing dari Firebird AI selama lima tahun. Kapasitas komputasi itu ditujukan bagi startup, kelompok riset, institusi akademik dan tenaga ahli yang mengembangkan sistem kecerdasan buatan, dengan akses yang disalurkan melalui Artificial Intelligence Virtual Institute. (hightech.gov.am)
Armenia juga bekerja sama dengan Plug and Play untuk memperkuat ekosistem startup. Pada Juli 2026, program pre-acceleration ketiga Plug and Play di Armenia selesai dengan partisipasi 18 startup teknologi. Kementerian Industri Teknologi Tinggi Armenia menyebut dua cohort sebelumnya yang berjalan sejak 2024 telah melibatkan sekitar 40 startup. Kerja sama tersebut menggunakan kontrak tiga tahun, dengan dua cohort setiap tahun dan tahapan inkubasi, pre-acceleration serta acceleration. Program itu juga menghubungkan startup Armenia dengan jaringan global Plug and Play yang mencakup lebih dari 100.000 startup dan lebih dari 500 perusahaan besar. (hightech.gov.am)
Dukungan pemerintah terhadap kewirausahaan teknologi juga terlihat melalui Sevan Startup Summit. Pada April 2025, pemerintah Armenia mengalokasikan AMD 200 juta, sekitar US$511.000, untuk mendukung penyelenggaraan Sevan Startup Summit 2025.
Perkembangan sektor teknologi tersebut berlangsung ketika ekonomi Armenia masih mencatat pertumbuhan relatif kuat. Bank Dunia mencatat ekonomi Armenia tumbuh 7,2 persen pada 2025, dengan konsumsi swasta tumbuh 10,7 persen dan investasi 15,6 persen. Dari sisi sektor, jasa tumbuh 5,9 persen sementara konstruksi mencapai 21 persen. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Armenia melambat menjadi 5,3 persen pada 2026 dan mendekati 5 persen dalam jangka menengah. (worldbank.org)
Dari Yerevan hingga Lake Sevan
Yerevan
Bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengenal Armenia melalui perjalanan wisata, Bejanyan merekomendasikan sejumlah destinasi utama.
Salah satunya adalah Yerevan, ibu kota Armenia yang memiliki akar sejarah lebih dari 2.800 tahun. Kota ini menelusuri asal-usulnya ke benteng Erebuni yang didirikan Raja Argishti I dari Urartu pada 782 SM di wilayah Yerevan sekarang. Saat ini Yerevan menjadi pusat politik, ekonomi dan kebudayaan Armenia. Wisatawan dapat mengunjungi Republic Square, Cascade Complex, Opera and Ballet House serta kawasan seperti Northern Avenue dan Abovyan Street.
Kota ini juga memiliki situs arkeologi Erebuni yang menjadi salah satu penghubung utama antara Yerevan modern dan sejarah Kerajaan Urartu di kawasan tersebut.
Lake Sevan
Destinasi lain yang direkomendasikan Bejanyan adalah Lake Sevan, danau terbesar di Armenia yang kerap disebut sebagai “Pearl of Armenia”. Danau pegunungan tersebut berada pada ketinggian sekitar 1.900 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas sekitar 1.240 kilometer persegi.
Selain menikmati pemandangan pegunungan dan danau, wisatawan dapat berenang, berperahu, kayaking, paddleboarding serta mencoba berbagai aktivitas olahraga air.
Di Semenanjung Sevan terdapat pula Sevanavank, kompleks biara dengan gereja-gereja utama yang berasal dari abad kesembilan. Lokasinya yang berada di tempat lebih tinggi juga menawarkan panorama luas ke arah Lake Sevan.
Geghard dan Tatev
Untuk wisata sejarah dan spiritual, Bejanyan menunjuk dua kompleks biara terkenal Armenia, Geghard dan Tatev.
Geghard Monastery merupakan kompleks biara yang sebagian gereja, makam dan ruangannya dipahat langsung ke dalam batu di kawasan Upper Azat Valley. Menurut tradisi, kompleks tersebut pertama kali dikaitkan dengan St. Gregory the Illuminator pada abad keempat, sementara sebagian besar struktur yang terlihat saat ini berkembang terutama pada abad ke-13.
Geghard dan Upper Azat Valley masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2000. Nama Geghard sendiri berkaitan dengan kata Armenia yang berarti “tombak”. Biara tersebut pernah menyimpan relik yang menurut tradisi Kristen merupakan tombak yang digunakan untuk menusuk sisi Kristus ketika penyaliban, sehingga kompleks tersebut kemudian dikenal sebagai Geghardavank atau “Monastery of the Spear”.
Lebih jauh ke selatan terdapat Tatev Monastery di Provinsi Syunik. Kompleks Tatev yang berkembang terutama antara abad ke-9 hingga ke-14 berdiri di tepi tebing yang menghadap Vorotan Gorge. Tatev pernah menjadi pusat penting kehidupan agama, budaya dan pendidikan Armenia, termasuk sebagai tempat berkembangnya University of Tatev pada abad ke-14.
Salah satu cara paling terkenal untuk menuju kawasan Tatev adalah Wings of Tatev, kereta gantung yang menghubungkan Halidzor dengan Tatev melintasi Vorotan Gorge.
Dengan panjang 5.752 meter, Wings of Tatev memegang Guinness World Record sebagai kereta gantung double-track non-stop terpanjang di dunia.
Switzerland of Armenia
Bagi pencinta alam, Bejanyan merekomendasikan Dilijan, kota pegunungan yang dikelilingi kawasan hutan dan kadang dijuluki “Switzerland of Armenia”.
Dilijan National Park mencakup lebih dari 240 kilometer persegi kawasan hutan dan padang pegunungan, dengan berbagai jalur hiking yang melewati sungai, danau, air terjun dan situs bersejarah. Sejumlah bagian Transcaucasian Trail juga melintasi kawasan tersebut.
Wisatawan dapat melakukan hiking dan bersepeda, mengunjungi Parz Lake dan Gosh Lake, atau menjelajahi kompleks biara seperti Haghartsin dan Goshavank yang berada di antara kawasan hutan.
Di pusat Dilijan, pengunjung juga dapat menyusuri Sharambeyan Street yang dikenal dengan arsitektur tradisional, galeri seni dan toko kerajinan.
Pada akhirnya, Armenia ingin dikenal bukan hanya sebagai negara dengan sejarah kuno dan warisan Kekristenan yang panjang, tetapi juga sebagai negara kecil yang aktif membangun daya saing baru melalui teknologi, inovasi dan sumber daya manusia. Dari Yerevan hingga Dilijan, dari biara abad pertengahan hingga investasi dalam kecerdasan buatan dan startup, Armenia sedang membawa dua identitas itu berjalan bersama: menjaga masa lalu, sambil secara aktif membangun masa depan.
Baca juga: Armenia–Indonesia: Membuka Peluang Perdagangan dan Kerja Sama Teknologi

