Dari Museum ke Sutra: Michalis Pantelidis Membawa Warisan Siprus Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

(Business Lounge Journal – Special Talk)

Bagi desainer asal Siprus, Michalis Pantelidis, warisan budaya bukanlah sesuatu yang seharusnya hanya diam di balik etalase museum. Baginya, sejarah justru akan tetap hidup ketika menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Gagasan itulah yang melandasi koleksi syal sutra yang ia tampilkan dalam Indonesia Fashion Week, sebuah karya yang memadukan fotografi, kolase digital, dan kekayaan budaya Siprus.

Dalam wawancara singkat bersama Business Lounge Journal, Michalis berbagi cerita mengenai proses kreatifnya, kecintaannya pada budaya Siprus, serta kesan mendalam yang ia rasakan selama berada di Jakarta.

Menghidupkan Warisan Budaya Melalui Syal Sutra

Perjalanan kreatif Michalis berawal dari fotografi. Ia tidak membatasi objek yang dipotretnya. Apa pun yang mampu menarik perhatian dapat menjadi titik awal sebuah karya.

“Saya memotret berbagai hal yang menurut saya menarik. Bisa saja sampah, ayah saya yang sedang memanen buah delima, atau koleksi di museum. Semuanya selalu tentang pesan yang ada di balik objek tersebut,” ujarnya.

Dari foto-foto tersebut, Michalis kemudian membuat kolase digital sebelum mencetaknya pada kain sutra berkualitas tinggi. Hasil akhirnya adalah syal berbahan 100 persen sutra yang tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga menjadi media untuk membawa cerita budaya Siprus ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, museum memang memiliki peran penting dalam menjaga sejarah. Namun, warisan budaya akan memiliki makna yang lebih hidup ketika dapat terus menemani aktivitas masyarakat.

“Kalau sesuatu hanya ada di museum, mungkin kita hanya melihatnya satu atau dua kali. Tetapi ketika kita bisa memakainya setiap hari, kita selalu membawa sebagian dari Siprus bersama kita.”

Ia juga memilih syal karena setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengenakannya. Dengan demikian, setiap pemakai secara alami menambahkan identitas dan kepribadiannya sendiri pada karya tersebut.

Terpesona oleh Warna-Warni Jakarta

Keikutsertaan dalam Indonesia Fashion Week menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Michalis. Ia mengaku sangat bersyukur dapat memperkenalkan karyanya kepada publik Indonesia.

“Indonesia Fashion Week adalah pengalaman impian bagi saya. Semua orang sangat mendukung, sangat profesional, dan para modelnya pun luar biasa,” katanya.

Namun, bukan hanya penyelenggaraan acara yang meninggalkan kesan mendalam. Jakarta sendiri menjadi sumber inspirasi baru baginya.

Menurut Michalis, kota ini dipenuhi warna, motif, dan corak yang hadir hampir di setiap sudut. Inspirasi tersebut tidak hanya ditemukan pada kain tradisional atau museum, tetapi juga dalam arsitektur, desain interior, hingga kehidupan jalanannya.

“Di Jakarta saya merasa sangat terinspirasi karena di mana-mana penuh warna, motif, dan corak. Bukan hanya di museum atau tekstil, tetapi juga di jalanan, arsitektur, hingga desain interior. Semuanya ada di mana-mana.”

Begitu banyaknya inspirasi yang ia temukan membuatnya merasa “kewalahan” dalam arti yang positif. Kini, ia justru penasaran melihat bagaimana pengalaman tersebut akan memengaruhi karya-karya berikutnya.

Melalui pendekatan yang menggabungkan seni visual, desain tekstil, dan pelestarian budaya, Michalis Pantelidis menunjukkan bahwa fashion tidak hanya berbicara tentang apa yang dikenakan seseorang. Fashion juga dapat menjadi medium untuk menjaga ingatan, membawa sejarah ke ruang publik, dan membuat warisan budaya tetap hidup melalui karya yang digunakan setiap hari.