IMF
700 19th Street Northwest, home to the International Monetary Fund (IMF) in downtown Washington, D.C.

IMF Pangkas Ancaman Resesi, AI dan Perang Jadi Penentu Ekonomi Global

(Business Lounge – Economy)  Tiga bulan lalu, para ekonom di Dana Moneter Internasional (IMF) mengkhawatirkan bahwa konflik berkepanjangan dengan Iran dapat mendorong perekonomian dunia ke jurang resesi.Dalam proyeksi kuartalan terbaru yang dirilis pada hari Rabu, para penyusun prakiraan IMF menyatakan bahwa gencatan senjata yang tercapai pada Juni telah menghilangkan sebagian besar risiko tersebut. Mereka menilai bahwa dampak perang yang berlangsung selama empat bulan terhadap ekonomi global hanya berupa perlambatan pertumbuhan yang relatif kecil, dengan kerusakan jangka panjang yang terbatas.

Namun, pada Rabu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut telah berakhir. Pernyataan itu muncul setelah Iran kembali melancarkan serangan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas dengan serangan militer Amerika Serikat ke Iran. Meski demikian, Trump tidak sampai menyatakan bahwa Amerika Serikat akan kembali melanjutkan perang.

Dalam proyeksi yang diterbitkan pada April, IMF sempat menguraikan tiga kemungkinan dampak konflik terhadap ekonomi dunia, termasuk skenario terburuk berupa resesi global apabila perang terus berlanjut hingga 2027. Namun, seluruh skenario tersebut tidak lagi dimasukkan dalam pembaruan proyeksi terbaru.

Petya Koeva Brooks, wakil direktur divisi riset IMF, mengatakan bahwa ketidakpastian dan berbagai risiko memang masih ada, serta sebagian besar tetap mengarah pada potensi perlambatan ekonomi. Meski begitu, menurutnya, perekonomian global sejauh ini menunjukkan tingkat ketahanan yang cukup tinggi.

Proyeksi IMF, yang selama ini banyak dijadikan acuan oleh pelaku usaha dan investor, kini memperkirakan ekonomi global akan tumbuh 3% pada 2026, turun tipis dibandingkan proyeksi April sebesar 3,1% maupun pertumbuhan 3,5% pada 2025. Berkat derasnya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali menguat menjadi 3,4% pada 2027, lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya sebesar 3,2%.Meskipun demikian, angka pertumbuhan global tersebut menutupi perbedaan yang cukup tajam antarnegara, karena perang Iran dan ledakan investasi AI telah menciptakan kelompok negara yang diuntungkan maupun yang dirugikan.

IMF memperkirakan Amerika Serikat akan tetap berada dalam posisi yang kuat karena menjadi salah satu pusat pengembangan kecerdasan buatan sekaligus negara yang mengekspor minyak lebih banyak daripada mengimpornya. Pertumbuhan belanja pemerintah federal yang masih tinggi juga dinilai menjadi faktor pendukung tambahan. IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sebesar 2,3% tahun ini, sama seperti perkiraan April, sementara proyeksi pertumbuhan tahun depan dinaikkan menjadi 2,2% dari sebelumnya 2,1%.

Gencatan senjata sempat meredakan lonjakan harga energi yang terjadi pada musim semi. Namun demikian, IMF masih memperkirakan harga minyak rata-rata tahun ini akan sekitar 32% lebih tinggi dibandingkan 2025. Kondisi tersebut diperkirakan akan membebani negara-negara pengimpor energi, mulai dari India hingga Eropa, sementara negara-negara produsen minyak seperti Amerika Serikat justru berada pada posisi yang lebih menguntungkan. Harga minyak memang kembali naik sejak Selasa setelah pecahnya kembali konflik, tetapi masih jauh di bawah puncaknya ketika perang sedang berlangsung.

Harga energi yang lebih tinggi serta lemahnya kepercayaan konsumen juga menjadi beban bagi kawasan euro. IMF kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut hanya mencapai 0,9% tahun ini, lebih rendah dibandingkan proyeksi April yang sebesar 1,1%.

Di sisi lain, investasi pada infrastruktur komputasi terus mendorong pertumbuhan ekonomi di sepanjang rantai pasok AI yang membentang dari Taiwan, Korea Selatan, dan China hingga Silicon Valley. IMF menilai negara-negara yang memperoleh manfaat dari perkembangan AI masih akan menikmati momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini.

Dalam menjelaskan mengapa skenario pesimistis yang disusun pada April tidak menjadi kenyataan, IMF menyebut bahwa pasar energi ternyata menunjukkan tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga lonjakan harga tidak berlangsung separah yang dikhawatirkan. Dari sisi permintaan, China memanfaatkan cadangan minyaknya yang besar untuk mengurangi impor. Sementara itu, dari sisi pasokan, negara-negara di luar Timur Tengah meningkatkan produksi sehingga mampu menutup sebagian kekurangan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.

Koeva Brooks mengatakan bahwa dunia menyaksikan tingkat fleksibilitas serta kemampuan penyesuaian yang sebelumnya sulit diperkirakan.Meski demikian, IMF mengingatkan bahwa dampak penuh dari tingginya harga energi belum sepenuhnya dirasakan karena sejumlah negara masih memanfaatkan pasokan minyak yang dikirim sebelum konflik dimulai.

Selain dampak perang, IMF menilai perkembangan teknologi AI akan menjadi faktor utama yang menentukan arah ekonomi global dalam beberapa tahun mendatang. Jika permintaan terhadap komputasi terus meningkat atau teknologi tersebut mulai membantu perusahaan meningkatkan produktivitas secara signifikan, prospek pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi menjadi lebih baik.

Sebaliknya, IMF memperingatkan bahwa apabila nilai ekonomi teknologi AI ternyata tidak memenuhi ekspektasi yang selama ini dibangun, penurunan investasi secara mendadak dapat memicu koreksi tajam di pasar keuangan dan menyebabkan perlambatan ekonomi yang meluas hingga ke sektor-sektor di luar industri teknologi.