Industri mode global tengah menghadapi tekanan besar untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Di tengah upaya tersebut, startup asal Swedia, Syre, yang didukung oleh raksasa fesyen H&M, mengumumkan rencana pembangunan fasilitas daur ulang tekstil senilai sekitar US$750 juta di Vietnam. Proyek ini diharapkan menjadi alternatif penting bagi industri fesyen dunia yang selama ini sangat bergantung pada China dalam pengolahan bahan baku tekstil daur ulang.
Syre merupakan perusahaan yang berfokus pada teknologi daur ulang poliester berskala besar. Perusahaan ini bertujuan mengubah limbah tekstil menjadi bahan baku baru yang dapat digunakan kembali dalam produksi pakaian. Dengan pendekatan tersebut, Syre ingin mendorong terciptanya ekonomi sirkular di industri mode, di mana bahan tekstil tidak lagi berakhir di tempat pembuangan sampah setelah digunakan.
Vietnam dipilih sebagai lokasi investasi karena negara ini telah menjadi salah satu pusat manufaktur pakaian terbesar di dunia. Banyak merek global, termasuk Nike, Adidas, dan H&M, memiliki jaringan produksi yang luas di negara Asia Tenggara tersebut. Kehadiran fasilitas Syre di Vietnam diharapkan dapat mendekatkan sumber bahan baku daur ulang dengan pusat produksi garmen, sehingga mengurangi biaya logistik dan emisi karbon dari transportasi.
Nike disebut sebagai salah satu pelanggan utama yang berpotensi memanfaatkan hasil produksi fasilitas tersebut. Sebagai perusahaan yang memiliki target keberlanjutan ambisius, Nike terus mencari sumber bahan baku ramah lingkungan untuk mengurangi jejak karbon produknya. Bahan poliester daur ulang yang dihasilkan Syre dapat menjadi solusi bagi merek-merek global yang ingin meningkatkan penggunaan material berkelanjutan dalam koleksi mereka.
Selama ini, China mendominasi rantai pasok daur ulang tekstil dan produksi serat sintetis dunia. Namun, berbagai faktor seperti ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, dan kebutuhan diversifikasi rantai pasok mendorong banyak perusahaan mencari alternatif di luar negeri tersebut. Investasi Syre di Vietnam mencerminkan tren yang semakin kuat di kalangan perusahaan global untuk membangun kapasitas produksi baru di Asia Tenggara.
Selain memberikan manfaat bagi industri mode, proyek ini juga diperkirakan membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi Vietnam. Investasi ratusan juta dolar akan menciptakan lapangan kerja baru, mendorong transfer teknologi, serta memperkuat posisi Vietnam sebagai pusat manufaktur tekstil berkelanjutan. Pemerintah Vietnam sendiri dalam beberapa tahun terakhir aktif menarik investasi hijau dan proyek-proyek yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Syre menargetkan fasilitas tersebut dapat memproduksi poliester daur ulang dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan industri fast fashion yang terus berkembang. Segmen fast fashion selama ini sering mendapat kritik karena menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar dan mendorong konsumsi pakaian yang cepat. Dengan menghadirkan bahan baku hasil daur ulang, Syre berharap dapat membantu mengurangi ketergantungan industri pada bahan baku berbasis minyak bumi.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Keberhasilan model bisnis daur ulang tekstil bergantung pada ketersediaan limbah tekstil yang cukup, efisiensi teknologi, serta komitmen merek-merek global untuk membeli bahan daur ulang dalam skala besar. Namun, dengan dukungan dari H&M dan minat pelanggan yang besar seperti Nike, Syre memiliki peluang untuk menjadi pemain penting dalam transformasi industri mode menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

