Sri Lanka

Sri Lanka Bangkit Lewat Pariwisata yang Menggoda Dunia

(Business Lounge – Essay on Global) Sri Lanka bukan sekadar destinasi liburan yang indah di peta, tetapi sebuah contoh bagaimana sebuah negara kecil mencoba bangkit dengan memanfaatkan apa yang sudah dimilikinya. Pulau ini sering disebut sebagai mutiara Samudra Hindia, bukan tanpa alasan. Dalam radius yang relatif sempit, Sri Lanka menghadirkan pantai, pegunungan, hutan, hingga situs sejarah berusia ribuan tahun. Kombinasi ini menciptakan nilai pengalaman yang padat, sesuatu yang sulit ditandingi banyak negara lain.

Keunggulan geografis itu kemudian berubah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Pariwisata sejak lama menjadi salah satu sumber devisa utama Sri Lanka, berdampingan dengan industri tekstil dan remitansi tenaga kerja luar negeri. Sebelum pandemi, sektor ini menyumbang sekitar 5 persen terhadap PDB dan menjadi salah satu penghasil valuta asing paling penting bagi negara tersebut. Angka ini terlihat kecil di atas kertas, tetapi efeknya menyebar luas ke berbagai sektor.

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata kembali menunjukkan performa yang mencolok. Pada 2024, Sri Lanka masuk dalam daftar pasar pariwisata dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Momentum itu berlanjut di 2025, dengan jumlah wisatawan meningkat lebih dari 13 persen pada kuartal pertama, sementara pendapatan sektor ini naik sekitar 9,4 persen secara tahunan. Angka-angka ini memberi sinyal bahwa pemulihan tidak hanya terjadi, tetapi juga bergerak cukup cepat.

Target pemerintah pun tidak tanggung-tanggung. Tahun ini, Sri Lanka membidik sekitar 3 juta wisatawan, naik dari sekitar 2 juta kunjungan pada tahun sebelumnya. Jika tercapai, angka ini akan melampaui level sebelum pandemi. Dalam jangka lebih panjang, pemerintah bahkan memasang ambisi untuk menarik hingga 5 juta wisatawan pada 2030. Target ini mencerminkan keyakinan bahwa pariwisata bisa menjadi motor penting dalam pemulihan ekonomi.

Namun yang membuat sektor ini menarik bukan hanya angka kunjungan, tetapi juga kemampuannya menghasilkan devisa dengan cepat. Sri Lanka sangat membutuhkan mata uang asing untuk membiayai impor, terutama energi, serta untuk menjaga stabilitas ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, cadangan devisa negara ini meningkat hingga lebih dari 6 miliar dolar AS, dan sebagian kontribusinya datang dari kebangkitan sektor pariwisata.

Efek pariwisata tidak berhenti pada angka makro. Di lapangan, dampaknya terasa langsung. Ketika wisatawan datang, permintaan terhadap berbagai layanan meningkat. Hotel, restoran, transportasi, hingga usaha kecil ikut bergerak. Bahkan industri pendukung seperti produksi kemasan untuk hotel mengalami pertumbuhan, dengan beberapa pelaku usaha melaporkan peningkatan penjualan sekitar 8 hingga 10 persen per tahun seiring pulihnya sektor ini.

Di tingkat lokal, perubahan juga terlihat jelas. Program homestay yang diluncurkan sejak 2011 kini berkembang pesat, dengan lebih dari 1.000 unit terdaftar secara resmi, dan kemungkinan lebih banyak lagi yang beroperasi secara informal. Model ini memungkinkan masyarakat desa ikut menikmati manfaat pariwisata secara langsung. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam ekosistem ekonomi.

Potensi sektor ini juga terlihat dari tren khusus seperti wisata alam. Aktivitas hiking dan trekking, misalnya, diperkirakan memiliki nilai pasar sekitar 780 juta dolar AS pada 2025, dan bisa melonjak hingga lebih dari 2 miliar dolar AS pada 2035. Angka ini menunjukkan bahwa Sri Lanka tidak hanya mengandalkan wisata umum, tetapi juga mulai mengembangkan segmen yang lebih spesifik dan bernilai tinggi.

Namun, di balik pertumbuhan ini, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apakah terlalu berisiko menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung utama ekonomi? Secara struktur, kontribusi sektor ini terhadap PDB saat ini masih relatif kecil, sekitar 3 persen. Artinya, meskipun penting, pariwisata belum cukup besar untuk menjadi satu-satunya penopang ekonomi.

Selain itu, sifat pariwisata yang sensitif terhadap berbagai faktor eksternal membuat sektor ini sulit dijadikan fondasi utama. Perubahan kondisi global, kenaikan harga energi, atau perlambatan ekonomi dunia bisa langsung berdampak pada jumlah wisatawan. Hal ini membuat ketergantungan berlebihan menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.

Dari sisi tenaga kerja, sektor ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tingkat pengangguran pemuda di Sri Lanka masih berada di sekitar 22 persen pada 2024. Pariwisata memang membuka banyak peluang kerja, tetapi tidak semuanya bersifat stabil atau jangka panjang. Banyak pekerjaan bersifat musiman, tergantung pada arus kunjungan wisatawan.

Di sisi lain, pemerintah melihat pariwisata sebagai sektor yang relatif mudah diakses oleh generasi muda. Tidak selalu membutuhkan pendidikan tinggi, tetapi lebih pada keterampilan layanan dan komunikasi. Ini membuat pariwisata menjadi entry point bagi banyak orang untuk masuk ke dunia kerja, terutama di daerah yang minim industri lain. Strategi pemerintah pun mulai bergeser untuk menjawab berbagai tantangan ini. Alih-alih hanya mengejar jumlah wisatawan, fokus mulai diarahkan pada wisata berkualitas tinggi. Pendekatan ini menargetkan wisatawan dengan pengeluaran lebih besar, sehingga dampak ekonominya lebih signifikan meskipun jumlahnya tidak terlalu besar.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan keterbatasan geografis Sri Lanka sebagai negara kecil. Dengan luas wilayah yang terbatas, lonjakan wisatawan secara masif berpotensi menimbulkan tekanan pada lingkungan dan infrastruktur. Oleh karena itu, strategi berbasis kualitas dianggap lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.Di sisi investasi, sektor pariwisata juga mulai menarik proyek-proyek besar. Salah satunya adalah pengembangan resort terpadu dengan nilai investasi sekitar 1,2 miliar dolar AS. Proyek seperti ini tidak hanya menghadirkan fasilitas mewah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Namun, pertumbuhan ini juga memunculkan dinamika baru, terutama terkait peran pelaku asing. Dalam beberapa kasus, muncul laporan tentang praktik bisnis yang tidak sesuai aturan, seperti penggunaan visa wisata untuk bekerja atau membuka usaha tanpa izin yang jelas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kehilangan pendapatan negara. Pelaku lokal juga mulai merasakan tekanan dari persaingan ini. Di beberapa destinasi populer, mereka mengklaim bahwa hingga 30 hingga 40 persen potensi pendapatan bisa hilang akibat praktik ilegal atau tidak terdaftar. Situasi ini mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasan dan penegakan aturan di sektor pariwisata.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, penting untuk melihat pariwisata dalam konteks yang lebih luas. Sri Lanka masih memiliki sektor lain yang berperan besar dalam ekonomi. Pertanian, misalnya, menyumbang sekitar 7 hingga 8 persen terhadap PDB dan menyerap lebih dari seperempat tenaga kerja. Namun, pertumbuhannya relatif lambat, hanya sekitar 1,2 persen pada 2024.

Sektor industri dan jasa juga menunjukkan perkembangan, dengan pertumbuhan masing-masing sekitar 11 persen dan 2,4 persen. Dibandingkan itu, pariwisata mencatat lonjakan yang jauh lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 50 persen dalam periode tertentu. Perbedaan ini menjelaskan mengapa sektor ini menjadi sorotan utama dalam strategi pemulihan.Meski begitu, banyak ekonom mengingatkan bahwa pariwisata sebaiknya dilihat sebagai pendorong tambahan, bukan fondasi utama. Analogi yang sering digunakan adalah bahwa pariwisata adalah “hiasan di atas kue”, sementara fondasi utamanya tetap harus dibangun dari sektor lain seperti industri dan pertanian.

Tekanan waktu juga menjadi faktor penting. Dalam beberapa tahun ke depan, Sri Lanka harus mulai kembali membayar utang internasionalnya. Hal ini membuat kebutuhan akan devisa menjadi sangat mendesak. Dalam situasi seperti ini, pariwisata menjadi salah satu sumber paling cepat untuk menghasilkan pemasukan dalam mata uang asing.Di luar angka dan strategi, ada perubahan lain yang tidak kalah penting: citra Sri Lanka di mata dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, persepsi global terhadap negara ini mulai membaik. Wisatawan yang datang membawa cerita baru, yang kemudian menyebar melalui media sosial dan platform digital.

Konten kreator lokal memainkan peran besar dalam proses ini. Dengan ratusan ribu pengikut dan jutaan penonton setiap bulan, mereka membantu memperkenalkan sisi Sri Lanka yang lebih hangat dan manusiawi. Ini menciptakan efek promosi yang tidak bisa dibeli dengan iklan biasa.Perubahan citra ini penting karena pariwisata sangat bergantung pada persepsi. Ketika sebuah negara dianggap aman, menarik, dan layak dikunjungi, arus wisatawan akan mengikuti. Dalam konteks ini, setiap wisatawan bisa menjadi duta tidak resmi yang membantu membangun reputasi negara.

Perjalanan Sri Lanka masih jauh dari selesai. Tantangan tetap ada, mulai dari ketergantungan ekonomi hingga dinamika sosial di sektor pariwisata. Namun, langkah yang diambil saat ini menunjukkan arah yang jelas: memanfaatkan kekuatan yang ada sambil mencoba membangun fondasi yang lebih kuat. Pariwisata mungkin bukan jawaban untuk semua persoalan, tetapi ia telah menjadi mesin awal yang menggerakkan kembali ekonomi. Dari sana, Sri Lanka memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh, menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan, keberlanjutan, dan pemerataan manfaat.