Fenomena “Terjebak” di Pasar Kerja Global

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Beberapa tahun lalu, dunia kerja berada di fase yang sangat berbeda. Orang dengan mudah resign, berpindah perusahaan, bahkan menegosiasikan gaji lebih tinggi dengan percaya diri. Fenomena itu dikenal sebagai Great Resignation—masa ketika pekerja memegang kendali. Namun hari ini, arah angin telah berubah.

Sebuah survei terbaru dari Gallup menunjukkan bahwa hanya 28% pekerja di Amerika Serikat yang merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencari pekerjaan baru, sementara 72% lainnya justru menganggap ini waktu yang buruk. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perubahan psikologis besar dalam dunia kerja: dari optimisme menuju kehati-hatian—bahkan ketakutan.

Dari “Berani Pindah” ke “Bertahan Saja”

Yang menarik, pesimisme ini muncul di tengah kondisi yang tampak kontradiktif. Tingkat pengangguran di AS mungkin relatif rendah, dan tidak ada gelombang PHK besar-besaran seperti saat krisis. Namun di balik angka makro tersebut, pasar kerja kini berada dalam kondisi yang sering disebut sebagai “low-hire, low-fire”—perusahaan tidak banyak melakukan PHK, tetapi juga tidak aktif merekrut. Akibatnya, mobilitas karier melambat. Pekerja tidak kehilangan pekerjaan, tetapi juga kesulitan menemukan peluang baru.

Fenomena ini melahirkan istilah baru: “job hugging”—ketika karyawan memilih bertahan di pekerjaan yang mungkin tidak lagi memuaskan, karena merasa berpindah justru lebih berisiko. Di sinilah paradoks muncul: semakin banyak orang ingin pindah, tetapi semakin sedikit yang benar-benar berani melakukannya.

Dampak terbesar justru dirasakan oleh generasi muda. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 2 dari 10 pekerja usia 18–34 tahun di AS yang merasa optimis terhadap peluang kerja, jauh lebih rendah dibanding generasi yang lebih tua.

Alasannya cukup jelas. Di banyak sektor—terutama white-collar seperti teknologi, media, dan layanan profesional—proses rekrutmen melambat drastis. Bahkan mereka yang berpendidikan tinggi justru lebih pesimis, dengan tingkat optimisme yang lebih rendah dibanding non-lulusan.

Ini menandai perubahan penting bahwa pendidikan tinggi tidak lagi menjamin rasa aman dalam karier.

Bukan Hanya Amerika: Gejala Global yang Sama

Meski data Gallup berfokus pada Amerika Serikat, tren yang sama sebenarnya terlihat secara global.

Dalam laporan State of the Global Workplace, Gallup mencatat bahwa:

  • Employee engagement global turun menjadi 21%
  • Penurunan ini menyebabkan kerugian produktivitas hingga US$438 miliar secara global
  • Hanya 33% pekerja di dunia yang merasa “thriving” dalam hidup mereka

Artinya, bukan hanya soal sulit mencari pekerjaan baru—tetapi juga menurunnya kualitas pengalaman kerja secara keseluruhan.

Di kawasan Asia sendiri, dinamika ini memiliki lapisan tambahan. Negara-negara dengan populasi muda besar—seperti India, Indonesia, dan Filipina—menghadapi tekanan ganda, pertumbuhan tenaga kerja yang cepat namun tidak selalu diimbangi penciptaan lapangan kerja berkualitas. Sementara di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan, tantangannya berbeda, yaitu pasar kerja cenderung stabil tetapi mobilitas karier rendah dan budaya kerja konservatif membuat pekerja enggan berpindah.

Hasil akhirnya serupa: pekerja bertahan, bukan karena puas—tetapi karena tidak yakin ada pilihan yang lebih baik.

Pekerja yang “Resah Tapi Diam”

Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa lebih dari separuh pekerja sebenarnya masih aktif mencari pekerjaan atau setidaknya “mengawasi peluang”. Namun ironisnya, hampir setengah dari mereka yang mencoba berpindah justru mengalami pengalaman negatif—tidak mendapat panggilan interview atau gagal dalam proses seleksi.

Ini menciptakan kondisi psikologis baru, restless but stuck—gelisah, tetapi tidak bergerak.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya. Bukan hanya bagi individu, tetapi juga organisasi. Karyawan yang merasa “terjebak” cenderung kurang engaged, kehilangan motivasi, dan menurunkan produktivitas secara perlahan.

Pergeseran Mindset: Stabilitas Mengalahkan Ambisi

Jika dulu karier sering dipandang sebagai perjalanan naik—lebih cepat, lebih tinggi, lebih besar—hari ini banyak pekerja mulai mengubah prioritasnya. Stabilitas menjadi lebih penting daripada pertumbuhan. Keamanan lebih diutamakan daripada peluang.

Bahkan muncul pandangan baru bahwa pekerjaan tidak harus “dicintai”, selama ia memberikan penghasilan yang stabil, keseimbangan hidup, dan rasa aman di tengah ketidakpastian. Ini adalah pergeseran mindset yang cukup drastis—dan kemungkinan akan membentuk generasi pekerja berikutnya.

Bagi organisasi, kondisi ini bisa terasa seperti kabar baik. Turnover rendah berarti tim lebih stabil. Namun stabilitas semu bisa berbahaya. Ketika karyawan bertahan bukan karena loyalitas, tetapi karena ketakutan, perusahaan menghadapi risiko stagnasi inovasi, menurunnya engagement, dan hilangnya energi organisasi.

Dalam jangka panjang, ini bisa lebih merugikan dibanding tingginya turnover.

Dunia kerja hari ini mungkin terlihat lebih tenang. Tidak banyak orang resign. Tidak banyak lonjakan perpindahan karier. Namun di balik ketenangan itu, ada ketegangan yang tidak terlihat. Jutaan pekerja sedang menimbang untuk bertahan atau pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak yang memilih bertahan—bukan karena ingin, tetapi karena merasa harus.

Pertanyaannya ke depan bukan lagi: apakah orang akan pindah kerja? Melainkan apa yang terjadi ketika terlalu banyak orang berhenti bergerak?