(Business Lounge-Tech) Perusahaan perangkat lunak sumber daya manusia asal Amerika Serikat, Workday, memberi panduan pertumbuhan pendapatan langganan yang lebih lambat dari ekspektasi pasar. Proyeksi tersebut bukan hanya mengecewakan Wall Street, tetapi juga mempertebal kegelisahan investor terkait dampak kecerdasan buatan terhadap model bisnis perusahaan.
Dalam laporan kinerja yang diulas Reuters dan Bloomberg, Workday menyampaikan bahwa pertumbuhan pendapatan berbasis langganan—sumber utama pemasukan perusahaan—diperkirakan melambat pada periode mendatang. Angka panduan itu berada di bawah perkiraan analis, memicu reaksi negatif di pasar saham.
Workday selama ini dikenal sebagai penyedia solusi perangkat lunak berbasis cloud untuk pengelolaan SDM dan keuangan perusahaan. Model bisnisnya mengandalkan kontrak langganan jangka panjang dengan korporasi besar. Stabilitas kontrak tersebut sempat membuat sahamnya dianggap defensif di tengah gejolak sektor teknologi.
Namun lanskap kini berubah cepat. Kemunculan teknologi kecerdasan buatan generatif memicu spekulasi bahwa sejumlah fungsi administrasi dan analitik bisa diotomatisasi lebih efisien, bahkan mungkin oleh platform baru yang lebih lincah. Kekhawatiran ini membuat investor mempertanyakan apakah perangkat lunak manajemen tradisional akan tetap relevan dalam jangka panjang.
Menurut analisis yang dikutip Financial Times, sebagian pelaku pasar khawatir AI dapat mengurangi kebutuhan perusahaan terhadap solusi manajemen SDM konvensional, atau setidaknya menekan harga dan margin. Jika perusahaan klien mulai mengintegrasikan AI ke dalam sistem internal mereka, posisi penyedia perangkat lunak seperti Workday bisa tertekan.
Manajemen Workday mencoba meredakan kecemasan tersebut dengan menegaskan bahwa perusahaan juga berinvestasi besar dalam integrasi AI ke dalam produknya. Fitur berbasis kecerdasan buatan sudah ditanamkan untuk membantu proses rekrutmen, perencanaan tenaga kerja, hingga analisis keuangan. Namun pasar tampaknya masih menunggu bukti bahwa strategi tersebut mampu mempertahankan laju pertumbuhan.
Perlambatan panduan pendapatan langganan juga mencerminkan sikap hati-hati klien korporasi dalam belanja teknologi. Banyak perusahaan global kini meninjau ulang anggaran IT, menunda proyek baru, atau memperpanjang siklus pengambilan keputusan. Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan kontrak baru cenderung melambat.
Bagi Workday, tantangan datang dari dua arah: tekanan makroekonomi yang membuat klien lebih selektif, serta perubahan teknologi yang berpotensi menggeser struktur industri. Kombinasi ini memicu volatilitas pada saham perusahaan setelah pengumuman panduan terbaru.
Meski begitu, basis pelanggan Workday tetap luas dan mencakup banyak perusahaan besar dunia. Kontrak jangka panjang memberi visibilitas pendapatan yang relatif stabil. Selain itu, migrasi sistem manajemen ke cloud belum sepenuhnya rampung, sehingga peluang ekspansi masih terbuka.
Analis yang dikutip Reuters mencatat bahwa perlambatan pertumbuhan tidak serta-merta berarti penurunan absolut. Perusahaan tetap memproyeksikan kenaikan pendapatan, hanya saja dengan laju yang lebih pelan dari harapan pasar. Dalam konteks valuasi saham teknologi yang sensitif terhadap pertumbuhan, perbedaan beberapa poin persentase bisa berdampak besar.
Isu AI menjadi sorotan utama. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan peluang efisiensi dan nilai tambah bagi pelanggan. Di sisi lain, ia membuka pintu bagi kompetitor baru atau model bisnis berbeda yang lebih ringan dan berbasis otomatisasi. Workday perlu memastikan bahwa mereka bukan sekadar mengikuti tren, tetapi memimpin integrasi AI dalam solusi manajemen perusahaan.
Manajemen menyatakan komitmen untuk terus mengembangkan fitur berbasis data dan kecerdasan buatan agar platform tetap relevan. Investasi ini tentu membutuhkan biaya, yang dalam jangka pendek bisa menekan margin. Namun tanpa langkah tersebut, risiko tertinggal akan lebih besar.
Pasar perangkat lunak enterprise kini berada di fase transisi. Investor tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan cepat, tetapi juga ketahanan model bisnis terhadap disrupsi teknologi. Workday berada tepat di persimpangan itu.
Perhatian akan tertuju pada kemampuan perusahaan mengonversi investasi AI menjadi kontrak baru dan peningkatan nilai bagi pelanggan lama. Jika fitur berbasis AI mampu memperdalam keterikatan klien dan meningkatkan pendapatan per akun, kekhawatiran pasar bisa mereda.
Untuk saat ini, panduan pertumbuhan yang lebih lambat menjadi pengingat bahwa bahkan pemain mapan pun tidak kebal terhadap perubahan teknologi. Workday masih memiliki fondasi kuat di pasar perangkat lunak SDM, tetapi jalan ke depan dipenuhi tantangan baru yang menuntut adaptasi cepat. Investor akan mengamati dengan saksama apakah perusahaan mampu mengubah kecemasan soal AI menjadi peluang pertumbuhan yang nyata.

