(Business Lounge – Globsl News) Langkah terbaru Carrefour menegaskan satu hal, bahwa ritel Eropa sedang berlomba mengejar teknologi, bukan sekadar diskon. Peritel asal Prancis itu menandatangani kemitraan strategis dengan VusionGroup, perusahaan teknologi yang dikenal lewat solusi label harga elektronik dan sistem digital untuk toko fisik. Targetnya jelas—mengubah wajah hipermarket dan supermarket di Prancis agar lebih cerdas, responsif, dan efisien.
Menurut laporan Reuters, kolaborasi ini akan mempercepat pemasangan label harga digital dan infrastruktur berbasis data di ratusan gerai. Teknologi tersebut memungkinkan pembaruan harga secara real time, sinkron dengan promosi daring, sekaligus memotong biaya operasional yang selama ini terserap untuk pencetakan label manual. Bagi Carrefour, ini bukan proyek kosmetik. Ini soal daya tahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ritel Eropa dihantam tekanan biaya energi, inflasi bahan pangan, dan perubahan perilaku konsumen. Financial Times mencatat bahwa konsumen Prancis kini jauh lebih sensitif terhadap harga dan lebih sering membandingkan produk lewat aplikasi sebelum masuk toko. Di tengah lanskap seperti itu, kecepatan menjadi senjata. Label harga digital bukan hanya alat pajangan, tetapi mesin penggerak strategi harga dinamis.
Carrefour ingin tokonya terasa seperti platform, bukan gudang belanja. Lewat integrasi teknologi Vusion, data inventori bisa dipantau secara langsung, promosi dapat diatur otomatis, bahkan informasi produk bisa tampil lebih detail lewat kode QR. Les Echos menyebut transformasi ini sebagai bagian dari agenda besar digitalisasi yang telah dicanangkan manajemen sejak beberapa tahun lalu.
Ambisi teknologi itu berjalan seiring langkah penyederhanaan wilayah operasi. Carrefour kini lebih selektif memilih pasar prioritas. Setelah melepas atau merestrukturisasi bisnis di beberapa negara non-inti dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan memusatkan energi di pasar utama seperti Prancis, Spanyol, dan Brasil. Strategi ini, tulis Bloomberg, bertujuan memperkuat posisi di wilayah yang sudah memiliki skala ekonomi memadai.
Model hipermarket tradisional memang tak lagi sekuat dua dekade lalu. Konsumen urban cenderung memilih toko yang lebih kecil, dekat rumah, atau berbelanja daring. Carrefour merespons dengan kombinasi: memperkuat format supermarket dan convenience store, sambil mendigitalkan hipermarket agar tetap relevan. Transformasi ini bukan sekadar soal perangkat keras, tetapi juga perubahan kultur operasional.
Teknologi Vusion memungkinkan analisis perilaku belanja berbasis data rak. Informasi seperti produk mana yang sering dipegang tapi jarang dibeli, atau jam sibuk tertentu, bisa membantu manajemen menyusun tata letak toko yang lebih efektif. Reuters menyoroti bahwa efisiensi seperti ini dapat meningkatkan margin di tengah persaingan harga ketat dengan jaringan diskon.
Di sisi lain, pasar Prancis sendiri bukan medan yang ringan. Kompetisi dari peritel diskon seperti Lidl dan Aldi terus menggerus pangsa pasar pemain lama. Konsumen berburu harga rendah tanpa banyak kompromi. Carrefour sadar bahwa perang harga tak bisa dimenangkan hanya dengan promosi musiman. Butuh presisi data dan pengendalian biaya yang disiplin.
Kemitraan dengan Vusion juga memberi sinyal bahwa Carrefour ingin memaksimalkan ekosistem teknologi lokal. Vusion, yang berbasis di Prancis, berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir berkat tren digitalisasi ritel global. Bloomberg mencatat bahwa permintaan label harga elektronik melonjak seiring peritel berusaha menekan biaya tenaga kerja dan mengurangi kesalahan penetapan harga.
Bagi Carrefour, investasi ini juga menjadi cara menjaga citra sebagai peritel modern. Transformasi digital bukan hanya untuk efisiensi internal, tetapi juga pengalaman pelanggan. Informasi nutrisi, asal produk, hingga jejak karbon bisa ditampilkan lebih transparan. Isu keberlanjutan yang semakin kuat di Eropa membuat transparansi menjadi nilai tambah, bukan aksesori.
Langkah memusatkan operasi di wilayah inti memberi ruang finansial untuk investasi teknologi semacam ini. Dalam beberapa laporan kinerja terakhir, Carrefour menekankan disiplin arus kas dan pengurangan utang. Financial Times menilai strategi fokus wilayah membantu perusahaan menghindari kompleksitas manajemen lintas negara yang terlalu lebar.
Transformasi ritel memang tak instan. Digitalisasi toko fisik memerlukan pelatihan karyawan, integrasi sistem, serta adaptasi pelanggan. Namun Carrefour tampak memilih bergerak sekarang daripada tertinggal. Di tengah disrupsi e-commerce dan ekspansi pemain diskon, perusahaan ingin menjadikan toko fisik sebagai pusat pengalaman yang didukung data.
Apa yang dilakukan Carrefour mencerminkan arah baru ritel Eropa: teknologi sebagai fondasi, bukan pelengkap. Dengan menggandeng Vusion dan mengerucutkan wilayah operasi, Carrefour sedang membangun ulang identitasnya. Bukan lagi sekadar jaringan hipermarket besar, tetapi ekosistem ritel yang ditopang algoritma, layar digital, dan strategi harga gesit.
Perjalanan ini tentu belum selesai. Persaingan tetap panas, konsumen tetap kritis, dan tekanan biaya belum surut. Namun lewat langkah digitalisasi agresif dan fokus geografis yang lebih ramping, Carrefour memberi sinyal bahwa ia tak ingin sekadar bertahan. Ia ingin mengatur ulang permainan di pasar yang terus berubah.

