WeRide

WeRide Andalkan AI Tekan Biaya Robotaxi Demi Profit

(Business Lounge – Global News) Ambisi perusahaan kendaraan otonom WeRide untuk memperluas armada robotaxi mulai memasuki fase baru yang lebih realistis. Alih-alih hanya mengejar ekspansi agresif, perusahaan teknologi asal China itu kini menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat utama untuk menekan biaya operasional. CEO Tony Han menyatakan keyakinannya bahwa kombinasi teknologi AI dan efisiensi skala besar bisa membawa perusahaan menuju profitabilitas pada 2030, sebuah target yang cukup berani di tengah persaingan industri mobil otonom, seperti dilaporkan Bloomberg.

Robotaxi selama ini dipandang sebagai masa depan transportasi perkotaan, tetapi realitas bisnisnya jauh lebih kompleks. Pengembangan software otonom, sensor mahal, serta kebutuhan pengujian di berbagai kota membuat biaya membengkak. WeRide mencoba mengubah pendekatan dengan memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan rute, meningkatkan akurasi navigasi, serta mengurangi kebutuhan intervensi manusia. Menurut ulasan Reuters, perusahaan melihat efisiensi algoritma sebagai kunci untuk menurunkan cost per ride yang selama ini menjadi tantangan terbesar.

Tony Han menilai bahwa perkembangan komputasi AI dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang baru bagi perusahaan robotaxi. Sistem pembelajaran mesin memungkinkan kendaraan memahami lingkungan dengan lebih cepat, sekaligus memproses data lalu lintas secara real time. Dengan teknologi tersebut, WeRide berharap dapat mengurangi jumlah kendaraan cadangan dan meningkatkan tingkat utilisasi armada. Analis yang diwawancarai CNBC menyebut pendekatan ini sebagai langkah penting karena profitabilitas layanan otonom sangat bergantung pada efisiensi operasional.

Industri robotaxi memang sedang berada di fase eksperimen panjang. Banyak pemain besar menginvestasikan miliaran dolar tanpa jaminan keuntungan jangka pendek. Beberapa proyek bahkan mengalami penyesuaian strategi akibat biaya yang terlalu tinggi. Dalam laporan The Wall Street Journal, disebutkan bahwa investor kini lebih tertarik pada perusahaan yang mampu menunjukkan jalur jelas menuju laba, bukan sekadar pertumbuhan armada.

WeRide mencoba membedakan diri lewat model kolaborasi dengan pemerintah kota dan operator transportasi lokal. Perusahaan memperluas layanan di berbagai wilayah Asia serta beberapa kota internasional, sambil terus menguji teknologi dalam kondisi jalan yang berbeda. Strategi ini bertujuan mengumpulkan data dalam skala besar, karena AI membutuhkan volume informasi yang masif untuk meningkatkan performa. Semakin banyak kendaraan beroperasi, semakin cepat sistem belajar dan biaya per unit dapat ditekan.

Namun perjalanan menuju profit bukan tanpa tantangan. Regulasi kendaraan otonom masih berkembang di banyak negara, membuat ekspansi robotaxi bergantung pada persetujuan pemerintah setempat. Selain itu, kepercayaan publik terhadap kendaraan tanpa pengemudi masih menjadi faktor yang harus dibangun perlahan. Financial Times menyoroti bahwa perusahaan robotaxi harus menginvestasikan dana besar pada edukasi publik dan standar keamanan agar adopsi bisa meluas.

Dalam konteks persaingan global, WeRide menghadapi rival dari Amerika Serikat dan China yang sama-sama mengembangkan teknologi serupa. Perusahaan seperti Waymo atau Baidu telah lebih dulu menguji layanan robotaxi di beberapa kota besar. Walau demikian, Tony Han percaya bahwa fokus pada efisiensi biaya melalui AI dapat menjadi keunggulan strategis. Ia berargumen bahwa industri ini bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi siapa yang mampu menjalankan operasi dengan biaya paling rendah.

Investor memandang target profitabilitas 2030 sebagai visi jangka panjang yang masih penuh tanda tanya. Sebagian analis melihat optimisme tersebut sebagai sinyal bahwa perusahaan mulai beralih dari fase eksperimen menuju model bisnis yang lebih matang. Ulasan Forbes menyebut bahwa perusahaan robotaxi kini harus membuktikan kemampuan menghasilkan arus kas, terutama setelah gelombang investasi besar pada teknologi otonom mulai disorot lebih kritis oleh pasar.

Selain efisiensi teknologi, WeRide juga berupaya memperluas ekosistem layanan. Perusahaan menjajaki penggunaan kendaraan otonom untuk logistik ringan dan shuttle kota, membuka potensi pendapatan tambahan di luar layanan ride-hailing. Pendekatan diversifikasi ini diharapkan mempercepat jalan menuju profit, karena mengandalkan satu jenis layanan saja dianggap terlalu berisiko dalam industri yang masih berkembang.

Perjalanan WeRide mencerminkan transformasi lebih luas dalam dunia mobilitas masa depan. AI bukan lagi sekadar fitur tambahan, tetapi menjadi fondasi strategi bisnis yang menentukan keberlangsungan perusahaan. Dengan memanfaatkan algoritma untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi, WeRide mencoba membuktikan bahwa robotaxi bukan hanya proyek teknologi mahal, melainkan model transportasi yang bisa berkelanjutan secara finansial.

Bagi pasar, pernyataan Tony Han menjadi pengingat bahwa era kendaraan otonom sedang memasuki babak baru. Fokus tidak lagi hanya pada demonstrasi teknologi futuristik, tetapi pada kemampuan menghadirkan layanan yang ekonomis dan dapat diandalkan. Jika strategi berbasis AI ini berhasil, WeRide berpeluang menjadi salah satu pemain yang membentuk wajah transportasi kota modern, sekaligus menunjukkan bahwa jalan menuju profit di industri robotaxi memang panjang, namun bukan sesuatu yang mustahil.