(Business Lounge Journal – Interview Session)
Di tengah dinamika ekonomi digital Asia Tenggara yang semakin kompetitif, Grab terus menegaskan strategi pertumbuhan yang tidak hanya agresif, tetapi juga terukur. Dalam wawancara singkat dengan Peter Oey, Chief Financial Officer (CFO) Grab, dijelaskan bagaimana perusahaan menjaga keseimbangan antara investasi jangka panjang pada teknologi futuristik dan penguatan bisnis inti saat ini.
Menurut Peter Oey, salah satu prinsip utama dalam strategi keuangan Grab adalah menjaga portofolio investasi yang seimbang. Hal ini mencakup investasi jangka panjang pada teknologi seperti kendaraan otonom, sekaligus alokasi dana untuk memperkuat lini bisnis yang sudah berjalan. “Jika Anda perhatikan, sebenarnya kami terus membangun portofolio yang seimbang dalam hal investasi, baik untuk kendaraan otonom dalam jangka panjang, maupun investasi untuk mengembangkan bisnis kami,” ujar Peter Oey.
Pendekatan ini mencerminkan paradigma perusahaan teknologi yang tidak hanya mengejar profitabilitas jangka pendek, tetapi juga membangun posisi strategis dalam lanskap teknologi masa depan. Kendaraan otonom, misalnya, dianggap sebagai long-term bet yang dapat mengubah model bisnis transportasi secara fundamental.
Namun, di sisi lain, Grab juga terus mengalokasikan sumber daya untuk mengoptimalkan bisnis saat ini—mulai dari ride-hailing, layanan pengantaran makanan, hingga layanan keuangan digital.
Pertumbuhan Pengguna dan Fokus pada Keterjangkauan
Peter Oey juga menekankan bahwa basis pengguna Grab terus bertumbuh secara signifikan di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ini didorong oleh dua faktor utama: ekspansi geografis dan strategi keterjangkauan harga. “Saat ini jumlah pengguna Grab juga terus bertambah, kami juga mendorong aspek keterjangkauan, serta menambah lebih banyak kota di Asia Tenggara,” jelasnya.
Strategi keterjangkauan ini menjadi krusial di pasar Asia Tenggara yang sangat sensitif terhadap harga. Dengan meningkatkan efisiensi operasional dan memanfaatkan skala ekonomi, Grab berupaya menjaga tarif tetap kompetitif sekaligus meningkatkan user retention.
Ekspansi ke kota-kota baru juga menunjukkan bahwa pertumbuhan Grab tidak hanya bertumpu pada pasar metropolitan utama, tetapi juga pada kota lapis kedua dan ketiga—yang sering kali memiliki potensi pertumbuhan pengguna yang besar namun masih relatif belum tergarap.
Dalam lanskap teknologi yang volatil dan penuh disrupsi, Peter Oey menegaskan pentingnya balanced mindset dalam pengambilan keputusan strategis. “Kami akan terus mempertahankan pola pikir yang seimbang dalam mengembangkan bisnis,” katanya.
Pendekatan ini relevan bagi perusahaan teknologi yang harus menyeimbangkan antara inovasi, ekspansi, dan disiplin keuangan. Dalam konteks investor dan pasar modal, strategi semacam ini juga memberi sinyal bahwa Grab berupaya memperkuat fundamental bisnis sekaligus membangun narasi pertumbuhan jangka panjang.
Implikasi bagi Ekosistem Startup dan Investor
Strategi Grab mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi Asia Tenggara: transisi dari pertumbuhan yang didorong oleh subsidi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan. Bagi startup dan investor, pendekatan portofolio seimbang ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya diversifikasi investasi dan pengelolaan risiko.
Dengan mengombinasikan investasi futuristik dan penguatan bisnis inti, Grab berupaya menjaga relevansi jangka panjang sekaligus memastikan stabilitas keuangan saat ini—sebuah keseimbangan yang semakin krusial di era ketidakpastian ekonomi global.

