(Business Lounge Journal – General Management)
Siapa sangka, segelas kopi susu gula aren yang sering kita pesan lewat aplikasi kini resmi bertransformasi menjadi mesin pencetak profit. Kabar gembira datang dari raksasa kopi kekinian asal Indonesia, Kopi Kenangan, yang baru saja mengumumkan pencapaian bersejarah: keuntungan setahun penuh untuk pertama kalinya!
Setelah bertahun-tahun fokus pada ekspansi besar-besaran, “Kenangan” kali ini bukan lagi soal masa lalu, melainkan soal masa depan finansial yang cerah. Berdasarkan laporan keuangan terbaru untuk Tahun Fiskal 2025, Kopi Kenangan berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$184 juta. Angka ini melonjak tajam sekitar 45 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Bukti Strategi
Yang lebih membanggakan, pendapatan tersebut berhasil dikonversi menjadi laba bersih sebesar US$17 juta. Bagi sebuah perusahaan startup yang tumbuh di tengah gempuran kompetisi ketat, angka ini adalah validasi bahwa model bisnis mereka bukan sekadar “bakar uang,” melainkan sudah sangat matang dan berkelanjutan.
Apa rahasianya? Ternyata Kopi Kenangan tidak hanya jago jualan kopi, tapi juga cerdik dalam mengelola operasional. Dengan total 1.324 gerai yang tersebar di enam negara, mereka mulai melakukan pengetatan tata kelola perusahaan (governance) dan pelaporan keuangan. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan—mereka sedang bersiap untuk melantai di bursa saham alias IPO ready.
Ekspansi Global: Dari Jakarta hingga Australia
Kopi Kenangan kini bukan lagi jago kandang. Nama mereka mulai harum di pasar internasional seperti Malaysia, India, hingga Australia. Dukungan teknologi melalui aplikasi dan program loyalitas mereka terbukti ampuh, terbukti dengan tambahan 4,47 juta pelanggan baru yang bergabung dalam ekosistem mereka.
Teknologi inilah yang menjadi pembeda. Dengan aplikasi, Kopi Kenangan bisa memahami preferensi pelanggan secara presisi, membuat promosi yang lebih personal, dan pada akhirnya, menekan biaya pemasaran yang sia-sia.
Mengapa Profitabilitas Itu Penting?
Di dunia startup, banyak perusahaan yang melantai di bursa saham (IPO) saat masih rugi. Namun, memiliki rapor hijau (profit) sebelum IPO adalah sebuah keuntungan besar.
Profitabilitas memberikan kepercayaan diri kepada investor mengenai kedisiplinan arus kas perusahaan. Ini mengurangi persepsi risiko dan, yang paling penting, bisa mendongkrak valuasi perusahaan saat resmi melantai di bursa nanti. Singkatnya, Kopi Kenangan ingin masuk ke pasar saham dengan kepala tegak sebagai perusahaan yang sehat secara fundamental.
Strategi Kopi Kenangan vs Raksasa Global: Menang Banyak di “Jalan Tengah”
Kopi Kenangan tidak mencoba menjadi Starbucks berikutnya, tapi mereka juga tidak mau sekadar jadi kopi pinggir jalan. Mereka mengambil posisi “Masstige” (Mass-Prestige): Kualitas premium, tapi harga tetap ramah di kantong.
1. Model Bisnis: “Grab-and-Go” vs “Third Place”
* Starbucks: Menjual pengalaman dan tempat duduk yang nyaman (konsep Third Place). Risikonya? Biaya sewa tempat (overhead) sangat tinggi.
* Kopi Kenangan: Fokus pada gerai kecil (grab-and-go) dan pemesanan lewat aplikasi. Dengan biaya operasional per gerai yang rendah, mereka bisa membuka lebih banyak cabang dengan modal yang sama dengan satu gerai besar Starbucks. Inilah alasan kenapa mereka bisa punya 1.324 gerai dengan cepat.
2. Teknologi sebagai “Senjata Rahasia”
Kopi Kenangan punya App-First Approach.
* Data Driven: Mereka tahu persis jam berapa kamu biasanya pesan kopi dan menu apa yang kamu suka.
* Efisiensi Logistik: Teknologi mereka memungkinkan manajemen stok yang sangat ketat, sehingga minim pemborosan bahan baku—faktor kunci yang menyumbang laba US$17 juta tersebut.
3. Lokalisasi vs Standarisasi Global
* Pemain Global: Sering kali kaku dengan menu internasional mereka.
* Kopi Kenangan: Sangat adaptif. Di Indonesia, mereka merajai dengan Gula Aren. Saat masuk ke pasar seperti Malaysia atau India, mereka menyesuaikan rasa dengan lidah lokal namun tetap membawa efisiensi operasional ala startup teknologi.
4. Strategi IPO: Mengejar “Kesehatan” bukan sekadar “Ukuran”
Berbeda dengan banyak startup yang mengejar pertumbuhan jumlah gerai tanpa peduli rugi, Kopi Kenangan memilih pengetatan tata kelola (governance) sebelum IPO. Ini menunjukkan mereka belajar dari kesalahan startup lain yang ambruk setelah melantai di bursa karena fundamental yang keropos.
Kopi Kenangan menang karena mereka berhasil menggabungkan skala ekonomi (banyak gerai), loyalitas pelanggan (lewat aplikasi), dan disiplin finansial. Mereka membuktikan bahwa kopi susu lokal bisa menjadi bisnis teknologi yang sangat menguntungkan di level global.
Memasuki India dan Australia
Memasuki pasar seperti India dan Australia adalah langkah yang sangat berani sekaligus berisiko tinggi. Ibarat bermain di “liga utama”, Kopi Kenangan tidak lagi hanya bersaing dengan sesama pemain regional, tapi dengan budaya kopi yang sudah sangat mengakar. Berikut adalah analisis tantangan utama yang mungkin mereka hadapi. Meskipun sama-sama pasar besar, karakteristik keduanya bak bumi dan langit. Strategi satu ukuran untuk semua (one size fits all) tidak akan mempan di sini.
1. Australia: Menghadapi “Snobisme” Kopi Dunia
Australia, khususnya kota seperti Melbourne, adalah salah satu kiblat kopi dunia. Warganya sangat setia pada local coffee shop dan punya standar rasa yang sangat tinggi.
* Tantangan Rasa: Di sini, kopi susu gula aren mungkin dianggap terlalu manis. Warga Australia lebih menyukai flat white dengan kualitas biji kopi specialty.
* Biaya Tenaga Kerja: Upah minimum di Australia adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Model bisnis Kopi Kenangan yang mengandalkan banyak gerai harus berhadapan dengan biaya operasional (OPEX) yang membengkak.
* Strategi: Mereka harus memposisikan diri sebagai “Kopi Eksotis” atau mengandalkan kecepatan teknologi untuk pekerja kantoran yang sibuk.
2. India: Perang Harga dan Budaya Teh
India adalah pasar yang sangat sensitif terhadap harga (price sensitive) dan secara tradisional adalah peminum teh.
* Kompetisi Harga: Kopi Kenangan harus bersaing dengan harga teh di pinggir jalan yang sangat murah. Jika harganya terlalu tinggi, mereka akan sulit menjangkau massa.
* Logistik & Rantai Pasok: India memiliki tantangan logistik yang kompleks. Menjaga kualitas rasa yang konsisten di ribuan gerai di negara seluas India membutuhkan manajemen rantai pasok yang luar biasa tangguh.
* Strategi: Memanfaatkan penetrasi digital India yang masif. Dengan sistem aplikasi yang kuat, mereka bisa menarik anak muda India yang mulai melihat minum kopi sebagai gaya hidup modern.
Untuk bisa bertahan dan tetap profit di pasar ini, ada tiga hal yang harus mereka jaga:
* Adaptasi Menu: Jangan memaksakan menu Indonesia. Mereka harus berani melakukan lokalisasi rasa tanpa menghilangkan identitas “Kenangan”.
* Efisiensi Teknologi: Aplikasi mereka harus menjadi alat untuk memangkas antrean dan memberikan promosi yang sangat personal untuk menjaga retensi pelanggan.
* Disiplin Finansial: Seperti yang disebutkan di info awal, pengetatan pelaporan keuangan adalah kunci agar ekspansi ini tidak menjadi beban yang menguras laba US$17 juta yang sudah mereka raih.
Menarik untuk ditunggu apakah “Kenangan” akan sukses membuat warga Sydney atau Delhi jatuh hati.
Kita harapkan Kopi Kenangan dari Indonesia dapat menembus pasar Australia dan India tentunya!

