(Business Lounge – Global News) Levi Strauss & Co. mulai menunjukkan hasil dari strategi transformasi yang dijalankannya dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan pakaian asal Amerika Serikat itu melaporkan kenaikan penjualan kuartalan, menandai momentum positif dari upaya memperluas bisnis di luar produk denim yang selama ini menjadi identitas utamanya. Meski jeans tetap menjadi tulang punggung, fokus perusahaan kini semakin jelas bergeser ke portofolio pakaian yang lebih beragam demi menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Dalam laporan keuangan terbarunya, Levi Strauss mencatat pertumbuhan penjualan yang melampaui ekspektasi pasar. Kinerja ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap produk non-denim seperti kaus, jaket, pakaian kasual, hingga lini busana yang menyasar gaya hidup sehari-hari. Menurut Reuters, manajemen menyebut strategi diversifikasi produk mulai membuahkan hasil, seiring perubahan selera konsumen yang tidak lagi terpaku pada jeans sebagai pilihan utama.
Perubahan arah ini bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, Levi’s dikenal sebagai simbol denim klasik, namun ketergantungan berlebihan pada satu kategori membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi tren mode. Ketika permintaan jeans melambat, terutama di pasar Amerika Utara dan Eropa, pertumbuhan Levi ikut tertahan. Menyadari hal tersebut, manajemen mulai mendorong transformasi dengan memperluas lini produk dan memperkuat posisi sebagai merek gaya hidup, bukan sekadar produsen celana jeans.
Strategi tersebut kini mulai terlihat hasilnya. Penjualan pakaian non-denim tumbuh lebih cepat dibandingkan produk inti, mencerminkan keberhasilan Levi menarik konsumen baru sekaligus meningkatkan belanja per pelanggan. Menurut Bloomberg, koleksi atasan kasual dan pakaian santai menjadi kontributor utama pertumbuhan, seiring meningkatnya permintaan akan busana yang nyaman namun tetap bergaya pascapandemi.
Selain diversifikasi produk, Levi juga memperkuat kanal penjualan langsung ke konsumen. Penjualan melalui toko resmi dan platform digital terus meningkat, membantu perusahaan mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga dan meningkatkan margin keuntungan. Strategi ini sejalan dengan tren industri fesyen global, di mana merek-merek besar berlomba membangun hubungan lebih dekat dengan pelanggan melalui kanal daring dan pengalaman belanja yang lebih personal.
Manajemen Levi menilai perubahan perilaku konsumen menjadi peluang besar. Konsumen kini lebih selektif, mencari produk yang tidak hanya modis tetapi juga fungsional dan bernilai jangka panjang. Dengan memperluas portofolio, Levi berharap dapat menjangkau segmen yang lebih luas, termasuk generasi muda yang cenderung fleksibel dalam memilih gaya berpakaian. Seperti dicatat Financial Times, pendekatan ini juga membantu Levi bersaing dengan merek fast fashion dan pemain athleisure yang semakin agresif.
Dari sisi keuangan, perbaikan penjualan ini memberikan sinyal positif bagi upaya pemulihan perusahaan. Setelah sempat tertekan oleh inflasi, biaya logistik tinggi, dan perubahan pola belanja global, Levi kini mulai menikmati stabilisasi permintaan. Pengendalian biaya dan manajemen persediaan yang lebih disiplin turut membantu menjaga profitabilitas, meskipun tekanan dari biaya produksi belum sepenuhnya mereda.
Namun tantangan tetap ada. Industri pakaian masih menghadapi ketidakpastian akibat kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Konsumen di banyak negara masih berhati-hati dalam berbelanja, terutama untuk produk fesyen yang bersifat discretionary. Selain itu, persaingan dengan merek lokal dan global yang menawarkan harga lebih kompetitif tetap menjadi ancaman bagi margin Levi.
Meski demikian, analis melihat langkah Levi untuk keluar dari ketergantungan pada denim sebagai keputusan strategis yang tepat. Dengan portofolio produk yang lebih seimbang, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar untuk beradaptasi dengan perubahan tren. Menurut Reuters, fokus pada inovasi produk dan perluasan kategori menjadi kunci agar Levi tetap relevan di tengah dinamika industri mode yang cepat berubah.
Levi berencana terus mengembangkan koleksi non-denim sambil mempertahankan kekuatan merek ikoniknya. Perusahaan juga akan melanjutkan investasi pada pemasaran digital dan penguatan rantai pasok agar lebih responsif terhadap permintaan pasar. Upaya ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Bagi investor, kinerja terbaru ini memberikan sinyal bahwa strategi transformasi Levi mulai berada di jalur yang tepat. Meski tantangan makroekonomi belum sepenuhnya hilang, kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dan membaca perubahan selera konsumen menjadi modal penting. Seperti dicatat Bloomberg, keberhasilan Levi tidak lagi hanya bergantung pada seberapa laku celana jeans mereka, tetapi seberapa cepat perusahaan mampu berevolusi menjadi merek gaya hidup yang relevan di era modern.

