brag book

Saatnya Mulai Membanggakan Diri Sendiri di Tempat Kerja Dengan Brag Book

(Business Lounge – Human Resources) Para pembully di sekolah menengah dalam film Mean Girls menyimpan sebuah “burn book” berisi gosip yang bisa digunakan untuk menghancurkan reputasi orang lain. Kini konsep itu bisa dibalik dengan mulai menyimpan “brag book”, yakni catatan pencapaian profesional yang dapat meningkatkan posisi seseorang di tempat kerja.

Brag book dapat dipandang sebagai amunisi untuk maju dalam karier, yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dari upaya memenangkan kontes popularitas. Persepsi memegang peranan penting dalam dunia kerja.

Hal ini semakin relevan ketika perusahaan yang berupaya meningkatkan efisiensi mulai menuntut bukti nyata atas kontribusi karyawan. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkontribusi secara diam-diam. Menjadi sosok yang terlihat sebagai anggota tim kunci menjadi penting, terutama dengan menonjolkan pencapaian sendiri alih-alih membicarakan kekurangan rekan kerja.

Amazon.com, yang mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 16.000 karyawan pada Rabu ini, dilaporkan meminta para pegawainya menyerahkan tiga hingga lima contoh hasil kerja terbaik mereka. Langkah ini mengikuti permintaan Pemimpin Redaksi CBS News, Bari Weiss, yang meminta stafnya menjelaskan bagaimana mereka menghabiskan waktu kerja, serta permintaan dari Department of Government Efficiency agar pegawai pemerintah mencantumkan pencapaian mereka.

Terlepas dari ada atau tidaknya instruksi semacam itu, tekanan untuk membuktikan nilai diri semakin besar seiring berkembangnya kecerdasan buatan. Setelah periode perekrutan besar-besaran dan fleksibilitas kerja jarak jauh, dunia kerja kini memasuki fase koreksi yang ditandai oleh pemutusan hubungan kerja dan pengawasan yang lebih ketat.

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan mempresentasikan diri menjadi semakin penting. Meski membanggakan diri sendiri terasa tidak nyaman, mencatat dan mengomunikasikan keberhasilan di tempat kerja merupakan cara untuk mengendalikan narasi profesional. Mereka yang membiasakan diri melakukan hal ini sering menyebut kumpulan pencapaian tersebut sebagai “brag binder”, “yay folder”, atau “smile file”.

Apa pun sebutannya, memiliki catatan semacam ini akan sangat membantu ketika tiba saatnya menjalani evaluasi kinerja, mengikuti proses promosi, atau melamar pekerjaan baru.

Dalam konteks penyusunan résumé, brag book menjadi alat yang sangat berguna.  Salah satu pencari kerja menyampaikan bahwa dirinya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat dan sudah memasuki minggu keempat bekerja. Namun, kondisi tersebut sebenarnya bukan hal yang lazim di pasar kerja kerah putih saat ini, yang umumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan dan banyak lamaran. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kebiasaannya menyimpan “yay folder” di tempat kerja sebelumnya, yang memudahkannya menyusun profil kandidat yang kuat.

Meski tidak ada jaminan kesuksesan, catatan berkelanjutan tentang pencapaian dapat sangat membantu, terutama ketika aturan penulisan résumé terus berubah. Semakin banyak perusahaan menggunakan perangkat lunak untuk memindai kata kunci, sehingga pelamar pun menyesuaikan diri dengan mencantumkan uraian dampak kerja yang lebih rinci.

Mengisi folder pencapaian terkadang berarti meminta pengakuan secara terbuka, sesuatu yang sering terasa canggung. Seorang karyawan di perusahaan perangkat lunak besar mengungkapkan bahwa ia sempat merasa gugup saat meminta manajernya memberikan apresiasi secara terbuka. Ia melihat rekannya mendapat pengakuan di Slack setelah menyelesaikan program sertifikasi, dan karena ia juga meraih sertifikat yang sama, ia berharap memperoleh pengakuan serupa.

Ia kemudian menjelaskan kepada manajernya bahwa pengakuan tersebut penting bukan demi pujian semata, melainkan untuk membangun catatan tertulis tentang pencapaian yang dapat dijadikan referensi oleh pimpinan senior saat mengambil keputusan promosi di masa depan.

Di sisi lain, penting pula disadari bahwa para atasan berada dalam tekanan besar. Manajer tingkat menengah sering menjadi pihak pertama yang terdampak ketika organisasi melakukan perampingan, sementara mereka yang bertahan harus menanggung beban kerja yang lebih berat. Proses evaluasi dan promosi, yang dalam kondisi normal saja sudah menantang, kini menjadi jauh lebih rumit.

Menyajikan daftar pencapaian memang bisa terasa seperti menyombongkan diri, tetapi hal tersebut justru dapat membantu manajer yang kewalahan. Seorang Pelatih eksekutif menjelaskan bahwa jika seseorang merasa tidak nyaman menulis satu laporan kinerja, maka perlu membayangkan betapa beratnya tugas manajer yang harus menulis banyak laporan sekaligus. Menurutnya, tugas karyawan saat masa evaluasi adalah mempermudah pekerjaan manajer dalam menyusun penilaian.

Alasan lain pentingnya memiliki brag book adalah untuk menghindari bias kebaruan. Atasan cenderung mengingat pekerjaan yang dilakukan baru-baru ini, sementara pencapaian beberapa bulan sebelumnya kerap terlupakan. Dengan mencatatnya sejak awal, seseorang tidak akan lupa menyebutkan kontribusi penting yang pernah dibuat.

Penting mencatat informasi kualitatif. Banyak perusahaan sudah memiliki metrik kinerja yang jelas, sehingga manajer umumnya mengetahui capaian angka karyawan. Namun, apresiasi tertulis dari klien, misalnya, dapat menjadi bukti konkret atas keterampilan interpersonal yang tidak selalu tercermin dalam angka.

Daftar pencapaian juga berfungsi sebagai penguat kepercayaan diri. Seorang karyawan lain, misalnya, meninggalkan pekerjaannya pada musim gugur lalu tanpa memiliki tawaran kerja atau jadwal wawancara. Ia hanya membawa brag binder miliknya. Dua puluh hari kemudian, ia sudah memulai pekerjaan baru di bidang penjualan.

Bahkan ketika tidak sedang mencari pekerjaan,  terkadang membuka kembali binder tersebut untuk membangun kembali rasa percaya diri pada hari-hari yang sulit. Ia pernah menyampaikan bahwa ia bahkan terpikir untuk membuat brag binder khusus bagi kehidupan pribadinya.

Memiliki catatan tentang hal-hal baik yang pernah dicapai merupakan alasan mengapa banyak orang menulis buku harian atau jurnal. Kebiasaan yang sama, jika diterapkan di dunia kerja, dapat memberikan manfaat yang tidak kalah besar.