Business Acumen pada Saat Krisis

(Business Lounge Journal – Manage Your Business) Ketika krisis tiba, kemampuan bisnis seseorang akan terasah melalui kecermatan melihat pasar dan menawarkan produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Inilah yang dikenal dalam dunia manajemen sebagai business acumen. Bill gates dan Steve jobs, misalnya, terkenal memiliki business acumen yang tajam, karena bisnisnya terbukti memiliki bisnis yang tetap sustain menghadapi krisis. Inilah yang perlu dipahami bahwa seorang yang memiliki ketajaman dalam business acumen mampu menciptakan bisnis yang tahan melalui krisis.

Apapun jenis bisnis yang diciptakan untuk dapat bertahan menghadapi krisis, diperlukan kemampuan selalu menghasilkan cash. Pengalaman saya memperlihatkan bahwa seorang pemilik perusahaan paling perduli dengan tersedianya uang tunai. Mulai dari pemilik toko kelontong di Tanah Abang sampai dengan konglomerat pemilik ratusan perusahaan akan kewalahan kalau uang tunai tidak ada. Jadi indikator seseorang memiliki ketajaman bisnis adalah memiliki kemampuan menghasilkan uang tunai dan itu berlangsung terus menerus bukan hanya sekali-sekali saja. Semakin banyak uang tunai dihasilkan dalam jangka pendek semakin tinggi ketajaman bisnis pemiliknya.

Setelah uang tunai, yang kedua adalah volume, kuantitas penjualan merupakan indikator di belakang uang tunai. Semakin banyak kuantitas penjualan yang dihasilkan tentunya semakin besar nilai uang tunai yang dimiliki. Tingginya volume penjualan terjadi karena keberhasilan dalam menemukan prospek dan bila penjualan mengalir bak air, prospek yang dibutuhkan tentulah sangat banyak, dengan ketajaman bisnis prospek akan datang sendirinya bukan dicari lagi.

Indikator ketiga adalah marjin yang didapat dari selisih penjualan dan biaya, angka marjin mestinya dipengaruhi sekali oleh ketajaman bisnis pemiliknya. Kesalahan dalam menetapkan besarnya marjin akan membuat gagal dalam bisnis. Marjin yang menarik pembeli tidak selalu harus kecil, dalam produk-produk yang memiliki keunikan seperti Apple marjinnya bisa lebih tinggi dari produk sejenis, namun karena menampilkan kualitas yang unik tetap terjual keras di pasar.

Setelah uang tunai, volume, dan marjin maka indikator yang keempat adalah growth atau pertumbuhan bisnis. Pertumbuhan bisnis merupakan keinginan semua pemilik bisnis, bisnis yang tidak bertumbuh pada akhirnya akan ditinggalkan dan memang secara alami akan mengalami kebangkrutan. Karena itu ketajaman bisnis seseorang ditentukan apakah sebuah bisnis akan bertumbuh atau tidak.

Keempat indikator ini merupakan tolok ukur bagi seorang pebisnis yang memiliki business acumen. Pertanyaannya apakah kemampuan ini bisa dilatih? Tentu dapat, prosesnya sederhana bahwa setiap pegawai siapapun mereka disadarkan terlebih dahulu setiap pekerjaannya berdampak secara keuangan, baru selanjutnya diajarkan menggunakan pendekatan menemukan aspek bisnis untuk keberhasilan dalam pengelolaan pekerjaan. Latihan ini akan mengembangkan kemampuan bisnis apabila selalu digunakan dan dihubungkan dengan kinerja perusahaan, maka dalam waktu singkat akan tercipta ketajaman bisnis yang pada akhirnya membuat perusahaan melewati krisis.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/VMN/BD/Regional Head-Vibiz Research Center, Vibiz Consulting, Vibiz Consulting Group

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x