(Business Lounge Journal – Manage Your Business) Empat tahun yang lalu saya masih jadi anak kos. Saat itu saya merasakan betapa mudahnya membeli kebutuhan sehari-hari, tanpa perlu beranjak terlalu jauh dari tempat kos.
Belakangan saya menyadari bahwa ketika itu saya tengah berada di era perang ritel: ritel tradisional vs ritel modern. Meski begitu, merujuk data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), omzet bisnis ritel Indonesia, baik ritel tradisional maupun modern, terus tumbuh. Selama tahun 2014, misalnya, omzet bisnis ritel Indonesia mencapai Rp165 triliun, atau masih tumbuh 10% ketimbang tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa bisnis ritel Indonesia masih memainkan peran penting dalam menyangga perekonomian nasional.
Menariknya, menurut The Nielsen Company Indonesia, di tengah gempuran ritel modern dengan segala fasilitas dan kenyamanannya, ternyata ritel tradisional Indonesia lebih banyak dikunjungi dan lebih hidup dibandingkan ritel-ritel sejenis di Asia. Contohnya, ritel tradisional di Indonesia rata-rata dikunjungi sebanyak 25 kali per bulan, sementara di Filipina lebih sedikit, yakni 24 kali per bulan.
Persaingan Kian Sengit
Dalam mengelola bisnisnya, peritel tradisional kerap menemui sejumlah kendala. Di antaranya, dalam mendapatkan barang dagangan. Oleh karena tidak bisa membeli dalam volume besar, diskon yang mereka peroleh pun terbatas. Ini menyebabkan harga jual produknya kerap kalah kompetitif dibandingkan dengan ritel modern.
Meski begitu saat ini ritel tradisional masih menguasai 70% pangsa pasar bisnis ritel Indonesia. Namun, melihat begitu agresifnya serbuan ritel modern, sanggupkah mereka bertahan?
Apalagi memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan seiring membaiknya perekonomian Indonesia pada tahun-tahun mendatang, diperkirakan semakin banyak ritel modern dari luar yang masuk ke Indonesia. Sementara, para pemain lama juga akan terus ekspansi.
Kondisi semacam ini membuat kompetisi di bisnis ritel akan menjadi semakin sengit. Semua pemain akan menerapkan berbagai strategi untuk memenangkan persaingan. Kadang dengan cara-cara yang tidak fair.
Saya berharap adanya UU No. 5/1999 tentang anti monopoli dan persaingan tidak sehat mampu menjaga iklim persaingan di bisnis ritel agar tetap sehat.
Retail Mix
Sejatinya ritel modern dalam bentuk minimarket atau convenience store merupakan metamorfosa dari toko kelontong, tetapi dengan menawarkan kenyamanan lebih. Dari sisi ukuran, luasannya mulai dari 100 meter persegi hingga 999 meter persegi, dan beroperasi selama 24 jam.
Di Indonesia, ritel modern terus tumbuh. Jika pada tahun 2007 total gerainya hanya 8.889 unit, tiga tahun kemudian melonjak menjadi 15.538 unit. Itu berarti tumbuh hampir 75%. Pertumbuhan bisnis ini didominasi oleh brand Indomaret dan Alfamart.
Dengan pergerakannya yang begitu agresif, baik melalui pengelolaan sendiri atau sistem waralaba, bukan tak mungkin pangsa pasar minimarket, dan ritel modern pada umumnya, bakal mendekati pangsa pasar ritel tradisional. Lalu, akankah gempuran ritel modern membuat warung tradisional tumbang?
Banyak pendapat bahwa ritel tradisional mulai ditinggalkan pembelinya. Ritel tradisional dianggap tak mampu bertahan karena miskin manajemen, kumuh, tidak nyaman dan kurang modal.
Betulkah?
Dalam bisnis ritel dikenal konsep retail mix yang terdiri dari place, product, price, promotion, people, procedure. Retail mix adalah kunci sukses bisnis retail.
Merujuk pada konsep ini, salah satu keunggulan ritel tradisional adalah dari segi place atau lokasi yang mudah diakses. Lokasi ritel tradisional kebanyakan berada di tengah-tengah pemukiman dengan konsep rumah yang dijadikan tempat usaha. Sedangkan ritel modern cenderung berada di lokasi yang strategis, seperti di pinggir jalan utama atau ruko.
Berikutnya adalah dari sisi procedure. Ritel modern menerapkan konsep swalayan, di mana pembeli leluasa memilih dan mengambil produk sesuai kebutuhannya, melakukan pembayaran di kasir baik secara tunai atau memakai kartu debit.
Sementara, ritel tradisional menjual kultur. Maksudnya, pembeli akan dilayani baik oleh penjaga toko atau bahkan sang pemilik. Momen ini dapat dipakai sebagai akses untuk memaksimalkan pelayanan atau melakukan interaksi langsung, sehingga personal approach–nya lebih terasa.
Bukan hanya itu. Ritel tradisional juga bisa menerima pembelian sistem ‘tempo’ (kas bon). Ini karena kedekatan penjual dengan pembeli. Hal inilah yang tidak bisa dilakukan di ritel modern. Jika ritel tradisional mampu memanfaatkan karakter uniknya tersebut, saya optimis bisnis ritel tradisional akan mampu bertahan di tengah gempuran ritel modern.
Tyas Seputro/VMN/BL/Podomoro University
Editor: Ruth Berliana

