TotalEnergies

TotalEnergies Menyiapkan Mesin Pertumbuhan Hingga 2035

(Business Lounge – Global News) Dunia energi sedang memasuki fase yang semakin rumit. Permintaan minyak dan gas belum menghilang, sementara kebutuhan listrik tumbuh cepat seiring elektrifikasi, pusat data, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan ekspansi industri. Di tengah perubahan tersebut, TotalEnergies memilih untuk tidak meninggalkan bisnis hidrokarbon secara cepat, tetapi juga tidak bertahan hanya sebagai perusahaan minyak dan gas. Rencana pertumbuhan hingga 2035 yang diumumkan perusahaan Prancis tersebut menunjukkan sebuah strategi dua arah: mempertahankan produksi energi fosil yang dianggap kompetitif sekaligus memperbesar bisnis listrik. The Wall Street Journal melaporkan bahwa TotalEnergies menargetkan investasi bersih sekitar US$14 miliar hingga US$17 miliar per tahun pada 2027–2032 untuk menopang ekspansi tersebut.

Untuk periode yang lebih dekat, TotalEnergies mempertahankan target pertumbuhan produksi energi sekitar 4% per tahun sampai 2030. Pertumbuhan itu berasal dari kombinasi minyak, gas, dan listrik, dengan produksi minyak dan gas ditargetkan meningkat lebih dari 3% per tahun sepanjang 2025–2030. Yang menarik adalah perubahan bobot bisnis listrik. TotalEnergies memperkirakan pembangkitan listrik tumbuh lebih dari 20% per tahun dan mencapai sekitar 100–120 TWh per tahun pada 2030. Dengan demikian, listrik diproyeksikan menyumbang sekitar 20% dari bauran energi perusahaan pada akhir dekade ini, jauh lebih besar dibanding posisi bisnis tersebut dalam struktur TotalEnergies beberapa tahun lalu.

Namun, strategi itu tidak berarti minyak dan gas akan ditinggalkan setelah 2030. Justru di situlah salah satu bagian penting dari rencana jangka panjang TotalEnergies. Perusahaan memperkirakan produksi minyak dan gas dapat bertahan pada tingkat sekitar 3 juta barel setara minyak per hari hingga 2035, dengan peluang pertumbuhan sekitar 2–3% per tahun selama 2030–2035. Portofolio proyek di Namibia, Nigeria, Libya, Malaysia, Mozambik, dan Papua Nugini menjadi bagian dari dasar perencanaan tersebut. Bagi TotalEnergies, cadangan yang tersedia dan proyek yang sudah dikembangkan memberikan ruang untuk mempertahankan bisnis hidrokarbon sambil tetap mengalokasikan modal ke listrik dan energi rendah karbon.

Gas, terutama liquefied natural gas atau LNG, memiliki posisi khusus dalam strategi tersebut. TotalEnergies melihat LNG bukan sekadar kelanjutan dari bisnis gas tradisional, tetapi sebagai bagian penting dari model energi perusahaan karena dapat diperdagangkan lintas negara dan digunakan untuk menopang sistem listrik yang semakin bergantung pada energi terbarukan. Dalam pandangan perusahaan, pembangkit listrik berbahan bakar gas dapat memberikan fleksibilitas ketika produksi energi surya dan angin berubah mengikuti cuaca. Strategi ini membuat TotalEnergies berusaha menggabungkan dua karakter bisnis yang sering dipandang berlawanan: hidrokarbon sebagai sumber arus kas dan listrik sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.

Di sisi listrik, ambisinya bahkan lebih besar setelah 2030. TotalEnergies menargetkan tambahan pembangkitan listrik bersih sekitar 10–12 TWh per tahun sepanjang 2030–2035. Dengan laju tersebut, listrik diperkirakan mencapai sekitar 25% dari bauran energi perusahaan pada 2035. Model yang dibangun bukan hanya pembangkit energi terbarukan, tetapi juga kombinasi antara energi terbarukan, pembangkit fleksibel berbahan bakar gas, penyimpanan baterai, perdagangan listrik, dan aktivitas lain dalam rantai nilai listrik. Pendekatan terintegrasi ini dirancang agar perusahaan tidak sekadar menjual energi, tetapi juga menangkap nilai dari berbagai tahap bisnis kelistrikan.

Rencana tersebut juga memiliki dimensi keuangan yang sangat jelas. TotalEnergies memperkirakan pertumbuhan produksi baru yang menghasilkan arus kas akan menambah sekitar US$10 miliar free cash flow antara 2025 dan 2030, dengan asumsi harga energi yang sama. Perusahaan juga menyatakan ingin meningkatkan dividen lebih dari 5% per tahun hingga 2030, sekaligus mempertahankan pengembalian kepada pemegang saham sedikitnya 40% dari arus kas. Pada kuartal IV 2026, dewan perusahaan mengotorisasi pembelian kembali saham senilai US$2,5 miliar, disusul rencana US$2–2,5 miliar pada kuartal pertama 2027. Reuters mencatat bahwa kebijakan tersebut muncul ketika harga minyak dan kinerja perdagangan energi mendukung arus kas perusahaan.

Yang membuat strategi TotalEnergies menarik adalah cara perusahaan membaca masa depan energi bukan sebagai pergantian sederhana dari minyak menuju energi terbarukan. Dunia kemungkinan membutuhkan lebih banyak listrik, tetapi kebutuhan tersebut tidak otomatis membuat minyak dan gas hilang dalam waktu singkat. Industri, penerbangan, pelayaran, petrokimia, dan sejumlah aktivitas ekonomi lainnya masih membutuhkan molekul energi yang sulit digantikan listrik. Pada saat yang sama, pusat data, pendingin udara, kendaraan listrik, dan industrialisasi meningkatkan kebutuhan listrik. TotalEnergies mencoba menempatkan dirinya di kedua sisi perubahan tersebut, dengan mempertahankan hidrokarbon yang dianggap memiliki biaya rendah dan emisi operasi lebih rendah sambil memperbesar portofolio listrik.

Strategi hingga 2035 itu pada akhirnya menggambarkan bagaimana perusahaan energi besar sedang mengubah definisi bisnisnya. TotalEnergies tidak lagi hanya menghitung berapa banyak barel minyak yang dapat diproduksi, tetapi juga berapa banyak listrik yang dapat dibangkitkan, bagaimana arus kas dari hidrokarbon dapat membiayai ekspansi listrik, serta bagaimana portofolio energi yang berbeda dapat membuat perusahaan lebih tahan terhadap perubahan siklus komoditas. TotalEnergies menyebut pendekatan ini sebagai strategi multi-energi yang bertumpu pada dua pilar utama, yakni minyak dan gas—khususnya LNG—serta Integrated Power.

Jika rencana tersebut berjalan sesuai sasaran, wajah TotalEnergies pada 2035 akan berbeda dari perusahaan minyak tradisional, tetapi juga belum menjadi perusahaan listrik murni. Hidrokarbon masih menjadi sumber produksi dan arus kas penting, sementara listrik mengambil porsi yang semakin besar dalam bauran bisnis. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan modal: terlalu agresif mempertahankan hidrokarbon dapat menghadapkan perusahaan pada perubahan kebijakan dan permintaan energi, sementara ekspansi listrik membutuhkan investasi besar serta kemampuan mengelola bisnis yang berbeda dari eksplorasi dan produksi minyak. Karena itu, rencana 2035 TotalEnergies bukan sekadar target produksi, melainkan taruhan bahwa masa depan energi akan berlangsung dalam bentuk campuran—dan perusahaan yang mampu mengelola campuran tersebut dapat mempertahankan pertumbuhan sekaligus beradaptasi dengan perubahan struktur energi global.