(Business Lounge – Global News) Devon Energy membukukan penurunan laba dan pendapatan pada kuartal terbaru, tepat ketika perusahaan bersiap melangkah ke fase strategis berikutnya melalui merger dengan Coterra Energy. Kinerja yang melemah ini mencerminkan dinamika harga energi yang lebih volatil serta tekanan biaya operasional di sektor minyak dan gas Amerika Serikat.
Perusahaan melaporkan laba bersih sebesar US$562 juta, atau 90 sen per saham, turun dibandingkan US$639 juta, atau 98 sen per saham, pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi di tengah fluktuasi harga minyak mentah dan gas alam yang memengaruhi realisasi pendapatan produsen hulu.
Turunnya laba bersih sejalan dengan pelemahan pendapatan, yang mencerminkan kombinasi antara harga komoditas yang lebih rendah dan penyesuaian volume produksi. Sektor energi dalam beberapa kuartal terakhir menghadapi tekanan dari ketidakpastian permintaan global, kebijakan produksi negara-negara OPEC+, serta perubahan ekspektasi suku bunga yang berdampak pada aktivitas ekonomi.
Bagi Devon, hasil ini datang pada momen krusial. Merger dengan Coterra dirancang untuk menciptakan entitas dengan skala lebih besar, portofolio aset yang lebih terdiversifikasi, serta potensi efisiensi biaya yang signifikan. Konsolidasi di industri energi AS memang menjadi tren, terutama di kawasan shale seperti Permian Basin, di mana skala produksi dan efisiensi operasional menjadi kunci daya saing.
Manajemen Devon sebelumnya menekankan bahwa penggabungan ini bertujuan memperkuat neraca keuangan dan meningkatkan arus kas bebas, sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengelola belanja modal. Dengan ukuran yang lebih besar, perusahaan gabungan diharapkan mampu mengoptimalkan infrastruktur, memangkas biaya per barel, dan meningkatkan daya tawar dalam rantai pasok.
Penurunan laba saat ini tidak serta merta mengubah arah strategis tersebut. Investor energi umumnya memahami bahwa kinerja kuartalan sangat dipengaruhi siklus harga komoditas. Yang lebih diperhatikan adalah struktur biaya, tingkat produksi, serta disiplin alokasi modal.
Di tengah volatilitas harga gas alam—yang dalam beberapa periode mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan domestik—perusahaan-perusahaan hulu berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan produksi dan pengembalian kepada pemegang saham. Devon selama ini dikenal dengan kebijakan dividen variabel yang mengaitkan distribusi kepada pemegang saham dengan arus kas.
Merger dengan Coterra juga dipandang sebagai langkah untuk memperkuat posisi di beberapa wilayah produksi utama, menggabungkan keahlian operasional serta cadangan yang saling melengkapi. Dalam konteks industri, skala yang lebih besar dapat membantu perusahaan bertahan ketika harga melemah, sekaligus memaksimalkan keuntungan saat harga pulih.
Pasar kini akan mencermati bagaimana integrasi kedua perusahaan berjalan, termasuk realisasi sinergi biaya dan dampaknya terhadap struktur utang. Selain itu, faktor eksternal seperti kebijakan energi AS, dinamika ekspor LNG, serta pergerakan harga minyak global tetap menjadi variabel penting.
Penurunan laba dari US$639 juta menjadi US$562 juta memang menunjukkan tekanan jangka pendek. Namun bagi pelaku industri energi, fase seperti ini sering kali menjadi pendorong konsolidasi dan efisiensi. Jika merger dengan Coterra berhasil menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif dan portofolio aset yang lebih kuat, Devon berpotensi memasuki siklus berikutnya dengan fondasi yang lebih kokoh.
Dengan demikian, laporan kuartalan ini tidak hanya menjadi cerminan kinerja saat ini, tetapi juga latar belakang penting bagi transformasi korporasi yang sedang berlangsung di salah satu sektor paling siklikal di ekonomi global.

