Berkshire

Berkshire Hathaway Pangkas Saham Apple dan Bank of America, Tambah Posisi di The New York Times

(Business Lounge – Global News) Pada kuartal terakhir kepemimpinan Warren Buffett sebagai CEO, Berkshire Hathaway kembali menyesuaikan portofolio investasinya dengan memangkas kepemilikan di dua raksasa Amerika—Apple dan Bank of America—serta membangun posisi baru di The New York Times.

Langkah ini mencerminkan dinamika strategi investasi menjelang berakhirnya era Buffett di pucuk pimpinan. Selama bertahun-tahun, Apple menjadi salah satu taruhan terbesar dan paling menguntungkan bagi Berkshire. Investasi di pembuat iPhone tersebut bahkan sempat mendominasi portofolio ekuitas perusahaan, menjadikannya jangkar utama nilai aset bersih konglomerat yang berbasis di Omaha itu.

Namun dalam beberapa kuartal terakhir, Berkshire secara bertahap mengurangi eksposur terhadap Apple. Pemangkasan lanjutan pada periode ini menunjukkan pendekatan yang lebih konservatif, kemungkinan terkait dengan manajemen risiko konsentrasi atau realisasi keuntungan setelah reli panjang saham teknologi.

Apple tetap menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, dengan ekosistem produk dan layanan yang menghasilkan arus kas besar. Meski demikian, fluktuasi pasar, tekanan regulasi global, serta ketergantungan pada siklus pembaruan perangkat menjadi faktor yang diperhitungkan investor jangka panjang seperti Buffett.

Selain Apple, Berkshire juga memangkas kepemilikannya di Bank of America—salah satu investasi sektor keuangan terbesar dalam portofolionya. Buffett dikenal lama sebagai pendukung kuat perbankan Amerika, memanfaatkan momen krisis finansial untuk masuk pada valuasi menarik. Namun perubahan lingkungan suku bunga, regulasi perbankan yang lebih ketat, dan dinamika ekonomi makro dapat memicu reposisi strategis.

Di sisi lain, penambahan saham di The New York Times memberi sinyal menarik. Media tersebut telah bertransformasi dalam satu dekade terakhir, dari bisnis cetak tradisional menjadi perusahaan berbasis langganan digital dengan jutaan pelanggan global. Model pendapatan yang lebih stabil dari subscription serta diversifikasi produk—termasuk audio, permainan digital, dan konten gaya hidup—membuatnya lebih tahan terhadap tekanan iklan siklikal.

Bagi Berkshire, investasi di media bukan hal baru, meski dalam beberapa tahun terakhir perusahaan lebih fokus pada sektor energi, asuransi, dan industri. Masuknya The New York Times bisa dibaca sebagai taruhan terhadap bisnis konten premium dengan basis pelanggan loyal dan arus kas berulang.

Penyesuaian portofolio ini terjadi pada momen simbolis: kuartal terakhir Buffett sebagai CEO. Selama lebih dari enam dekade, ia membangun reputasi sebagai investor nilai dengan disiplin luar biasa, menekankan fundamental kuat, manajemen berkualitas, dan keunggulan kompetitif berkelanjutan. Transisi kepemimpinan di Berkshire menjadi perhatian pasar, mengingat ukuran perusahaan dan pengaruhnya yang luas.

Greg Abel, yang selama ini digadang sebagai penerus, akan menghadapi tantangan menjaga filosofi investasi yang sama sambil beradaptasi dengan lanskap ekonomi yang berubah cepat—mulai dari transformasi digital hingga volatilitas geopolitik.

Bagi investor, langkah memangkas Apple dan Bank of America sekaligus menambah posisi di The New York Times memperlihatkan keseimbangan antara realisasi keuntungan dan diversifikasi. Berkshire dikenal memiliki cadangan kas besar, memberi fleksibilitas untuk bergerak oportunistik ketika valuasi pasar berubah.

Secara lebih luas, reposisi ini menunjukkan bahwa bahkan investasi “inti” sekalipun tidak kebal dari evaluasi ulang. Buffett sendiri kerap menekankan bahwa disiplin dan rasionalitas lebih penting daripada keterikatan emosional terhadap saham tertentu.

Kini, ketika satu era kepemimpinan mendekati akhir, pasar menilai setiap gerakan Berkshire bukan sekadar transaksi finansial, melainkan bagian dari warisan strategi investasi yang telah membentuk generasi investor global.